http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/made/artikel/majalah/tim_allen.html
AbiWord, word processor berbahasa Indonesia yang pertama
Namanya Tim Allen, sama dengan nama tokoh film seri Home Improvement.
Tetapi Tim yang satu ini bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Tim
dan sang istri Rita, tinggal di Sydney - Australia, pasangan yang
telah dikaruniai seorang bayi bernama Patrick yang baru berumur 1
tahun. Mereka saling bertemu di Balikpapan, Kalimantan Timur, dan
melanjutkan pernikahan di tahun 1998.
Tim saat ini bekerja di Proximity Ltd sebuah perusahaan yang
mengembangkan perangkat lunak untuk stasiun TV atau organisasi yang
mengelola media. Walaupun berlatar belakang pendidikan Fisika Teori
dengan gelar Doktor dari the Australian National University, Tim
memilih bekerja di bidang pengembangan software. Pekerjaan ini pulalah
yang membawanya ke Balikpapan dan bertemu dengan Rita yang dilahirkan
di Purwodadi tapi bekerja di Balikpapan. Rita yang bergelar Sarjana
Ekonomi dari Universitas Sebelas Maret awalnya bekerja di perusahaan
penerbangan, tapi akhirnya bekerja di di perusahaan telekomunikasi dan
ini jugalah yang menyebabkannya bertemu dengan Tim.
berbagai jenis Unix. AbiWord merupakan komponen pertama dari AbiSuite,
suatu paket perkantoran cross-platform yang Open Source dan
dikembangkan dan dikoordinasikan oleh tim AbiSource.
Kemampuan lain yang dimiliki AbiWord ini antara lain :
* Memformat teks (tebal, garis bawah, miring)
* Merapihkan paragraf
* Spell-check dengan indospell dapat melakukannya untuk bahasa
Indonesia juga.
* Mengimport Word97 dan RTF
* Ruler dan tabulasi yang interaktif
* Style
* Undo/redo yang tak terbatas
* Multikolom
* Find/Replace
* Menyisipkan gambar
* Dapat mengeksport ke LaTEX
Berikut ini adalah bincang-bincang IMW dengan Tim Allen mengenai latar
belakang proses penterjemahan tersebut.
IMW : Hi.. Tim.. Saya terus terang kaget juga ketika mengetahui ada
orang lain yang melakukan pekerjaan penterjemahan bahasa Indonesia di
AbiWord. Apalagi ternyata bukan orang Indonesia "asli", tentu tingkat
kesulitannya tinggi. Sehingga saya bertanya-tanya, apa yang mendorong
anda memulai proyek translasi ini?
TIM : Saya pernah bekerja di Balikpapan, saat itu ada suatu proyek
dengan perusahaan Inggris, yaitu kerja sama (KSO) dengan Telkom. Jadi
saya sering bekerja dengan orang Telkom di sana. Saat itu saya
perhatikan, banyak orang di kantor Telkom yang bekerja memakai MS
Windows, MS Office dan lain-lain. Saya fikir hal ini mahal sekali,
membeli software seperti itu untuk orang banyak. Dibandingkan dengan
gaji pegawai, mungkin lebih mahal harga softwarenya.
Saya perhatikan juga, orang-orang sering bingung, karena ada banyak
yang kurang PD (percaya diri) dalam berbahasa Inggris. Hasilnya
seringkali amburadul, karena misalnya ada orang yang hanya mengerti MS
Excel, jadi pakai Excel melulu, untuk mengetik surat, untuk menyimpan
data, untuk membuat presentasi, untuk apa saja. Saya penasaran dan
saya fikir, bila softwarenya berbahasa Indonesia, mungkin orang bisa
menggunakan software yang lebih cocok dengan lebih PD.
[INLINE]
Tim, Rita dan Patrick.
IMW : Jadi sedikit banyak anda mengamati kesulitan di lapangan dari
para pengguna komputer Indonesia. Ngomong-ngomong, apa yang anda
kerjakan di Balikpapan dalam proyek tersebut ? Apakah juga berkaitan
dengan pengembangan software atau berkaitan dengan latar belakang
pendidikan anda ?
Tugas saya waktu itu, membuat software untuk pemetaan. Saat itu saya
juga menawarkan, agar program tersebut bisa bekerja dalam dua bahasa,
tetapi pihak Inggris pada proyek itu tidak mau, katanya anak buahnya
saja dipaksa memakai bahasa Inggris, jadi lebih baik kalau softwarenya
juga berbahasa Inggris. Saya sendiri kurang setuju, karena saya fikir
itu suatu sifat yang kurang pengertian, terlalu keras, tapi karena
"the customer is always right" maka tak ada pilihan lain.
IMW : Yah.. kadang memang pekerjaan menuntut hal itu. Seperti halnya
banyak rekan-rekan yang ingin memakai program Open Source, tapi
perusahaan tempat bekerjanya masih memaksa memakai program yang mahal.
Kembali ke soal Linux, sejak kapan sebetulnya anda berkenalan dengan
makhluk yang bernama Linux ini ?
Tim: Waktu itu (kurang lebih 2 tahun lalu), saya sudah lama tahu bahwa
ada Unix gratis/bebas yang bernama Linux, tapi belum tahu begitu
banyak, dan belum akrab dengan kemajuannya. Gara-gara krismon, proyek
tersebut dibatalkan, dan aku jadi penggangguran berapa bulan di
Balikpapan (belum bisa pulang, karena hanya baru saja kawin, dan Rita
istri saya, ingin siap-siap mental dulu sebelum pindah ke luar
negeri). Saya ambil kesempatan, banyak web-surfing, jadi bisa belajar
mengenai Linux dan lain-lainnya.
Dan aku langsung sadar, kalau Linux itu cocok sekali untuk Indonesia.
Yang pertama, gratis, jadi cocok untuk negeri yang tidak punya duit
..he..he. maaf saya bukan meremehkan lho. Yang kedua, terbuka, jadi
orang-orang bisa belajar dari hasil kerjaan orang lain, tanpa dianggap
"pirate" (membajak).
Dan lagi, karena terbuka, softwarenya bisa dengan gampang diadaptasi
untuk Indonesia. Kalau misalnya, ada orang yang menginginkan versi MS
Access yang berbahasa Indonesia, harus minta kepada Microsoft. Kalau,
menurut Microsoft, bisa memperoleh banyak untung jika dibuat versi
Indonesia-nya, bisa jadi dibuat. Tapi kalau untungnya dianggap kurang,
menurut mereka, tidak akan ada versi Indonesia-nya. Sedangkan, kalau
software open-source, bila ada yang ingin versi bahasa Indonesia,
tinggal buat saja sendiri, silahkan, tak ada yang melarang.
IMW: Wah memang tepat sekali, sayangnya saat ini di Indonesia masih
banyak orang yang kurang memperhatikan aspek non teknis seperti itu.
Mudah-mudahan dengan adanya perangkat lunak aplikasi akan dapat
membuka mata para pengguna komputer di Indonesia. Sebetulnya apa yang
menyebabkan anda memilih AbiWord di antara proyek-proyek Open Source
lainnya ?
Tim: Saya menjadi tertarik dengan AbiWord karena sang istriku kesal,
kenapa komputer di rumah tidak bisa membuka dokumen dari temannya yg
pakai MS Word. Aku cari dan mencoba beberapa word processor, termasuk
Word Perfect, Maxwell, Go, Applix. Semuanya kurang memuaskan,
rata-rata tidak bisa mengimport dokumen MS Word sama sekali, dan
sering crash. Setelah ketemu AbiWord, aku lebih senang, dan istriku
juga senang (katanya, ini baru mirip MS Word). Waktu itu, kemampuan
AbiWord masih jauh dari lengkap, dan kemampuan import dokumen MS Word
masih agak lemah, tapi aku tetap bersemangat karena kelihatan sekali
kalau softwarenya bisa cepat maju. Dari mailing-list abiword-dev, bisa
dilihat, hampir setiap hari ada kemajuan kecil, dan kurang-lebih
setiap minggu ada kemajuan yg cukup penting. Sekarang, AbiWord sudah
jadi lumayan berguna dan dapat dipakai.
Saya mencoba menerjemahkan AbiWord karena saya merasa hal itu tidak
terlalu sulit, dan ingin istriku jadi semangat mengenai AbiWord
(sepertinya saya masih memiliki perasaan bersalah , karena memaksa
sang istri pakai Linux, bukannya Windows:-)).
Dan juga, karena alasan-alasan tersebut di atas, aku merasa sekali
bahwa AbiWord ini diperlukan sekali untuk Indonesia. Jika rakyat biasa
bisa menggunakan komputer tanpa bayar banyak duit kepada Microsoft
(atau orang Glodok :)) dan tanpa kursus bahasa Inggris dulu. Ternyata,
melakukan translasi itu memang tidak sulit; aku sendiri sering salah,
tapi istriku bisa membetulkannya. I Made sudah membantu. Mudahan orang
lain bisa bantu juga nanti.
Maafkan bahasa Indonesia-ku yang jelek dan terlalu rumit :-). Salam,
Tim Allen
IMW: Salam.. terima kasih kita sekarang sudah memiliki word processor
berbahasa Indonesia. Mudah-mudahan ini dapat menjadi inspirasi dan
dorongan bagi para programmer di Indonesia.
______________________________________________________________
>From [EMAIL PROTECTED] to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id