Rumput laut dan orang Jepang Tulisan ini balasan e-mail yang dipost mailing list UNDIP dari Mas AB. Susanto, dosen UNDIP Jur. Ilmu Kelautan, Fak. Perikanan, sedang meneliti rumput laut, di Jerman. E-mail dari beliau ini bertanggal pada 10 Aug 2000, saya mengucapkan mohon maaf balasannya terlambat. Tulisan ini bisa dibaca di homepage saya. http://www.02.246.ne.jp/~semar/esaisehari/esaisehari.htm (Minggu, 17-09-2000) ISHIZAWA Takeshi mahasiswa S3 Universitas Tokyo jurusan studi wilayah (area studies) e-mail: [EMAIL PROTECTED] homepage"Esai-esai tentang masyarakat Jepang" http://www.02.246.ne.jp/~semar/ ---------------------------------------------------------------------- Mas Abe, terima kasih banyak tanggapannya. Bagaimana di Jerman? Di Tokyo masih agak panas. Pada musim panas di Tokyo panasnya sama dengan Surabaya, lebih panas daripada Yogya. >Konichiwa Takeshi San, >saya barusan menengok HP kamuu .... >lumayan cukup menarikk ...dan saya kira >jarang sekali orang Jepun ynag punya HP tentang orang Ina ... HP orang Jepang tentang Indonesia tidak sedikit. Tetapi hampir semua ditulis dalam bahasa Jepang. HP orang Jepang yang ditulis dalam bahasa Indonesia, mungkin dua saja. HP kedutaan besar Jepang di Jakarta dan HP saya. Sebaliknya, HP orang Indonesia yang ditulis dalam bahasa Jepang, ada beberapa situs. Dua atau tiga situs dikelola oleh pelajar Indonesia di Jepang. Selain itu, akhir ini dibuka situs mingguan "Tempo" versi bahasa Jepang. (http://www.tempo.co.id/index,jp.asp) Saya juga menengok HP Anda dan beberapa artikel Anda tentang rumput laut yang dimuat dalam situs "Ngelmu" (http://ngelmu.dhs.org/). Ya, menarik sekali. Pertama kali saya kaget membaca e-mail dari Anda kenapa Anda tahu kata-kata bahasa Jepang seperti "Kaisoo ..Norii, Ogonorii, Wakame". Menurut HP Anda, pernah kuliah di Universitas Ryu^kyu^ di Okinawa selama 2 tahun, dan sekarang meneliti rumput laut di Jerman. Tentu saja di Jepang rumput laut yaitu "Kaisoo" itu makanan sehari-hari. Terutama Okinawa, konsumpsi per capita "Kombu" (Lamiaria. sejenisi Kelp) paling banyak di Jepang. Masakan Okinawa berbeda dengan propinsi lain, bagaimana Kombu dimasak di Okinawa ? Sayangnya saya belum pergi ke sana. Kebudayaan Okinawa, propinsi yang paling selatan bercuaca sub-tropis, sangat unik. Dari abad 15 ada kerajaan yang independen. Kerajaan ini makmur oleh perdagangan dengan Tiongkok dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Namanya kerajaan Ryu^kyu^, kebudayaannya terpengaruh Tiongkok. Saya tidak sama sekali mengerti bahasa daerah Okinawa. Propinsi Okinawa sejarahnya agak tragis. Kerajaan Ryu^kyu^ dijajahi oleh negara Satsuma (sekarang propinsi Kagoshima. Utara dari Okinawa.) pada 1609. Sejak itu Okinawa ditindas keras. Pada perang dunia kedua, tentra Amerika menyerbu mendarat Okinawa, banyak penduduknya dibunuh. Sampai 1972 Okinawa dijajahi Amerika, sesudah diintegrasi kembali dengan Jepang masih ada banyak pangkalan militer AS di Okinawa. Walaupun sejarahnya tragis, orang Okinawa sehat dan usianya panjang. Menurut statistik, sekarang di Jepang yang usianya lebih 100 tahun ada 10 ribu lebih orang. Yang lebih 100 tahun, kebanyakannya warga Okinawa. Keunikan budaya makanan Okinawa, makan banyak dagin babi (konsumpsinya per capita paling banyak di Jepang. terpengaruhi budaya Tiongkok) dan rumput laut, "mozuku"(Nemacystus) dan "aosa" selain kombu. Budaya makan Okinawa ini berguna untuk kesehatan warga Okinawa. Ya, kebetulan ada artikel tentang Okinawa dalam HP Kedutaan Besar Jepang URL di bawah. http://www.embjapan.or.id/280p11.html Bukan cuma Okinawa, rumput laut dimakan sehari-hari di seluruh Jepang. Salad rumput laut disukai oleh wanita yang ingin tubuhnya langsing. Karena rumput laut mengandung banyak vitamin dan mineral tetapi sedikit calorie. "Nori" (Porphyra) yaitu laver, dikeringkan dan dilebarkan seperti kertas, dimakan meliputi nasi dengan "nori". "Nori" ini baik sebagai teman makan nasi. "Wakame" (Undaria) juga dipakai untuk masakan macam-macam, salad, miso-soup, "sunomono" (campuran dengan cuka) dll. Saya sendiri sering memasukan "wakame" ini dalam sup mi instan. "Tengusa" (Gelidium) yaitu Agar-agar juga sering dimakan (terutama pada musim panas) sebagai "tokoroten" dan "kanten" sepertinya cincau, tapi warnanya putih. Budaya makanan Jepang agak berbeda Jepang barat dengan timor. Di Jepang timor, misalnya Tokyo, "tokoroten" dimakan dengan kecap asin dari kedelai ("shoyu"), cuka dan mustard, tetapi di Jepang barat, misalnya Osaka atau Kyoto, dimakan dengan gula, katanya. Rumput laut dimakan sejak awal sejarahnya Jepang. Pada abad 8 nelayan Jepang harus mengumpul rumput laut untuk pemerintah Kaisar sebagai pajak. Rumput laut mengandung banyak vitamin dan mineral (terutama "nori" mengandung banyak protein juga), jadi makanan penting bagi orang Jepang. Meskipun di Jepang rumput laut adalah makanan penting, di negara lain makan rumput laut itu budaya terbatas. Terutama "nori" kelihatannya seperti kertas hitam, orang asing tidak berani makan. Di Korea sering dimakan "nori", mungkin terpengaruh Jepang selama penjajahan Jepang (1910-1945). Tetapi orang Korea suka melumurkan minyak wijen ke "nori", berbeda rasanya dengan Jepang. Di Eropa, budaya makan rumput laut ketemu dalam masyarakat nelayan di Ireland, Weles saja. Pada umumnya di Eropa rumput laut dipakai untuk pupuk atau bahan industri soda atau makanan untuk hewan, bukan untuk manusia. Tetapi zaman dulu "kombu" diekspor ke Tiongkok. Pada zaman Edo (1603-1868), mula-mulanya Jepang ekspor banyak perak dan tembaga sehingga hampir habis. Oleh karena itu pemerintah Sho^gun mencari barang ekspor lain sebagai pengganti perak dan tembaga. Barang ekspor baru ke Tiongkok adalah produk-produk hasil laut, yaitu teripang, kerang "Awabi", sirip ikan hiu, ini semua bahan penting untuk masakan Tiongkok. Selain itu "kombu" juga barang ekspor penting. Tetapi di Tiongkok, "kombu" digunakan sebagai obat karena mengandung banyak yodium. Rumput laut mengandung banyak yodium, tentang kuantitas kandungan yodium, "kombu" adalah nomor satu antara rumput laut. Untuk mengumpul "kombu", suku aborigine Jepang utara yaitu suku Ainu terpaksa kerja keras oleh pemerintah Sho^gun. Karena "kombu" ketemu di perairan utara. Bagi Russia juga "kombu" ini barang ekspor penting. Dari pelabuhan Vladivostok "kombu" ekspor ke Tiongkok. Seperti tersebut di atas, bagi orang Jepang rumput laut begitu penting baik sebagai makanan maupun dari sudut bidang ekonomi. >gimana kalau kita berdua membuat suatu Homepage >tentang Jepang dna Ina ..he..he..kayaknya menarik >sekalii yaa ?? saya akan banyak cerita tentang >budaya orang Jepang makan rumput lautt ...he..he.. Ya, saya senang sekali kalau bisa bekerjasama dengan Anda. Tolong beritahu cerita budaya orang Jepang makan rumput laut. Tetapi kenapa Anda meneliti di Jerman? Saya pikir di negara Barat tidak begitu berkembang penelitian tentang rumput laut dibanding dengan Jepang. Bagaimana sekali lagi meneliti di Jepang? Katanya di Universitas Hokkaido ada insitute yang sudah bersejarah untuk kusus rumput laut. Salam. ______________________________________________________________ >From ISHIZAWA Takeshi <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id

Kirim email ke