Menguras Uang Sebuah Negara Melalui Multilevel Marketing Storyby Nasrullah Idris 25/09/2000 (15:00) BANDUNG (SuratkabarCom) - Perusahaan yang bersistem "Multilevel Marketing" (MLM) selama dekade ini memperlihatkan fenomena bisnis yang sangat trend. Pasalnya, di sana terkandung ajakan kepada publik, selain sebagai penjual produk, juga mencari mereka sebanyak mungkin untuk tugas yang sama. Soalnya melalui jenjang pertama, kedua, dan seterusnya pun secara tidak langsung akan meningkatkan royalti yang diperolehnya. Maka tidak heran bila diminati banyak orang. Dilihat dari model Matematika, proses perjalanan hirarkinya cenderung mengarah pada deret kali. Bila awal berdirinya hanya terdiri dari tiga orang, berarti berdasarkan perhitungan di atas kertas, kelanjutannya merupakan perpangkatan tiga. Pada lapisan kesepuluh bisa terekrut lebih dari 50 ribu anggota. Penulis di sini tidak mengfokuskan masalah prospeknya, tetapi bagaimana kegiatan tersebut bisa menguras uang suatu negara yang didatangi, meskipun memang di sisi lain, menciptakan lapangan kerja bagi penduduk lokal. Taroklah penulis di Indonesia ingin melakukan ekspansi ekonomi ke sebuah negara miskin. Kita sebutlah dengan "Venuslandia". Pilihan ini dengan alasan kekayaan alamnya melimpah, penduduknya banyak, apresiasi kalkulasi ekonominya rendah,dan SDM nya rata-rata kurang kompetitif. Pokoknya untuk dua yang terakhir ini masih di bawah Indonesia. Barang yang penulis produksi di tanah air berupa buku "Varia Makanan Tradisional Venuslandia", yang dirancang sedemikian rupa, sehingga sulit dilakukan oleh penduduk setempat. Ongkos produksinya per eksemplar hanya menghabiskan satu USD, sedangkan penjualannya sebesar 11 USD. Keputusan menetapkan bandrol inu setelah melewati berbagai pengkajian bersama para pakar pengambilan keputusan yang berbasis Teknik Industri. Sesampai di tujuan didirikanlah perusahaan Multilevel Marketing yang diresmikan oleh seorang pejabat dari kementerian ekonomi. Sejumlah media massa pun menyiarkannya. Kampanye dilakukan dari kota ke kota di samping melalui pemasangan iklan di berbagai media massa. Sampai pada suatu waktu anggotanya hampir mencapai dua juta orang. Meskipun dijual dengan harga sepuluh kali lipat, perusahaan memperoleh bagian 2,5 USD saja. Itu pun belum bersih. Sebanyak setengah USD dipakai untuk ini ini dan itu selama di sana, termasuk iklan, penginapan, pajak, penerbangan, dan makan. Jadi bersihnya hanya untung 1 USD Sisanya sebesar 8,5 USD lari ke mana? Apalagi kalau bukan didistribusikan pada para anggota berdasarkan deret kali tersebut. Memang dengan dua juta anggota tentu secara tidak langsung perusahaan penulis ini sudah memberi pekerjaan kepada warga Venuslandia. Tetapi mau tidak mau harus diakui pula bahwa dengan modus bisnis tersebut penulis telah menguras kekayaan sebuah negara sekitar dua juta USD. Itu baru untuk satu jenis produk. Bagaimana pula bila penulis memproduksi seribu jenis barang. Itu baru pun untuk sebuah perusahaan asing seperti yang penulis miliki. Taroklah ada 50 perusahaan dari luar yang bergerak di bidang yang sama? Bayangkan sendirilah dampaknya terhadap negara ini. Memang harus diakui, kehadiran mereka membuat pendapatan pajak di Venuslandia meningkat drastis. Tetapi yang nyata, milyaran USD pun sudah lari ke berbagai negara. Termasuk Venuslandia. Mau apa lagi? Mendingan Venuslandia bertahan terus. Celakanya bila suatu waktu terimbas krisis ekonomi akibat tradisi pola konsumtif rakyatnya. Mungkin saja ia harus menggantungkan diri pada lembaga keuangan dunia. Okelah sampai di situ. Lebih mengenaskan lagi bila ketergantungan ini disusupi oleh bentuk-bentuk pendiktean beberapa negara tertentu terhadap kondisi politik di sana. Meskipun sifatnya fiktif, hendaknya cerita di atas dijadikan renungan menarik dan bahan intropeksi : bagaimana kesenjangan sains/teknologi bisa menciptakan pengurasan kekayaaan secara halus, lancar, dan prosedural. (Nasrullah Idris/bidang studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi) ______________________________________________________________ >From "Nasrullah Idris" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
