Teori Keruntuhan WTC Teknik Implosion Sebabkan "Pancakes Collapse"
JAKARTA-Kejanggalan tak ditemukannya mayat korban tragedi WTC masih berlanjut. Hingga Kamis (27/9) baru 233 jenazah ditemukan. Padahal di sana beraktivitas 40.000 orang pegawai dan dikunjungi hingga 150 ribu orang diwaktu jam sibuk. Sebuah teori konstruksi tentang keruntuhan WTC dari propagasi sebuah email--milik orang Indonesia, setidaknya dapat memberi gambaran logis tentang tak ditemukannya ribuan jenazah itu. Propagasi (perambatan) email milik seseorang bernama Moko Darjatmoko itu belakangan ini memang banyak mampir di boxmail sebagian kalangan. Termasuk Pesantren.net juga tak luput dari distribusi email tersebut. Sebenarnya email itu, seperti diakui sendiri oleh Moko kepada Pesantren.net lewat email-nya, hanya ditujukannya untuk diskusi terbatas di mailinglist alumni sipil ITB (kuyasipil@...). "Tapi seperti biasa, distribusi email di internet akan selalu diluar kontrol si penayang aslinya," jelas Moko yang kini tinggal Madison, Wisconsin, AS. Selengkapnya, email yang berisi analisa teknis Moko tentang bagaimana menara kembar WTC itu bisa roboh dan 'hilang'nya jenazah para penghuni gedung kembar itu, adalah : Menurut saya lantai 80 s/d lantai 85 mengalami kerusakan pada kolom bajanya. Setelah pesawat meledak terjadi kebakaran yang menyebabkan kolom-kolom baja leleh dan mengalami collapse makanya perlu waktu 1-2 jam untuk terjadi itu (collapse mechanism). Setelah itu lantai di atas lantai 85 runtuh. Lantai ini merupakan beban impact (beban impulsive/beban kejut) untuk lantai dibawahnya. Beban ini akan menaikkan besarnya beban mati dan beban hidup akibat efek dinamis yang melebihi dari faktor keamanan struktur sehingga kolom dibawahnya ikut runtuh. Demikian seterusnya sampai terjadi effek domino kebawah. Ini menurut saya mungkin kuya (alumnus ITB) lainnya lebih tahu. Memang itulah yang umumnya terjadi pada bangunan tinggi, satu lantai jatuh ke lantai di bawahnya, yang selanjutnya menjatuhi lantai di bawahnya lagi, dst. Sampai akhirnya semuanya menjadi tumpukan lantai di dasar bangunan. Fenomena ini dikenal sebagai "pancakes collapse." Tetapi yang terjadi di WTC ini agak lain. Waktu saya lihat bagaimana bangunan ini seolah "melorot" kebawah -jantung saya hampir copot. Benak saya mengatakan, inilah Implosion! (where the building will collapse into itself). Itu kata yang langsung muncul di kepala saya. Teknik implosion (lawannya explosion) inilah yang biasanya dipakai oleh para demolition specialists untuk meminimalkan menebarnya reruntuhan - yang bisa mengganggu keselamatan bangunan dan manusia disekitarnya (misalkan demolition yang dilakukan di urban area yang padat). Teknik ini diakukan dengan menempatkan bahan peledak (charge) di beberapa tempat strategis setelah mempelajari gaya-gaya yang bekerja di struktur (esensinya membiarkan "gravity" bekerja dengan sendirinya). Beberapa menit saya terpaku dengan keyakinan pasti ada bahan peladak yang secara profesional telah diletakkan di tempat-tempat strategis, sehingga runtuhnya begitu "rapih" seperti itu. Tetapi kemudian saya teringat bahwa struktur WTC ini agak istimewa--dan inilah yang menyebabkan belum ada preseden sebelumnya. Kalau pernah memperhatikan disana (struktur gedung WTC) , TIDAK ada kolom penyangga ditengahnya. Arsitek Minoru Yamasaki mendesign struktur ini dengan menempatkan bebannya pada "outer shell" yang berupa kerangka baja. Jadi struktur ini praktis mirip pipa raksasa dengan penampang bujur sangkar. Cukup kaku dan kuat mendukung beban lantai (beton bertulang) yang diteruskan kebawah lewat "kulit" pipa tadi, bahkan beban gempa, angin badai, maupun sesekali tumbukan pesawat (ingat tahun 1945 sebuah bomber B-25 pernah menabrak salah satu tower karena kabut tebal di Manhattan). Kalau sekedar tumbukan saja, walaupun lebih besar dan lebih kencang daripada insiden bomber 56 tahun sebelumnya itu, WTC tidak akan runtuh. Tetapi faktor lain lebih berpengaruh. Panas yang ditimbulkan oleh terbakarnya bahan bakar jet (24 ribu gallons full tank) akan menghasilkan temperature hingga 1000-2000 derajad. Struktur utama yang terdiri dari baja menjadi lemah, kalau tidak sampai meleleh - yang mengakibatkan runtuhnya lantai. Runtuhnya lantai ini "menarik" kolom baja kedalam (implosion) yang selanjutnya jatuh keatas lantai dibawahnya, diikuti kolom yang menyangganya kedalam, dst. Ini yang menyebabkan seolah-olah bangunan tersebut "tenggelam" kedalam tanah (in slow motion). Apa yang terjadi selanjutnya adalah kompresi yang luar biasa hebat (dan juga panas yang ditimbulkannya) dimana lantai beton menjadi hancur-lebur (pulverized). Ini yang menyebabkan hujan "debu" setebal 6 inci yang menyelimuti beberapa block sekitarnya. Pertanyaan yang sampai sekarang masih belum terjawab adalah: where have all those people gone? karena sampai saat ini paramedic bisa dibilang nganggur, menunggu korban atau jasad untuk diidentifikasi. Diperkirakan sekitar 20-30.000 manusia masih didalam ketika bnagunan tersebut kolaps - 6000 body bag yang sudah ada masih belum dipakai. And this is the scariest part...! Kalau beton yang begitu keras saja bisa lumat, bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan manusia yang terdiri dari darah-daging dan tulang ? Dugaan saya--I wish I am wrong-- mereka juga mengalami nasib yang sama dengan beton-beton itu. Lumat bersama, dan menjadi satu dengan beton (dan segala perabotan kantor) ! Tetapi dimana, kenapa seperti "tidak ada bekas" nya diantara reruntuhan yang sekarang mulai diangkati tersebut? Spekulasi saya, jasad mereka --dalam keadaan hancur lumat-- berada di dasar bangunan (basement), menjadi satu padat dengan butir-butir remukan beton. Ini terjadi karena pada waktu runtuh kedalam, reruntuhan tersebut mengalami semacam efek "liquefaction" dimana partikel yang kecil berada paling bawah, dan potongan yang lebih besar--seperti batang-batang baja-- menumpuk diatasnya. Teori di atas disebut juga dengan Gejala "Sorting". Bagian kecil di bawah yang besar di atas. Teori ini sudah well proven (ada matematical modelnya). Anda bisa melakukan eksperimen sendiri dengan menaruh kelereng dalam kolom pasir dalam botol atau tabung yang agak panjang, lalu kocok beberapa kali. Kelerengnya akan naik keatas (kadang "berlawanan dengan "logika" kita yang melihat kelereng lebih besar/berat, maka akan jatuh kebawah). Fenomena ini juga menjelaskan kenapa kalau kita beli "mixed nuts" dalam kaleng, kacang yang besar (misalnya Brazil nuts) kebanyakan berada diatas, dan kacang tanahnya turun kebawah - karena goncangan selama perjalanan. Kemudian efek "caving" yang seringkali menjadi tempat berlindung (kadang ada yang survive sampai 2 minggu) di dasar bangunan yang runtuh, kali ini kelihatannya tidak akan terjadi. Semuanya memadat didasar bangunan. Terus terang saya "tidak berani (tepatnya "tidak sampai hati") menulis "spekulasi" saya ini dalam bahasa Inggris. I don't have the heart to be the messenger of this bad (really bad) news to the thousands of families now still waiting and hoping to hear anything from their loved ones. Tetapi saya takut kalau dugaan saya ini menjadi kenyataan. Temperature retorik saat ini sudah begitu tinggi, dan "kenyataan" ini akan berfungsi sebagai "jet fuel" yang mempercepat tragedy 11 September kolaps menjadi krisis global. Oleh karena itu Be afraid ... be VERY afraid! Moko Seperti Nuclear Blast Saat dikonfirmasi Pesantren.net soal kemungkinan bahwa sama saja pekerjaan regu penyelamat itu sia-sia, Moko mengiyakannya. Kata Moko, dalam implosion tidak akan ada kemungkinan munculnya survivor. Dalam kondisi seperti itu tidak ada tempat untuk "mengelak." Sebab semua gaya bekerja kedalam, menggencet apapun yang ada. "Ada orang yang menggambarkan dahsyatnya gaya kompresi ini seperti "nuclear blast"." Tapi tentu saja sulit untuk membandingkannya dalam praktek, tetapi lantai yang terbuat dari beton bertulang itu hancur teremas menjadi debu,"papar Moko Darjatmoko yang saat ini tengah bekerja dan mendalami teknologi informasi. Awalnya Moko mengaku sangat tidak tega untuk menyetujui istilah "sia-sia." Katanya, dari berita-berita yang dilihatnya di saluran TV lokal AS, setiap hari ia melihat para sanak-keluarga korban berlalu-lalang di jalan sekitar tempat kejadian seperti orang linglung. "Mereka seperti berharap akan ada satu "miracle", tidak terbayang buat saya, untuk mengatakan sesuatu yang membunuh harapan mereka," tutur Moko. Lebih lanjut Moko menjelaskan sebagai orang yang pernah mempelajari dan paham akan struktur bangunan (teknik sipil), analisa diatas tidak terlalu rumit buatnya. "Teknik implosi, teknik ini biasa diapakai untuk menghancurkan bangunan secara efektif, membutuhkan paling sedikit lima tingkat, jadi kalau kelewat tinggi nabraknya kemungkinan bangunan masih berdiri tegak. Kalau tertalu rendah, runtuhnya akan "tumbang" seperti pohon, "jelas Moko. Menduga-duga tentang diketahuinya teknik ini oleh para teroris untuk menghancurkan WTC, Moko mengatakan boleh jadi kelompok teroris itu memang paham. "Mengapa tidak mungkin? Para "suspects" teroris ini rata-rata berpendidikan tinggi, tingkat college. Salah seorang suspect pembajak adalah arsitek. Bahkan bin Laden sendiri sekolahnya juga urusan bangunan, dia kan disiapkan mewarisi bisnis kontraktor bangunan oleh orangtuanya," kata Moko. Begitu pula tentang mengendalikan jumbo jet, lanjut Moko, itu adalah hal udah. Mengemudikan jumbo jet, kalau sudah berada di atas, tidak terlalu sulit. Seperti mengemudikan mobil. "Apalagi para tersangka ini diketahui telah melalui training sebagai pilot di sekolah terbang di Florida) kan?"n ===== Wassalammualaikum Wr. Wb. Taufan __________________________________________________________ Get paid to search..... Just click and sign up http://www.epilot.com/joinnow/referral.asp?friend=taufan __________________________________________________ Do You Yahoo!? Listen to your Yahoo! Mail messages from any phone. http://phone.yahoo.com -------------------------- Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 55 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
