Wah mas Eko sepertinya hanya menyoroti dari sisi
negatifnya saja. Padahal banyak sekali keuntungan dari
integrasi perbankan nasional. Okaylah kita tidak usah
berpikir dari sisi keuntungan bank tapi dari sisi
keuntungan buat negara. Problem mendasar dari
perangkat keras IT terutama untuk data communication,
adalah mahalnya perangkat keras. Perangkat keras yang
ada hingga saat ini banyak yang merupakan produk
import. Kita terpaksa mengimport lantaran memang kita
belum memiliki industri perangkat keras(Data
communication) yang tingkat kandungan lokalnya>50%,
 kebanyakan masih <20%. Untuk IC saja misalnya,
kebanyakan IC yang ada itu made in Taiwan ,
Malaysia... Sementara IC buatan Indonesia? kayaknya
kok nggak ada.... Menurut informasi kawan saya, dulu
sempat ada IC yang diproduksi Indonesia merknya
Farichild tapi kini sudah bangkrut. Nah kalo komponen
perangkat keras dari luar negeri semua apa nggak jadi
beban keuangan negara? Sebagai contooh untuk 1 Router
merk CISCO 2500 saja kita harus mengeluarkan uang dari
kocek kita minimal $800. Seperti mas Eko bilang
sendiri bahwa perbankan nasional banyak mencekik
rakyat... nah kalo sistem komunikasi data mereka
diintegrasikan, minimal mereka tidak mencekik rakyat
lagi. Masalah potongan untuk transaksi antar bank itu
sebenarnya bisa diatur oleh UU (Dibicarakan di DPR).
Jadi jangan apriori dulu.
 
--- Eko W Raharjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> 
> >On Sat, 13 Nov 1999, HERI HERWANGGONO wrote:
> >Ada hal yang cukup menarik untuk diperhatikan
> >dilikungan perbankan nasional. Hingga saat ini
> telah
> >terjadi pemborosan investasi dalam bidang perangkat
> >keras. Pemborosan tersebut meliputi pemborosan
> sarana
> >ATM &  Sarana Telekomunikasi. Selama ini perbankan
> >memiliki jaringan telekomunikasi & ATM yang tidak
> >terintegrasi/Terpisah antara satu bank dengan bank
> >yang lain.
> 
> EWR:
> 
> Bank Oh Bank How Lucky You Are!
> *****************************
> 
> Dari media dapat diketahui bahwa masyarakat disini
> (north America) pada mulai muak dengan kerakusan
> dan keserakahan dari sistem perbankan yang ada.
> Bank-2 mengeruk keuntungan yang tidak tanggung-2
> dari kocek para nasabah. Setiap tahun jumlah bank
> yang
> masuk multibillion-dollar-profit-club semakin
> bertambah.
> Namun tidak ada tanda-2 bahwa mereka akan puas.
> They seem not to know enough is enough. Sebaliknya
> bank-2 terus mencari peluang untuk merger, tidak
> lain
> dengan tujuan agar posisi mereka sbg monster
> predator
> semakin mantap.
> 
> Belum lama ini dua raksasa Canadian banks: Royal
> bank
> dan Bank of Montreal telah siaga untuk merger. Tidak
> sedikit ekonom dan ahli perbankan pada memuji IDE
> EFISIENSI tsb. What does it mean to the people?
> Artinya
> akan lahir satu chimeric-giant predator yang lebih
> powerful
> dalam mengkeruk kocek nasabah, dengan pelayanan yang
> lebih sedikit. Karena praktis tidak ada saingan,
> bank-2 tsb
> akan bisa seenaknya dalam menyediakan mesin ATM dan
> mengutip beaya untuk tiap transaksi yang diperlukan
> oleh
> nasabah. Cabang-2 kecil (districts) yang dianggap
> kurang
> efisien (menguntungkan) akan ditutup sehingga
> nasabah
> kecil menjadi kerepotan. Tentu saja bank-2 tidak
> pernah
> pula sungkan untuk mengkanibal (lay off) karyawan
> sendiri.
> 
> Syukurlah the government of Canada lewat finance
> minister
> (yang dijabat oleh pak Paul Martin) menolak mentah-2
> rencana merger tsb. Selamatlah para nasabah dari
> "indecent
> proposal" dua raksasa bank tsb, paling tidak untuk
> sementara.
> Sebab saya yakin bahwa bank selalu pantang mundur
> untuk
> mengkeruk profit sebesar-2 nya dari kocek nasabah,
> secara
> halal ataupun tidak.
> 
> Topik yang masih hangat disini sekarang ini adalah
> mengenai
> transaksi lewat mesin  ATM, dimana bank dianggap
> mengutip
> ongkos terlalu banyak (> $1) per transaksi yang
> sifatnya
> otomatis tsb, dan teramat pelit untuk menyediakan
> mesin ATM
> dengan jumlah yang cukup. Seperti yang disinggung
> bung Heri
> di Australia, pelayanan ATM di commonwealth Canada
> juga
> sudah terintegrasi. Namun, justru dengan jumlah
> mesin yang
> diirit maka nasabah jadi tambah kehilangan waktu
> untuk antri.
> Masyarakat disini merasa terjerat dan terperas
> dengan sistem
> perbankan yang ada. Sungguh mengagumkan bahwa
> pemerintah
> satu negara bagian di USA (Texas?) mendengarkan
> keluhan
> masyarakatnya, dan melarang bank untuk mengutip
> ongkos
> apapun dari transaksi otomatis lewat mesin ATM.
> 
> Sungguh ironis pemerintah yang kapitalis, yang tidak
> punya
> dasar pancasila, bukannya membantu bank menuju
> efisiensi
> tetapi malahan punya komitmen untuk melindungi
> masyarakat
> dari eksploitasi dan kerakusan bank!
> 
> Indonesia tentu kasusnya lain, sebab di Indonesia
> bank bisa
> bangkrut.  Kalau suatu bank di Indonesia bankrut
> artinya seluruh
> uang dari masyarakat akan amblas (ikut amblas pula
> jaminan
> masa depan masyarakat yang dikumpulkan melalui
> cucuran
> keringat dan darah)  karena bank di Indonesia
> kebanyakan
> neglect untuk mengasuransikan uang nasabah. Di waktu
> bank-2
> di Indonesia jaya, bersama pemerintah (therefore
> secara legal)
> mereka menggerogoti uang negara (Bank Indonesia)
> untuk
> dipakai mengucuri perusahaan-2 sendiri. Di Indonesia
> bank-2
> telah banyak terbukti memberaki masyarakat, tetapi
> pemerintah
> tetap memihak mereka.
> 
> Sementara itu, disini kita para cendekiawan Undip
> pada berpikir
> keras untuk pula membantu efisiensi bank (agar
> mengeruk profit
> lebih banyak dari masyakat). Oh bank oh bank how
> lucky you are.
> Oh masyarakat Indonesia betapa malangnya dikau. Oleh
> karena
> itu aku bisa maklum bahwa banyak diantara kalian
> yang mau
> memisahkan diri dari sistem negara republik
> Indonesia yang tidak
> pernah memihak kepada masyarakatnya.
> 
> 
> Wassalam,
> Eko W Raharjo
> 
> 
> > Misalnya saja suatu lokasi bisa saja
> > memiliki lebih dari 1 ATM yang berasal dari
> beberapa
> > bank yang berbeda. Padahal 1 lokasi bisa dilayani
> oleh
> > 1 atau 2 ATM tergantung tingkat keramaian
> transaksi.
> > Sebagai contoh Australia yang jumlah banknya
> umumnya
> > kurang dari 10 telah menerapkan integrasi
> perangkat
> > keras antar bank. Dengan integrasi ini ditiap
> lokasi
> > hanya diperlukan 1-2 ATM untuk melayani nasabah
> dari
> > beberapa bank demikian pula  dengan sistem
> komunikasi
> > datanya. Pemborosan perangkat keras mungkin tidak
> akan
> > terasa selama Bank yang bersangkutan masih
> > operasional. Tetapi bila sewaktu-waktu bank
> tersebut
> > bankrut maka akan amat sulit untuk menjual
> perangkat
> > keras yang sudah diinvestasikan. Alangkah baiknya
> bila
> > ada kerjasama antar bank untuk mengatasi masalah
> > perangkat keras dengan melakukan investasi bersama
> >  pada perangkat keras.
> 
> 
> 
> 
> 
>
______________________________________________________________
> >From Eko W Raharjo <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP
> List
> Milis Archive: http://messages.to/archives or
> http://messages.to/archives2
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              
> http://www.undip.ac.id
> 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Bid and sell for free at http://auctions.yahoo.com
______________________________________________________________
>From HERI HERWANGGONO <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke