Memasuki bulan Desember suasana pesta natal di Ulm, Badenwuertemberg, sudah sangat terasa. Gereja Muenster yang menaranya merupakan menara gereja tertinggi di Jerman dihias lampu warna-warni. Weinachtmarkt yang berada di Muensterplatz telah pula ramai dikunjungi orang. Beberapa orang bergerombol pada Muensterbrunnen untuk menikmati Gluhwein yang dijual disana. Sayang aku mesti bergegas mengejar bus terakhir ke Unterschleimbach tempat aku tinggal. Untuk sementara ini aku terpaksa berpisah dengan keluarga. Meine gelobte Frau und meine kleine Saugling harus pindah ke Mannheim. Disana istriku harus mengikuti Deutschkurs di Goethe Institute yang merupakan persyaratan untuk memulai studi dari beasiswa DAAD (Deustcher Akademischer Austauschdienst). Oleh karena itu untuk menghemat, aku pindah dari apartment di Offenhausen, Ulm, suatu lokasi Wohnheim indah yang terletak dipinggir sungai Donau. Banyak kenangan indah yang kami miliki berkaitan dengan sungai itu. Diwaktu musim panas, kami melewatkan waktu siang yang panjang berjalan-jalan di pinggir Donau sambil mengangankan tentang mimpi masa depan. Angsa-angsa besar yang berenang elegan kian kemari di sungai itu dimata kami seakan-akan mereka sedang menarikan die Waltzer gubahan Johan Strauss. Unterschelimbach adalah Gemeinde kecil, ndeso, yang berjarak kurang lebih setengah jam perjalanan bus dari kota Ulm. Disana aku menyewa sebuah kamar dirumah Frau Sparsam, seorang pemeluk Katolik. Herr Sparsam telah dipanggil Tuhan beberapa tahun yl karena kanker prostat. Ia meninggalkan 3 anak, Gunter, Ula und Moris. Gunter sedang menekuni studi teknik di Fachochschule di Karlsruhe. Ula baru saja menikah tahun lalu dan sekarang tinggal bersama suaminya. Sedangkan Moris sibungsu, yang masih tinggal bersama ibunya, baru saja tamat Realschule dan sekarang menjadi Lehrling (magang) di DB (Deutschebundesbahn: jawatan kereta api Jerman). Aku mengenal Frau Sparsam melalui Frau Huebsch teman kerjaku di Uni Ulm. Frau Huebsch adalah teman kerja yang menyenangkan, baik hati, inteligent dan cantik jelita. Berbeda dengan Frau Sparsam yang merupakan Deutscherin generasi perang dunia ke II, Frau Huebsch seangkatan late baby boomer. Sore itu Frau Sparsam sedang asyik menghias Tanenbaum. Beberapa kali ia terlihat pergi bersama Volkswagonnya ke hutan untuk mengambil Mosch yang akan dipakai sebagai alas dari gua kecil dimana nanti Christkind akan dibaringkan. ketika selesai aku memujinya: "Das ist aber wirklich schoen, Frau Sparsasm". "Danke Herr Raharjo" jawabnya dengan muka berseri. Moris tidak sedikitpun menaruh perhatian atas jerih payah ibunya. Nampaknya diantara mereka terdapat problem generasi gap. Gaya hidup mereka sangat berbeda. Frau Sparsam rajin ke gereja. Moris 'blas' tidak pernah menginjakkan kaki kesana. Frau Sparsam sangat hemat. Sedangkan Moris dimata Frau Sparsam adalah pemboros yang suka memakai uangnya untuk beli DVD, pergi ke Kinos atau Kneipen. Kadang-2 terjadi pertengkaran diantara mereka. Frau Sparsam biasanya akan mengomel panjang lebar, luas dan keliling. Kalau sudah tak tertahankan Moris akan berteriak: "Ich bin keine bloede Kuh!" sambil mengunci pintu kamar dan memutar CD dari Udo Lindenberg keras-keras. Rupanya pengalaman waktu kecil di jaman PD II sangat kuat mempengaruhi cara hidup dari Frau Sparsam. Ia hidup dengan penuh perhitungan, terutama yang paling menyolok adalah sikapnya yang sangat anti pemborosan. Di Keller (basement) ia menimbun bahan makanan tak terkira banyaknya, seolah-olah perang sewaktu-waktu akan meletus lagi. "Es war alles ganz kaput" demikian kadang-2 ia bercerita mengenai masa perang yang ia alami pada masa kecil. "Tanpa putus-2nya kami harus bekerja membersihkan reruntuhan bangunan akibat pemboman sekutu. Bahan makanan yang tersedia sangat terbatas. Kami boleh dikata tidak pernah makan daging, telur merupakan makanan yang amat mewah". Aku betul-2 bisa menyelami apa yang dirasakannya. Namun aku tidak bisa mencegah otakku untuk berpikir secara kritis. Coba kalau Jerman yang memenangkan perang tersebut, apa yang terjadi? Bukankah dulu seluruh penduduk Jerman berpesta ria dan lonceng di Gereja-2 di bunyikan bertalu-talu setiap kali Deutsche Werhmacht menggulung negara-2 tetangga? Belum lagi nasib yang dialami oleh Zigeunern und Yuden.....shrecklich! Desember minggu ketiga, Gunter berkunjung ke ibunya bersama Anja, Freundinnya. Kami semua berkumpul berbincang-bincang di Kuechetisch sambil minum kopi dan menikmati Weinachtkuchen buatan Frau Sparsam sendiri. Anja berasal dari Jerman utara maka ia berbahasa Hochdeutsch, sedangkan orang Ulm memakai dialek Schwabisch yang terkesan kasar namun polos. Gunter dan Anja merupakan pasangan masa kini yang serasi, keduanya inteligent und vernuenftig. Mereka berpandangan natal tidak lebih merupakan suatu kesempatan bagi mereka untuk berlibur, berekreasi dan memadu cinta. Oleh karena itu pada liburan natal minggu depan mereka akan pergi berdua saja ke Scwarzwald atau ke Garmisch Paternkirchen untuk bermain ski sambil memadu cinta. Namun pandangan Frau Sparsam tidaklah begitu, Weihnachten adalah saat segenap family berkumpul. Tak ayal pertengkaran yang seru terjadi di meja dapur. Pikiranku melayang ke keluargaku di Mannheim. Aku sendiri tidak perduli apakah itu hari Natal, hari Senin ataukah Jemuwah wage, setiap ada kesempatan aku selalu 'nggeblas' ke Mannheim dengan ICE - Schnellbahn. Seperti biasanya di Mannheim Bahnhoff, istri dan anakku sudah menunggu di Bahnsteig dengan senyum berseri. Selamat berlibur. Wassalam, Eko raharjo Calgary, Canada. ______________________________________________________________ >From Eko Raharjo <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
