Seorang mahasiswa Indonesia di luar negeri membuat tulisan hasil
pemantauannya langsung pada objek peristiwa penting. Jadi bukan mengutip
dari referensi teks di negara tersebut. Ini dikerjakannya hampir sekitar
tiga hari.
Lalu dikirimkannya ke salah satu media cetak di tanah air melalui
email. Karena menurut redaksinya, memang artikel bisa disampaikan dengan
cara begitu. Ia pun melampirkan foto, alamat di tanah air <supaya pihak
redaksi bisa mengecek>, nomor telepon di kediamannya.
Lalu beberapa hari kemudian dapat balasan dari sekretaris : "Artikel
sudah kami terima. Keputusan pemuatannya pada tangan redaksi".
Sekitar seminggu kemudian ia menelepon ke redaksi untuk meminta
konfirmasi. Jawaban sekretaris redaksinya, "Ya masih dalam pertimbangan".
Komunikasi ini pun bisa berhasil pada peneleponan ketiga. Sebelumnya yang
menerima hanya pegawai lain di mana jawabannya , "Tidak tahu", karena memang
urusannya.
Akhirnya dua minggu kemudian datanglah email yang menyatakan bahwa
artikel ini tidak bisa dimuat.
Demikianlah hasil payahnya pupus sudah. Kalau pun dikirimkan lagi ke
media cetak lain, maka kemungkinan untuk tembus semakin kecil. Soalnya
momentumnya sudah hilang. Paling-paling tahun depan. Itu pun harus mengalami
revisi.
Kira-kira di mana saja letak problemnya dilihat dari "pelayanan
redaksional", "SDM", dan "kecepatan keputusan".
Terus bagaimana kondisi seperti itu dilihat dari manajemen pers
profesional?
Mohon komentarnya.
Salam,
Nasrullah Idris
----------------------
P.O. Box 1380 - Bandung 40013
Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi
http://bdg.centrin.net.id/~acu
______________________________________________________________
>From "Nasrullah Idris" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id