Heri:
> anggap saja kalo kita membajak hak cipta intelektual
> negara barat sebagai balasan kalo mereka juga menjarah
> sumber kekayaan alam kita..... Jadi impas kan.....

Koq alasan seperti ini terlalu dibuat-buat...8-)  

- Memangnya "ciptaan" anda pernah dibajak sehingga anda membalas.
- Membajak atau bukan adalah terminologi hukum.  Jadi kita tidak
  bisa "menyamaratakan" pendaftaran hak cipta, paten, trademark dsb
  begitu saja.  

Sebagai contoh ketika Sun mendaftarkan nama dagan Java.. apakah ini
tergolong pembajakan ..8-) semua itu kembali kepada batasan hukumnya

> buat saya yang penting bagaimana menguasai ilmunya,
> masalah pake barang bajakan bukan
> soal.......

Sama saja donk... yang penting dapat nilai A, nggak penting nyontek atau
tidak.  Berbeda kalau memang ujiannya Open Book, walau buka buku khan
bukan nyontek...8-)

Mungkin sebetulnya kembali lagi ke masalah kita terkena akan issue ini
atau tidak.  Di satu pihak kita bisa berteriak "anti korupsi, dan negara
barat membajak" (karena dg berteriak tersebut kita tidak mengalami akibat
apa-apa).. tapi di lain pihak kita tidak mau menegakkan masalah pembajakan
perangkat lunak (karena diri kita akan terkena dampaknya)

Sebetulnya ini "manusiawi" koq...8-)  Begitu juga saya bisa teriak anti
pembajakan karena tidak terkena teriakan saya (sudah pakai Open Source,
atau software commercial asli),  Nah yang jadi masalah sebetulnya apakah
"nurani" kita berkata hal itu benar atau salah terlepas dari "kita terkena
atau tidak".

Karena masalah pembajakan berkaitan dg hukum tentunya kita tidak bisa
menyamaratakan aksi pada obyek hukum yang berbeda sebagai hal yang sama.
Ketika tahun 1985 walau anda mengcopy Wordstar.. tetap belum dapat
digolongkan kita membajak, lha kita belum menandatangi perjanjian soal
HAKI, dan lagi persh software tidak mendaftar ke DirJen Patent (masih
inget kasus Charles Jordan).

Nah tapi berbeda dg tahun 2000 ini setelah kita tandatangai TRIP, maka
aspek "penerapan" hukum mulai dapat diterapkan.  Kalau kita tidak mau
terjebak ke dalam permainan ini (biar aja membajak waktu belajar) dan
ketika kita bekerja terpaksa kita membeli.  Artinya secara tidak langsung
kita telah "terjebak" ke dalam permainan yang anda sendiri tidak sukai.

Nah bagaimana carnya menghindari "trap" itu.. 

- Pakai program asli dari awal (sehingga kita mempertimbangkan harga)
- Pakai program open source dari awal (sehingga tidak bisa kena trap)

Masak kita sudah tahu mau dijebak.. masih menyerahkan diri juga..

> Cina &  India bisa maju IT-nya juga berawal dari
> barang bajakan..... Saya juga mau memberitahu bahwa

India mulai ITnya maju setelah mereka banyak beli software asli.  Bahkan
beberap programmer India top berkembang dari lingkunga mainframe ataupun
mini yang OS-nya mereka tulis sendiri (silahkan baca TIME.. bisa dicari
dari search-nya).  Jadi justru dengan "menghindari" dari bajakan
programmer India bisa kreatif.  Kebetulan saya dekat dengan ketua Indian
Computer Society.  Jadi sedikit banyak agak memahami...

> tidak semua pengguna linux menggunakan applikasi yang
> original kan!!!!....Nyatanya biaya download dari

Sepertinya saya sudah 3 kali mengulang hal ini.  Saya jadi bingung anda
yang 

- Tidak mau membaca
- Tidak mau menerima
- Memiliki niat lain (misal menyebar FUD..he.he.eh)

Ketika anda menyalin CD RedHat atau Debian, atau Mandrake.. ini bukan
PEMBAJAKAN.  Karena GPL memperbolehkan hal tersebut.

lihat masalah ini di http://www.opensource.org

> orang awam..... Asal anda tau ngajarin orang awan IT
> itu nggak mudah... Jangankan pake OS tertentu, kadang
> ngajarin pake mouse aja butuh waktu kok. Terus kalo

Justru pengalaman saya yang masih hijau dalam mengajar komputer ini
mengatakan tidak seperti itu.  Tidak ada kaitannya antara OS yang kita
pakai dengan kemudahan mengajarkan komputer...8-)  Jaman dulu orang pakai
mainframe yang rumit sekali toh bisa...8-) padahal belum ada kursus
komputer.

> industri IT di Eropa Barat & Amerika Utara.. Silicon
> Valley aja dibangun atas dasar IC(maksudnya India &
> Chinese jadi bukan Integrated Circuit).... 

Untuk cerita Silicon Valley.. rupanya anda salah tangkap...8-) silahkan
baca paper saya khusus Sil Valley, Sil Val bisa tumbuh karena adanya
idea-idea otentik...8-)

> awal-awal perkembangan IT -kan banyak menggunakan teknologi
> bajakan..... Rasanya juga nggak salah kalo kita menggunakan teknologi
> bajakan untuk belajar.... Bangsa barat juga maju karena barang bajakan
> kok.... mereka bisa bikin bom & roket kan karena mencuri teknolgi
> mesiu bangsa cina... mereka bisa ilmu kimia & matematika kan karena
> mereka mencuri ilmu itu dari kejayaan bangsa arab... mereka mengeruk
> sumber

Terus terang saya bingung dengan argumentasi anda karena

- Anda mengatakan membajak itu buruk
- Anda tetap ingin melakukan pembajakan karena dengan alasan 
  "balas dendam"

Yang jadi pertanyaan saya.. siapa yang membalas siapa ? Penjabaran anda
di atas hanyalah menempatkan ilmu itu dengan pendekatan "semiotic" belaka.
Artinya baca suatu buku sudah cukup tidak perlu di elaborasi..8-) apakah
seperti itu dan semudah itu yang namanya "knowledge induction".

Saya terus terang bingung anda bisa menyatakan bangsa barat bisa bikin bom
dan roket karena mencuri teknologi mesiu...?? Ilmu kimia dan matematika
dicuri dari bangsa arab.  Apakah semudah itu namanya "mencuri".  Semudah
mengcopy CD dan memasukkan ke CDROM dan langsung "install"

Saya ingat.. ketika awalnya bangsa Portugis belajar membuat kapal, mereka
mendatangkan orang Arab untuk mengajari (mendisain),  nah mungkin dengan
cara inilah mereka "mencuri" teknik pembuatan kapal dari bangsa arab.

Nah kalau toh kita ingin "mencuri" teknologinya, mengapa kita tidak
mencuri dengan cara "turut serta mengembangkan /mendisain, seperti yang
saat ini saya lakukan gabung dg developer Open Source".. Bukan dengan cara
membajak kapal yang sudah jadi dan akan berlayar....

Mbah dukun

______________________________________________________________
>From [EMAIL PROTECTED] to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke