Nilai Kebenaran/Keburukan Adalah Universal dan Efeknya Global
*********************************************

Anda betul bahwa tidak bisa dibenarkan orang ribut soal Afganistan
namun tahi dipelupuk mata sendiri diabaikan. Orang hendaknya pula
mengurus perkara sendiri dengan lebih serius. Meskipun demikian
harap jangan lupa yang terjadi didalam negeri baik itu mengenai
perkara kemiskinan, ketidak adilan, korupsi, kekacauan ekonomi
dan politik adalah berhubungan erat dengan kejadian diluar negeri!

Senyatanya, sikap ketidak pedulian (ignorance) merupakan
penyakit mental masyarakat warisan  rezim Suharto yang terkenal
lekat dengan politik anti komunis barat dan penganut perekonomian
kapitalis ganas. Telah banyak saya singgung bahwa negara barat
terutama USA banyak turut campur dengan situasi dalam negeri
seperti Indonesia. Carilah jawaban kenapa setelah 50 tahun lebih
merdeka yang menumpuk justru adalah hutang negara! Pemerintah
barat meributkan cara hidup Taliban yang demi agama mengharuskan
kaum wanita untuk memakai hijab dan melarang segala macam
media entertainment radio, TV dsb, tetapi membiarkan saja rezim
korup Suharto yang policynya jelas-2 membikin sengsara rakyat
banyak. Sebab rezim Suharto amat kooperatif terhadap mereka.
Seandainya Taliban amat kooperatif terhadap USA apapun
perlakuan mereka terhadap kaum wanitanya mungkin tidak ada
yang menggubris.

Ketika belum ada perkara Taliban dan Indonesia masih "gemah
ripah loh jinawi" pada jaman orba, apa yang bung Heri keluhkan
mengenai kesusahan golongan rakyat kecil sesungguhnya sudah
ada secara sangat menyolok. Namun orang Indonesia pada
umumnya diam saja. Segala masalah cuma disapu dibawah karpet.
Rakyat kedung Ombo sengsara karena ulah pemerintah, apa respon
dari masyarakat dan kaum terpelajar?. Practically nothing! Saya dulu
bersama satu kelompok kecil menerobos penjagaan ABRI untuk
memberikan uluran tangan berupa pelayanan kesehatan kepada
pendduduk malang tsb. Untuk itu, terkadang saya harus tidur
ditengah hutan, menyebrangi waduk dengan hanya memakai pelepah
pisang dan menghadapi resiko lain seperti dipatuk ular berbisa.

Apa yang kaum kaya cendekia lakukan melihat kemiskinan berserakan
dimana-mana seperti yang terjadi pada masyarakat di lembah Code
Yogyakarta? Hanya Mangunwijaya alm (dan para volunteer) yang
perduli dengan kesusahan mereka. Saya sewaktu mahasiswa FK
UGMpernah tinggal satu tahun lebih di daerah tsb untuk sekedar
perduli dengan segala macam masalah yang mereka hadapi.
Antara lain saya harus memberanikan diri di tengah malam buta
seorang diri melindungi seorang wanita yang dihajar oleh suaminya
(seorang 'gali' yang ditakuti yang tidak segan-2 membacok orang
yang menentangnya), dst.

Kenapa banyak orang di Indonesia meskipun melihat ketidak adilan
dan ketimpangan didepan mereka namun bungkam saja. Pertama
karena itu tidak mengenai diri mereka. Asalkan urusan mereka sendiri
beres, ekonomi mereka lancar, hidup mereka enak, who cares other's
people bussiness! Kaum cendekiawan sendiri yang hidup
nya susah (misalnya dosen pada umumnya); kerja setengah mati
hanya mampu untuk membayar cicilan rumah dan mobil. Namun
tidak berani protes terhadap perlakuan tidak adil bahkan yang
menyangkut diri mereka sendiri. Ada yang berpikir bahwa dengan
bungkam terhadap kelaliman (mereka sering menyebutnya PRIHATIN)
suatu kali akan datang saatnya hidup mereka akan MULIA (dapat
ganjaran dari atasan karena telah bersikap sebagai YES MEN teladan).
Ada pula yang berpikir dengan protes nasib mereka malah akan
dibikin tambah celaka.

Masyarakat yang sehat tidak akan bungkam melihat ketidak adilan
baik itu yang terjadi di luar negeri ataupun didalam negeri, kelompok
lain ataupun kelompok sndiri, orang lain ataupun diri sendiri. Sebab
nilai kebenaran dan keburukan adalah universal dan efeknya adalah
global. Juga tidak akan takut akan resiko dan gertakan yang muncul
dalam mengupayakan perbaikan-2. Justru dengan melakukan protes
dan usulan perubahan sedini mungkin sebelum situasi menjadi runyam
seperti di Afganistan, akan menghindarkan adanya tindakan ekstrim
seperti terorisme. Saatnya sekarang ini perlu perubahan DASAR yang
GLOBAL.

Dengan sitausi seperti sekarang ini dengan hutang negara berkembang
yang menjerat leher dan sistem perekonomian dunia yang menguntungkan
negara maju dan sistem politik dan sosio-budaya dunia yang tidak memberi

kebebasan kepada negara-2 tertentu untuk menjalankan keyakinan sendiri,
melainkan harus pasrah untuk dicekoki kultur Holywood- Mc Donald,
coca-cola dst. ketentraman akan merupakan ilusi belaka. Orang-orang yang

diatas yang punya kuasa tidak pernah merasa keberatan dengan situasi
dunia
yang tidak tentram (wajar menurut mereka) sebab mereka selama ini
berpikir
bahwa mereka UNTOUCHABLE. Teror 11 September seyogyanya membuka mata
setiap orang bahwa siapa saja baik itu muslim radikal di Kabul, rakyat
kecil
yang menderita gagal ginjal di lembah Code maupun mereka yang di
Pentagon
sama-sama tidak aman dengan situasi ketidak adilan, kesewenang-wenangan
dan pemiskinan yang merajalela..

Eko Raharjo
Calgary


Semua orang di Indonesia ribut soal afghanistan...
sibuk melakukan demo anti produk amerika
tapi kok gak ada yang peduli
anak yatim yang kekurangan dana buat sekolah
anak jalanan yang harus mengais uang buat makan
pedagang kaki lima diseputar DKI jakarta dan beberapa daerah lain yang
dikejar-kejar kamtib sementara copet, rampoknya didiemin
gak ada yang peduli order produksi indonesia ke Jepang,Eropa dan US yang
dibatalkan akibat keraguan akan keamanan Indonesia
gak ada yang peduli gelombang ancaman PHK akibat beberapa perusahaan US
didemo dengan cara yang keterlaluan
gak ada yang peduli dengan peternak ayam yang kesulitan menjual
ternaknya karena banyak franchise US  yang pelanggannya berkurang dan
takut makan direstoran tersebut akibat demo yang kebablasan
gak ada yang peduli dolar naik akibat aksi demo anti amerika yang
berlebihan
gak ada yang peduli dengan pengusaha angkutan umum yang hanya punya 1-2
armada dimana mereka tercekik dengan harga spare part yang menggila
akibat dolar naik sementara pemerintah menekan  ongkos angkutan umum
tanpa bantuan subsidi....
gak ada yang peduli dengan tekanan yang akan menimpa bangsa ini pada
tahun 2004 nanti saat obligasi banyak yang jatuh tempo...
gak ada yang peduli kenaikan harga BBM dan Listrik yang naik tiap tahun
melebihi kenaikan pendapatan rata-rata masyarakat....
gak ada yang peduli para petani yang hasil buminya dijual dengan harga
pas-pasan dan sering kali dijual dibawah harga produksi, sementara
pupuknya dibeli dengan harga mahal karena ada komponen
importnya(sehingga tergantung dollar) dan modal kerjanya harus dicicil
dengan bunga tinggi.
gak ada yang peduli dengan kesehatan masyarakat yang makin buruk
kualitasnya.... bayangkan seadainya seorang dengan pendapatan perbulan
<Rp 1000.000,- tetapi menderita gagal ginjal.. berapa biaya yang harus
dikeluarkan dia untuk cuci darah...?(bila dolar makin naik... biaya cuci
darah akan makin naik)
gak ada yang peduli dengan harga minyak dunia yang jatuh ke US$17/barel
sementara anggaran kita defisit
gak ada yang peduli kalo cadangan minyak bumi primer kita sudah hampir
hampir hambis... 7-10 tahun lagi produksi minyak kita akan jatuh....
gak ada yang perduli tanda-tanda kehancuran bangsa ini sudah semakin
jelas...
gak ada yang mau ngurusin bangsanya sendiri.....
semuanya sibuk ngurusin Afghanistan....
sementara disatu sisi, rakyat Afghanistan sendiri saling berebut
kekuasaan...



HERI HERWANGGONO wrote:

>    Part 1.1Type: Plain Text (text/plain)


--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 195
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke