Semoga kutipan dari suara hidayatullah ini ada gunanya
buat rekan-rekan...

Cara CIA Mendanai Kampanye-kampanye Demokrasi 

Sebuah kantor baru dibentuk oleh Presiden Bush.
Tugasnya menangani kelompok-kelompok agama. Membungkam
dengan uang? Boleh jadi, dahulu pernah kok. 

Setengah abad yang lalu, saat Komunisme masih dianggap
musuh utama, Amerika Serikat mengeluarkan jutaan dolar
untuk mendukung berbagai kelompok yang pro padanya dan
anti pada musuhnya itu. Dewasa ini, musuh utamanya
kaum Islamis yang biasa diidentifikasi sebagai "Muslim
militan" atau"Muslim fundamentalis". 

Sadar akan siapa kawan siapa lawan, Geogre W Bush tak
mau membuang waktu. Tak lama sesudah pidato
pengambilan sumpahnya sebagai presiden baru, Bush
mengumumkan terbentuknya Kantor Urusan Kelompok Agama
dan Swadaya Masyarakat (White House Office of
Faith-Based and Community Inisiatives) yang langsung
berada di bawah kendali Gedung Putih. Menurut sebagian
pengamat, kantor ini potensial untuk membungkam
suara-suara lantang dan memecah belah
kelompok-kelompok agama. Caranya dengan membagi-bagi
uang kepada sebagian kelompok dan mengabaikan kelompok
lainnya. 

Cara ini terbukti ampuh di akhir tahun 1940-an, ketika
CIA (Central Intelligence Agency, Badan Intelijen
Pusat) melancarkan program pengacauan informasi
(disinformasi). Program ini melibatkan banyak sekali
lembaga swasta di Amerika. John Harwood, dalam sebuah
artikel di The Washington Post (26 Pebruari 1967) yang
berjudul "O What a Tangled Web the CIA Wove (Wah
Betapa Kusutnya Jaringan yang Dirajut CIA)". 

Harwood menulis, "Adalah tidak cukup bagi AS hanya
mempersenjatai para sekutunya, memperkuat
lembaga-lembaga pemerintah sekutunya, atau mendanai
perangkat-perangkat industri melalui berbagai program
ekonomi dan militer." Dia berpendapat, "para
cendekiawan, mahasiswa, pendidik, aktivis buruh,
wartawan dan kaum profesional harus direkrut secara
langsung melalui organisasi-organisasi swastanya." 

Artikel itu dilengkapi dengan sebuah diagram yang
menggambarkan bagaimana seharusnya menggunakan dana
untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dengan hasil
maksimal, lewat beberapa lapis penggunaan (lihat
diagram). 

Dana-dana rahasia pemerintah AS, yang jumlahnya
diperkirakan ratusan juta dolar, telah diberikan oleh
CIA kepada sejumlah yayasan yang digambarkan sebagai
lingkaran pertama yang paling dekat dengan badan
intelijen itu, di antaranya; Beacon Fund, Benjamin
Rosenthal Foundation, Independence Fund, Marshall
Fund, Robb Charitable Trust dan Rubicon Foundation.
Sebagian dari yayasan itu memiliki kegiatan utamanya
sendiri, sebagian yang lain betul-betul sepenuhnya
bekerja sebagai kakitangan CIA, seperti Vernon Fund. 

Yayasan-yayasan tersebut menyalurkan dana itu ke
berbagai organisasi swadaya masyarakat lainnya pada
lingkaran kedua. Kelompok ini di antaranya meliputi;
American Federation of State, County & Municipal
Employees, American Friends of the Middle East,
American Newspaper Guild, International Development
Foundation, Perhimpunan Pendidikan Nasional, dan
Perhimpunan Mahasiswa Nasional. Selangkah lebih jauh
dari sumber uang yang sesungguhnya, kelompok-kelompok
lingkaran kedua ini sudah sulit dihubungkan dengan
CIA. 

Berbagai kelompok dan organisasi pada lapisan kedua
inilah yang kemudian menyalurkan dana-dana rahasia itu
kepada lapisan berikutnya berupa kelompok-kelompok dan
pusat-pusat kajian yang sudah di-oke oleh CIA. Di
antara lapisan ketiga itu adalah Congress for Cultural
Freedom, Foreign News Service, Inc., Universitas
Harvard, International Committee of Jurists,
International Federation of Free Journalists (beberapa
tokoh wartawan Indonesia pernah menerima hadiah dan
uang dari organisasi ini), Radio Free Europe,
Universitas Southern California dan lain-lain.
Organisasi-organisasi di lapisan ketiga inilah yang
lalu secara bergantian menyalurkan dana kepada
tokoh-tokoh tertentu di berbagai belahan dunia. 

Dalam artikel itu, Harwood mencontohkan bagaimana
seorang tokoh tidak sekedar dibina, tapi juga terus
direkrut bahkan sampai menempati posisi tertinggi di
CIA. Allen Dulles, yang memimpin CIA di tahun 1950-an,
adalah seorang pengacara terkemuka yang dihasilkan
oleh firma hukum terkenal Sullivan & Cromwell di New
York. Dulles selalu memanfaatkan semua jaringannya
untuk kepentingan badan intelijen itu. "Ketika ia
memimpin CIA, bisnis dan semua rekanan hukumnya
digunakan habis-habisan agar CIA berhasil mencapai
tujuan-tujuan rahasianya," tulis Harwood. 

Kebanyakan yayasan yang mengabdi pada CIA sangat sadar
akan apa yang mereka lakukan. Namun para penerima uang
rahasia di lapisan terluar tak paham benar siapa
sesungguhnya donatur utamanya. Di antara mereka adalah
Perhimpunan Pendidikan Nasional dan para pemimpin
Perhimpunan Mahasiswa Nasional yang sama sekali tak
bisa membayangkan siapa sesungguhnya sumber-sumber
dana mereka. 

Ihwal pengucuran dana-dana rahasia ini, CIA tidak
beraksi tanpa dasar. Badan ini menganggap kebijakannya
itu "sejalan dengan kebijakan-kebijakan nasional yang
dikeluarkan oleh Dewan Keamanan Nasional sejak 1952
sampai 1954". Aksi-aksi dana rahasia CIA ini
mempermalukan pemerintahan AS saat terungkapnya sandal
Watergate di tahun 1970-an. 

Sebagai tindak lanjut hasil investigasi beberapa
komite yang dibentuk oleh Senat dan Parlemen waktu
itu, Kongres lalu memutuskan membentuk apa yang
disebut Pendanaan Nasional untuk Demokrasi (NED,
National Endowment for Democracy). Lembaga ini
nampaknya dibentuk untuk mendukung setiap lembaga
demokratik di seluruh dunia baik yang merupakan
swadaya masyarakat, maupun pemerintah. 

Mantan pejabat kementerian luar negeri AS William
Blum, yang menulis buku Rogue State: A Guide to the
World's Only Superpower, menjelaskan dalam sebuah
artikel, "Inti gagasannya, NED akan melakukan
operasi-operasi terbuka yang selama dilakukan CIA
secara tertutup, yang dengan begitu, diharapkan akan
menghapus stigma bahwa (setiap yang berkampanye
demokrasi) ada kaitannya dengan CIA." 

Allen Weinstein, yang juga ikut menyusun draft
pembentukan NED, menyatakan, "Banyak hal yang kita
lakukan sekarang telah dilakukan 25 tahun yang lalu
secara rahasia oleh CIA." 

Para penadah utama dana-dana dari NED ini di antaranya
Institut Republikan Internasional, Institut Demokratik
Nasional untuk Masalah Luar Negeri, Pusat Amerika
untuk Solidaritas Buruh Internasional, serta Pusat
Wirausaha Internasional (yang berafiliasi dengan KADIN
Amerika). 

Menurut Blum, lembaga-lembaga itu mengucurkan dana ke
banyak sekali organisasi yang tugasnya melakukan
intervensi ke urusan dalam negeri berbagai negara.
Caranya dengan memberikan dana segar, bantuan teknis
untuk mengembangkan lembaga-lembaga demokrasi,
pelatihan-pelatihan, materi-materi pendidikan, bahkan
sampai dalam bentuk barang seperti bantuan unit-unit
komputer, mesin faksimili, mesin foto-copy, kendaraan
bermotor, dan lain-lain. Sasaran utama penyaluran dana
itu adalah organisasi-organisasi politik, organisasi
massa, serikat-serikat buruh, gerakan-gerakan
pembangkangan, himpunan-himpunan mahasiswa,
penerbit-penerbit buku, koran-koran, media massa
lainnya, dan lembaga-lembaga sejenis. 

Pengamat strategis lainnya, Michael Dobbs menulis di
The Washington Post, "Bantuan bagi (kampanye)
demokrasi telah menjadi industri yang berkembang pesat
di AS." USAid (US Agency for International
Development) mengeluarkan dana sejumlah US$ 649 juta
untuk program "bantuan demokrasi" selama tahun 2000,
sebuah peningkatan yang luar biasa dibandingkan tahun
1991 yang jumlahnya US$ 165 juta. Adalah sangat masuk
akal kalau muncul dugaan bahwa para penasehat NED juga
terlibat dalam program-program USAid ini. 

Di Indonesia, bulan-bulan ini USAid sedang melancarkan
program pendampingan bagi Muspida tingkat I
(propinsi-propinsi) dan DPRD-DPRD tingkat propinsi
dalam proses otonomisasi daerah. Bisa dibayangkan,
betapa kuatnya pengaruh Amerika dalam pembentukan
Indonesia baru kelak. 

Dengan kata lain, badan-badan seperti USAid yang wajah
depannya merupakan bantuan pembangunan kini sudah
semakin terang-terangan menjalankan operasi-operasi
yang dahulu dijalankan secara rahasia oleh CIA. 

Dalam kerangka duit-menduit untuk demokrasi inilah,
Kantor Urusan Kelompok Agama dan Swadaya Masyarakat
yang dibentuk George Bush harus dicermati. Ada tiga
pertanyaan kunci yang harus dijawab: pertama,
bagaimana organisasi-organisasi penerima dana-dana itu
diseleksi oleh pemerintah AS?; kedua, bisakah
dana-dana ini digunakan untuk membungkam suara-suara
lantang dan mengadu domba kelompok-kelompok agama?;
yang terakhir, apa yang menjamin bahwa dana-dana itu
tak akan digunakan untuk tujuan kedua tadi? 

Seperti yang sudah terjadi di tahun 1967, apa yang
bisa diketahui masyarakat sangat sedikit dibandingkan
yang berjalan secara rahasia. 

Sumber: artikel Enver Masud "Aiding democracy
everywhere", www.twf.org, dan majalah IMPACT
International 

 
   
 
 


Copyright� Suara Hidayatullah, 2001
Design & webmaster: Syamsul Arief

 


=====
Taufan
__________________________________________________________
Get paid to search.....
Just click and sign up http://www.epilot.com/joinnow/referral.asp?friend=taufan

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Auctions - buy the things you want at great prices
http://auctions.yahoo.com/
______________________________________________________________
>From Taufan <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke