ada berita tentang penyebab banjir di wilayah Banyumas itu yang bersumber dari salah seorang pejabat daerah ditingkat kecamatan yang tampaknya cukup jeli mengamati fenomena dan memancing saya untuk meneruskan berita tersebut dalam wacana ilmiah. Menurut pejabat tersebut, ada beberapa bendungan yang dibangun dalam DAS Kali Serayu. Salah satu penyebab Banjir yang sekarang ( Nov 2000 ) adalah akibat sedimentasi pada salah satu bendungan besar dan untuk menghindari resiko meningginya permukaan air pada bendungan tersebut (padahal hujan cukup deras) maka pintu bendungan dibuka dan kemudian airpun meluap didaerah downstream, beberapa bendungan lainnya yang juga berada di DAS Kali Serayu juga tak mampu menampung luapan air dari bendungan besar tersebut. Nah yang jadi bahan untuk perdebatan ilmiah dimedia ini adalah : Apakah membangung sebuah bendungan sudah juga di rencanakan penataan sistimnya dengan bendungan lainnya terutama jika bendungan tersebut berada dalam satu aliran sungai ? Berapa kecepatan sedimentasi setiap bendungan dan kapan sedimentasi itu harus dikurangi ? Kalau tidak salah saya sama sekali tidak pernah mendengar adanya "proyek pengurangan sedimentasi bendungan" di Jawa atau di Indonesia, apakah yang mendesain proyek bendungan lupa kalau setiap genangan air selalu ada sedimentasi ? Saya dulu sewaktu baru saja mengajar pernah ikut proyek penelitian "dampak lingkungan waduk wadaslintang" proyek ini Pimpronya Pak Jutata yang sekarang jadi Direktur PTS DIKTI DIKNAS. Lumayan juga hasil penelitian dari waduk wadaslintang ini, yang jelas daerah upstream sanagt menderita karena semakin sumuk, semakin banyak nyamuk dan lahannya habis digenangi air. Akibat dibuatnya jalan yang melintas diatas bendungan menyebabkan beberapa industri dan pasar tradisional didaerah upstream hancur berkeping-keping karena lalu-lintas lebih mudah menuju ke kota terdekat melalui jalan diatas "dam". Nah bagaimana komentar teman-teman dari teknik sipil. Yang jelas "kita" memang paling payah dalam mengatasi masalah "hydro", yang namanya banjir (di Semarang apalagi) sudah menjadi rutinitas dan solusinya cuma menaikkan permukaan jalan. Padahal Belanda ( ahli hysrology ) pernah mengupayakan kota=kota di Jawa untuk lepas dari masalah banjir dan master plan nya pernah saya lihat di KITLV Leiden. Piye mas ? Riasto Widiatmono Ungaran ______________________________________________________________ >From "Riasto Widiatmono" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
