>on 1/28/01 6:52 PM, Budi Wiyono at [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> Sudah ada Distance Learning khan ?
>
> Perlu diyakinkan, ttg
> - komitmen anda untuk mengalokasikan waktu bagi undip,
> - interaksi dilakukan dengan memanfaatkan sarana khusus spt tele education,
> - hal2 lain yg dapat mengkompensasi ketidak hadiran anda di kampus undip.
>
> Shg tidak ada pihak yang dirugikan.
>
> Cyber University aja di Indonesia sekarang sudah ada...
> Ini contohnya:
> http://www.bisnis.com/bisnis/owa/artikel.preview?cookie=2&inw_id=136194
>
> Salam,
> Bdw
EWR:
Terima kasih atas tanggapannya. Memang maksud saya men cc kan surat saya
ke mailing list Undip dan staf Undip adalah supaya mendapat masukan.
Surat tersebut adalah bukan surat pribadi (meskipun ada seddikit berita
pribadi), melainkan merupakan suatu topik yang menurut saya layak untuk
didiskusikan. Sebab situasi yang saya alami sebenarnya merupakan sesuatu
yang amat wajar, yakni saya pengin memberikan kontribusi kepada Undip namun
saya membutuhkan gaji dan posisi yang selayaknya. Undip membutuhkan
expertise saya namun belum tentu mampu menggaji dan memberi posisi kepada
saya selayaknya. Solusinya adalah Undip harus mampu mengakomodasikan situasi
sehingga tidak ada pihak-pihak yang dirugikan.
Saya sendiri lebih berorientasi kepada FUNGSI dari pada struktur, baik
waktu ataupun ruang. Kalau memang saya bisa mempunyai suatu fungsi yang
berguna bagi Undip kenapa harus mempersalahkan absensi (berapa waktu yang
saya sediakan) atau berada dimana saya. Apa bedanya kalau saya sekarang
ini berada disuatu ruangan di FK Undip atau di lab. saya di U of C
kalau misalnya sama-sama bisa berfungsi membaca research project dari
seseorang dari Undip dan memberikan sumbang dan saran saya. Demikian pula
kalau saya bisa merampungkan ketika akan dibutuhkan, jadi kurang relevan
untuk mempertanyakan apakah saya harus bekerja siang hari atau malam hari,
18 jam sehari atau 1 jam dalam sehari.
Keuntungan dengan saya tetap di U of C, adalah saya senantiasa bisa
menimba pengalaman dan mengembangkan research skill. Disini saya berada
dalam suatu research community yang baik. Saya punya kenalan professor-2
dengan kaliber international yang bisa saya manfaatkan sebagai reference.
Belum lagi segala fasilitas yang saya punyai disini baik mengenai
peralatan maupun research materials. Saya dan istri saya mempunyai cukup
banyak koleksi VECTORS, CELL LINES dan ANTIBODIES, monoclonals maupun
policlonals, diantaranya adalah buatan kami sendiri. Tidak menutup
kemungkinan untuk menerima student (S2) untuk bekerja dibawah
supevision kami di Lab kami disini. dst.
Semoga saja usul saya memperoleh tanggapan yang positif dari pihak
pimpinan Undip /FK Undip. Saya kirimkan surat ini secara terbuka adalah
disamping bisa memperoleh masukan-masukan dari pihak lain juga karena
situasi saya bisa menjadi precedent bagi staf yang lain.
Wassalam
Eko Raharjo
University of Calgary
Canada
> At 12:44 PM 1/26/01 -0800, Eko Raharjo wrote:
>
>> Pak Hadi dan kolega-2 di IKK FK Undip semua yang terhormat.
>>
>> SALAM KANGEN dari saya!
>>
>> Saya turut bergembira bahwa IKK telah bisa on-line 24 jam. Untuk
>> memudahkan komunikasi lebih lanjut saya ingin menginfornasikan
>> bahwa alamat e-mail saya bukan [EMAIL PROTECTED] melainkan
>> [EMAIL PROTECTED] (ada r sebelum j dan acs nya telah dihilangkan).
>>
>> Kapan saya pulang?
>> Pak Hadi, Sebenarnya saya tidak merasa pergi sebab rumah saya adalah
>> di planet bumi dan saya masih tetap disini, belum DUT (just guyon).
>>
>> Terima kasih atas pertanyaan anda, saya akan berusaha menjawab dengan
>> sejujurnya. Pertama-tama merupakan kepastian bahwa saya tidak mungkin
>> secara fisik pulang untuk kembali menjadi staf di FK Undip tanpa
>> memperoleh kesempatan untuk mengamalkan ilmu yang telah kami dapat
>> dengan memperoleh gaji selayaknya. Sebab jika saya mengalami lagi
>> situasi seperti saat saya pulang dari Jerman, hal tsb akan merugikan
>> semua pihak: pihak Undip, pihak masyarakat dan tentu saja pihak saya
>> pribadi. Bagi saya pribadi, yang akan mengalaminya langsung, situasi
>> tersebut tidak tertahankan. Situasi seperti itu adalah pengingkaran
>> dari nilai-nilai kemanusiaan saya. Dengan kata lain, saya PASTI secara
>> fisik akan kembali sebagai staf FK Undip jika telah terjadi perubahan-
>> perubahan2 substansial di FK Undip. Kedua, sesungguhnya bukan hal yang
>> mustahil dalam era teknologi komunikasi yang sedemikian maju untuk
>> tetap menjadi staf FK Undip namun secara fisik menjadi staf di Faculty
>> of Medicine, University of Calgary di Kanada seperti status saya dan
>> istri saya saat ini.
>>
>> Jadi pada prinsipnya saya tidak ingin semua pihak rugi!. Yang saya
>> inginkan adalah semua pihak untung, win - win situation. Tentu saja
>> dalam situasi yang belum jelas pertama-tama saya mengutamakan
>> tanggung jawab pribadi terlebih dahulu, yakni memperoleh nafkah yang
>> layak, mengembangkan ilmu yang telah saya dapat dan mengusahakan
>> pendidikan yang baik bagi keluarga. Hal inilah yang saya lakukan
>> sekarang ini. Saya yakin setiap orang yang berada dalam situasi
>> seperti saya alami, bila jujur, akan mengambil keputusan yang
>> sama. Syukurlah saya dan istri saya diberi kemampuan untuk bisa
>> memperoleh pekerjaan yang baik disini. Posisi saya adalah sebagai
>> Research Associate di bag Immunology dan istri saya sebagai Lab
>> Manager di bag Cell Biology di Faculty of Medicine, University of
>> Calgary. Saya yakin kalau pihak FK Undip memang menginginkan, semua
>> pihak (termasuk masyarakat) bisa menikmati win-win situation.
>> Perkara detail langkah konkritnya akan bisa dibicarakan kemudian.
>>
>> Saya tahu banyak orang yang salah mengerti terhadap sikap saya.
>> Ada orang yang menanggapi sikap JUJUR dari saya sebagai sikap
>> SOMBONG, arogant. Saya dapat memaklumi keterbatasan mereka dan
>> saya tidak merasa kuatir dengan prasangka mereka. Namun saya kuatir
>> apa bila saya tidak mampu bersikap jujur dan adil terhadap diri saya
>> keluarga dan masyarakat, sebab saya akan kehilangan kenikmatan hidup.
>> Menurut pengalaman saya bersikap jujur dan adil dalam memutuskan
>> jalan hidup itu amat membebaskan dan mendatangkan kenikmatan. Tentu
>> saja sebagai manusia saya jauh dari sempurna. Saya menyadari saya
>> bisa pula berbuat salah oleh karena itu saya amat menghargai suatu
>> dialog yang saling menghormat satu sama lain. Terus terang saya
>> tidak setuju dengan mentalitas yang dipraktekkan di Undip: bahwa
>> hanya yang diatas saja perlu dihormati sedangkan staf biasa tidak,
>> bahkan wajar untuk disepelekan, hanya yang diatas saja yang kariernya
>> penting, hanya yang diatas saja yang hak-haknya perlu diakui, yang
>> diatas saja yang nasibnya dan nasib KELUARGA nya penting oleh karena
>> itu segala macam fasilitas dan resources dari Undip dipakai untuk
>> menjamin kesuksesan mereka, sedangkan nasib staf biasa dan keluarganya
>> wallahualam.
>>
>> Saya menolak mentah-mentah suatu bentuk komunikasi dengan pejabat
>> Undip maupun pejabat pemerintah lainnya, dimana saya diwajibkan
>> menghormat mereka, mengakomodasikan kepentingan mereka sedangkan
>> mereka tidak memperdulikan hak-2 saya, tidak mengakomodasikan
>> keperluan saya dan tidak perduli masa depan saya. Misalnya Undip
>> menuntut stafnya untuk memberikan laporan yang teratur namun dari
>> pihak mereka tidak ada response (karena tidak pernah dibaca).
>> Apa gunanya?!. Disamping itu pihak Undip sendiri tidak pernah
>> sekalipun, apa lagi secara teratur, menginformasikan kepada saya
>> hal-hal yang sebagai staf saya berhak untuk tahu. (misalnya saya
>> tidak pernah diberi informasi ada program S2 yang berhubungan dengan
>> keilmuan saya). Kalau pihak Undip tidak menganggap saya penting, tidak
>> menganggap saya sebagai asset yang berharga, lalu dasar apa yang bisa
>> saya pakai untuk memberikan justifikasi untuk menjadi staf disana.
>> Demikian pula mereka menuntut saya pulang tetapi tanpa membicarakan
>> saya mau ditempatkan dimana, apa posisi dan tanggung jawab yang akan
>> diberikan kepada saya.
>>
>> Saya menyadari bahwa hal-hal semacam ini bukanlah menjadi problem
>> Undip semata melainkan sudah merupakan problem national. Jadi bukan
>> merupakan tanggung jawab Undip semata untuk perlu mengadakan reformasi
>> melainkan juga pihak pemerintah pusat dan seluruh jajarannnya. Namun
>> sebagai lembaga pendidikan tinggi sudah seyogyanya Undip memeloporinya.
>> Saya tahu bahwa perubahan yang substansial tidak akan bisa terjadi
>> dalam sehari atau dua hari tetapi perlu suatu usaha berkesinambungan
>> yang serius dengan disertai integritas yang tinggi. Tindakan saya
>> adalah mengikuti prinsip dasar dari problem solving (therapy) kalau
>> belum bisa menghilangkan kausanya paling tidak mencegah supaya tidak
>> terjadi kerusakan yang lebih lanjut. Saya dan keluarga menolak untuk
>> menjadi korban lebih lanjut terhadap sistem, struktur dan mentalitas
>> kolektif yang buruk (saya tidak mengarah ke individual) yang ada di
>> Indonesia. Saya tahu pula bahwa kebanyakan orang tidak bersikap
>> seperti saya melainkan bersedia menurut dan mengikuti situasi yang
>> ada untuk berperan menjadi korban yang baik, sambil berharap suatu
>> kali akan mendapat posisi diatas dan ganti menjadi perpetrator yang
>> jempolan. Saya tidak mau menjadi korban saya dan saya tidak mau pula
>> untuk menjadi pelaku. Saya harap orang lain mengikuti jejak saya
>> untuk berani menyetop rantai korban dan predator yang telah
>> menyebabkan bangsa dan negara Indonesia semakin menjadi kacau,
>> terbelakang, miskin dan nista ini.
>>
>>
>> Apakah saya sudah kaya?
>> Pak Hadi saya tidak pernah bercita-cita untuk menjadi kaya.
>> Sewaktu saya masih di IKK saya banyak belajar dari senior-2 saya,
>> pak Sofwan, dll, terutama mengenai filsafat hidup, antara lain:
>> wiji kelengkeng akan tumbuh menjadi pohon kelengkeng, wiji duwet
>> akan tumbuh menjadi pohon duwet. Saya tidak punya wiji sugih jadi
>> tak akan tumbuh sugih (he he he just kidding). Namun saya orang yang
>> percaya bahwa setiap manusia punya hak untuk hidup secara layak.
>> Sekali lagi saya bersyukur bahwa saya dan keluarga bisa hidup secara
>> layak disini. Kabar saya sekeluarga juga baik. Saya mengharap bahwa
>> kabar dari semua keluarga staf di IKK juga tidak kurang suatu apa.
>> Kami memutuskan untuk punya anak satu saja, sebab ini yang terbaik
>> untuk kami. Anak saya sekarang duduk di elementary school grade V.
>> Dia aktif di berbagai kegiatan olah raga (gymnastics), musik (piano)
>> dan sains. Tahun lalu ia memenangkan banyak perlombaan. Ia berada
>> dalam ranking pertama se propinsi Alberta untuk Gymnastics level I,
>> kategori umur 10. Tahun ini ia melejit masuk ke tingkat National,
>> High Performance, untuk kategori umur 10 tahun. Ia juga pernah dapat
>> scholarship di suatu festival piano di Calgary. Bulan Mei ini
>> dia akan ikut bertanding di suatu festival piano besar di Calgary.
>> Punya anak satu saja sudah menghabiskan semua cadangan energy yang
>> kami punyai. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya punya anak tiga
>> seperti pak Sofwan dan pak Maryono (dan ditambah lagi perkutut-2nya).
>>
>> Saya kira sementara ini sekian dulu. Mohon maaf kalau ada perkataan
>> yang kurang berkenan. E-mail ini saya cc kan ke [EMAIL PROTECTED],
>> jadi kalau oleh suatu hal tidak bisa diterima bisa dilihat di mailing
>> list Undip. Akir kata selamat tahun baru 2001 untuk semua.
>>
>> Wassalam,
>> Eko Raharjo
>
> ______________________________________________________________
>> From Budi Wiyono <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
> Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
>
______________________________________________________________
>From Eko Raharjo <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id