SUATU MALAM DILEMBAH VENUS (II)
Sudah hampir setahun Rusdi tinggal di RT XXX lembah Venus namun ia masih dipenuhi teka-teki mengenai asal-usul wanita-2 disini; bagaimana asal mulanya sehingga mereka sampai bermukim diantara serakan batu nisan bekas pekuburan Cina. Sering Rusdi tergolek saja di atas 'amben'nya yang terbuat dari anyaman ban bekas tanpa bisa memejamkan matanya. Ia coba peras otaknya untuk memberi sense dari realita sekitarnya. Terkadang dalam keputus-asaannya ia ingin mempercayai saja desas-desus bahwa penduduk disini adalah aliens yang berasal dari far away galaxy called Nanaimo yang oleh karena suatu hal terperangkap di planet bumi tanpa bisa kembali. Meskipun berat beban kehidupan yang dipikul oleh wanita-2 disini, mereka selalu berusaha bersikap ramah dan senantiasa berwajah ceria. Lihatlah ibu Sarijem yang sore ini entah sudah berapa puluh kali mondar-mandir mengangkut pasir dan batu dari sungai Venus. Dengan ramah dan senyum tersungging ia menyapa Rusdi yang sedang menuju ke mbelik (sumber air untuk mandi). Bagi mereka yang pernah menyaksikan movie star Raquel Welch, kurang lebih seperti dia lah body ibu Sarijem. Tentu saja ibu Sarijem jauh lebih asri dan asli dibanding movie star manapun. Tidak ada unsur Si (Silikon MW: 28.1). sedikitpun ditubuh beliau. Wanita-2 yang berprofesi pelacur juga ramah dan santun, termasuk ibu Menik, pelacur emeritus yang masih nampak genit yang mempunyai tenant seorang penarik becak di pondoknya. Begitulah para wanita di lembah Venus sehari-hari dengan tabah dan penuh kepasrahan berusaha memintal benang-2 kehidupan. Adalah kaum lelakinya yang sering mencabik-cabik kembali setiap kali kehidupan disana mulai menampakkan bentuk keindahannya. Mata pencaharian kaum lelaki disini serba tidak jelas. Katanya ada yang berprofesi sebagai petugas keamanan, spekulan, pialang, dan budayawan. Sementereng apapun istilahnya, pada prakteknya mereka mengutip uang dengan cara-2 kurang halal seperti menjadi tukang peras, pim (germo), calo dan pengamen dengan cara-2 paksaan. Harus dicatat bahwa ada juga laki-2 kepala keluarga disini yang mencari nafkah secara halal seperti sebagai pemulung. Mereka itu meski dengan susah dan payah, berusaha berevolusi menuju kesuatu kehidupan kemanusiaan selayaknya dengan harga diri dan dignity. Namun kerasnya kehidupan dan efek dari pemiskinan struktural selalu menyebabkan mereka jatuh kembali ke lembah Venus. Di atas sana para pejabat pemerintah yang mengemban mandat untuk memberikan kemakmuran kepada rakyat tidak perduli dengan beban dan kesusahan dari penduduk di lembah Venus. Ndoro-2 republik tsb selalu sibuk melakukan self-service memperkaya diri sendiri. Bukan merupakan rahasia lagi bahwa mereka berkolusi dengan para konglomerat dalam menguras dana masyarakat dan menyelenggarakan monopoli perdagangan demi semakin memantabkan kekuasaan mereka. Kemanakah segala harta kekayaan yang mereka ambil?. Pada akhirnya semua mengalir keluar negeri! Apakah itu untuk foya-foya para pejabat dan keluarganya, membayar interest yang tinggi atau dalam bentuk capital flight yakni pemindahan asset perusahaan misalnya ke Hongkong atau mainland Cina. Sesungguhnyalah, banyak dari mereka adalah kriminal-2 kelas berat yang bertanggung jawab terhadap pemiskinan dan kesengsaraan rakyat banyak, namun di Indonesia mereka malah dianggap sebagai orang-2 yang berjasa terhadap bangsa dan negara. Di lembah Venus orang menyelenggarakan sistem perokonomian dengan menerapkan asas pemerataan. Para gali berotot kekar yang memperoleh income dari memeras toko-2 Cina, pedagang dipasar ataupun sopir angkutan membawa penghasilannya ke meja judi di suatu pos perondaan. Disanalah pemerataan pendapatan terjadi. Penarik becak seperti pak Giman yang mengidap asma, disaat penyakitnya kumat ia tetap punya chance untuk memperoleh nafkah dengan bermain kartu; tentu saja mengandaikan kalau hari itu ia masih punya untung. Perjudian tsb kurang lebih menggantikan fungsi kantor sosial pemerintah yang tidak pernah mampu memberikan social welfare cheques kepada warga negara miskin. Uang selanjutnya beredar ke warung-2 makanan setempat. Anak-anak tidak ketinggalan juga memperoleh bagiannya yang segera dijajakan ke warung panganan atau mainan. Semua uang yang beredar akhirnya bermuara kembali ke toko-2 Cina yang kemudian diambil kembali oleh para gali. Begitulah seterusnya siklus ekonomi disini berputar, tanpa kekuatiran adanya capital flight. Syahdan, demi menjamin pertumbuhan ekonomi, para dalang negara merasa perlu untuk meningkatkan kestabilan dan keamanan. Dideklarasikanlah perang melawan para kriminal. Semua bromocorah, gali, bandit, tukang peras, pencopet, pengutil, penjambret, maling, perampok picisan harus tumpas tanpa perlu melalui proses pengadilan. "Either you are with us or against us!" begitulah retorik pemerintah menjawab kritikan dari masyarakat. Kontan para tokoh kemanusiaan, kaum terpelajar, pastor, pendeta dan kyai pada bungkam semua. Malahan tidak sedikit yang berbalik memberikan support dan pujian terhadap tindakan play god tsb. Make no mistake, kali ini pemerintah benar-2 serius!. Selamet Gaplek adalah korban pertama tewas oleh berondongan peluru. Semenjak itu ribuan penjahat picisan telah dikirim ke akherat oleh Death Squad dari satuan ABRI. Mayat manusia membanjiri rumah- sakit-2 seantero negeri. Rusdi yang merupakan co-ass di FK UGM menjadi sibuk melakukan otopsi. Pihak kepolisian dapat diduga tidak memperkarakan tindakan homicide tsb. Masyarakat bersorak gembira mengelu-elukan ketegasan sikap pemerintah karena mereka membayangkan akan menikmati kehidupan yang penuh dengan keamanan dan kemakmuran. Sementera itu di sela-2 euphoria, ribuan istri dan anak-2 menangis secara diam karena telah kehilangan suami dan ayah. Mereka tahu bahwa suami dan ayah mereka tsb bukanlah orang-2 teladan namun merupakan satu-2nya orang yang care terhadap penghidupan mereka. Pemerintah yang sekarang dielu-elukan sebagai pahlawan selama ini tidak pernah berbuat apa-apa bahkan hanya memperberat kemiskinan yang mereka derita. Tiba-tiba dengan dalih meningkatkan keamanan, kemakmuran dan membela hak-2 wanita dan anak-2 pemerintah beraksi dengan jalan .............. membunuhi suami-2 dan ayah-2 mereka. Oh Allah masih adakah keadilan didunia ini?. Yogyakarta, 1983 Eko Raharjo [EMAIL PROTECTED] -------------------------- Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 219 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
