PEMBAURAN
***********
Eko Raharjo

Belum sampai guru matematik selesai menuliskan quiz di papan tulis,
Ceng sudah mengacungkan jarinya tinggi-2. Sesaat kemudian ia sudah
berada di depan papan tulis menjabarkan jawabannya; begitu asyiknya,
sampai-2 kepalanya yang mirip gandhen turut bergerak-gerak mengikuti
naik turunnya kapur tulis. Sret-sret dhok! demikian ia mengakhirinya
dengan memberi garis bawah dobel. "Yes!", sambut pak guru matematik
dengan berseri. Ulah Ceng membuat murid ranking satu dikelas III IPA
itu 'kriyep-2' resah dan nervous. Tetapi Ika Farika, murid ranking dua
tampak rileks bahkan di sudut mulutnya tersungging senyum kecil.
Murid-murid lain bereaksi biasa-biasa saja karena sudah hafal gaya
sang jago matematik, the sledgehammer-head Ceng.

Meskipun Cina dan orang tua WNA, Ceng sejak SD selalu sekolah di-
sekolahan negeri. Anak-anak Cina lain pada umumnya lebih suka
belajar di sekolahan Kristen atau Katolik karena disana mereka tiba-tiba

menjadi kelompok mayoritas. Suatu situasi semu namun amat disukai.
Di lingkungan sekolah negeri sebaliknya Ceng semakin menjadi minoritas.
Hanya ada beberapa gelintir murid Cina yang bersama-sama dia menjadi
murid di SMA negeri Dukus; bahkan sewaktu SD, hanya dia dan Ping,
engkohnya, yang merupakan murid Cina. Tetapi, bagi Ceng,
keminoritasan tsb justru merupakan berkah tersendiri karena telah
memberinya kesempatan tak terkira untuk mengenal dan beradaptasi
dengan anak-2 pribumi Indonesia tanah air barunya. Ternyata pula anak
bumi putera, pada umumnya gampang menerima anak imigran Cina
seperti dia sebagai teman.

Sore itu Ceng berada di rumahnya Wahid, anak dari keluarga santri
wiraswastawan yang tinggal di kota lama Dukus kulon untuk bersama-
sama mengerjakan tugas 'prakarya'. Ceng selalu kerasan berada di-
rumah Wahid, sebab ia sangat mengagumi rumah tradisional milik orang
tua wahid. Atapnya yang 'mencu' menjulang ke langit terlihat elok
dan anggun, ukir-ukiran pada pilar-pilar dan daun pintu begitu
rupawan, dan tata ruangnya terkesan decent dan nyaman. Disamping itu
Ceng juga amat terkesan dengan kebiasaan dan adat-istiadat Wahid
sekeluarga. Kecintaan mereka akan kebersihan dan kesehatan. Tata cara
makan mereka yang halus-tenang; berhenti sebelum sampai sangat
kenyang, dan tidak terdengar sekalipun suara 'geleghek' (serdawa).
Ceng agak malu kalau mengingat tata cara makan dilingkungannya.
Betapa para Theng-lang ciak dengan 'geragasan' seolah-olah tidak
pernah melihat nasi selama sebulan dan suara kecapan mulut mereka
terdengar dari jarak mana saja.

Sebenarnya kalau Ceng bisa lebih jujur, alasan utama kenapa dia
rajin bertandang dan kerasan di rumahnya Wahid tidak lain karena
rumah Ika Farika, yang masih kerabat Wahid, tepat berseberangan
dengan rumah wahid. Mata Ceng yang sipit dengan bulu mata yang
kaku-nyerodok seperti tirai sangat menguntungkan untuk secara diam-
diam dipakai mengamat-amati Ika. Saat-saat yang selalu ditunggunya
adalah bila Ika keluar ke halaman menyirami bunga-bunga. Kebetulan
saat itu Ika sedang keluar dengan menenteng ember siramnya. Sherrrr.
dengan penuh kasih sayang Ika membasahi satu-persatu tanam-tanaman
di halamannya. Oh betapa beruntungnya tanam-tanaman itu, demikian
lamunan puitis Ceng. Tanpa disadari Ceng telah mengusap kepalanya
yang hanya ditumbuhi rambut pendek kaku, mirip kaktus. Hanya pada
kesempatan seperti itu Ceng bisa berharap melihat Ika diluar waktu
sekolah. Sebab sebagai seorang yang dididik sebagai muslimat, Ika
tak akan mungkin 'kelayapan' di jalanan atau di toko-toko.

Mungkin hanya passionnya terhadap matematik yang bisa membuat
Ceng sejenak melupakan senyum kecil tertahan dari Ika, yang mampu
membuat rambut Ceng semakin kaku berdiri. Hobinya yang suka ngutak-
atik angka merupakan warisan engkongnya, kong Bun, yang suka ngramal
SDSB. Segala kemungkinan variasi soal sudah pernah dicobanya, oleh
karena itu ia tidak perlu berpikir sejenakpun untuk menjawab setiap
quiz yang diberikan di sekolahan. Hal lain yang menjadi kegemarannya
adalah melakukan "petualangan malam". Ceng sangat tergila-gila dengan
dunia malam. Mungkin karena pada malam hari banyak kehidupan yang
tadinya tidak kelihatan oleh karena tertutup keperkasaan sinar surya
menjadi muncul. Tidak akan pernah terlupakan ketika ia bermalam di
rumah Ruslan di desa Yapon yang terletak di lembah gunung Muria, di
malam yamg pekat itu ia berkesempatan menyaksikan jutaan bintang
dan kunang-kunang bertebaran menyatu. Oh indahnya...!
Banyak hal yang amat exciting yang hanya bisa dikerjakan pada malam
hari, seperti 'nyuloh kodok' (berburu katak), berburu kalong, melihat
burung beluk (hantu), sampai bersama-sama anak-anak mesjid keliling
kampung menabuh 'thong-thek' membangunkan umat Islam yang
bersahur pada bulan Ramadhan. Thong..thek.. thong..thek . sahuurr,
sahuurr,  sahuurrrr...! Tidak ada satupun orang merasa keberatan
dengan teriakannya yang beraksen Hokiauw tsb.

Ia, Wahid dan Ruslan berteman sangat karib bagai three musketeers.
Ibaratnya, dimana ada si gandhen-Ceng pasti ada si tambun Wahid
yang berkaca-mata tebal dan Ruslan si pendekar, pendek dan kekar.
Hari minggu itu  mereka bersepeda menuju kali Gelis, sungai yang
bermata air dari gunung Muria yang membelah kota Dukus menjadi dua,
kota lama Dukus kulon dan kota Dukus-wetan. Menurut kepercayaan
setempat  bagian lokasi sungai yang akan mereka tuju dihuni oleh
Banaspati dan Onggo-inggi, mahluk-mahluk halus yang tak segan-2
membelit dan menyeret orang-orang yang berenang disana ke relung-
relung tersembunyi. Tentu saja 'gugon-tuhon' tsb tidak membuat takut
mereka yang sekejab kemudian sudah asyik berenang hilir mudik
mempraktekkan teknik-2 renang kampungan.

Tanpa tersadari 7 anak setempat telah mendatangi mereka. Melihat
Ceng yang berpantat putih dan tidak bersunat, beberapa dari mereka
mulai mengejek. No-di-ding !, Cino wedi lading! - cina takut pisau
(bersunat). Karena tidak mendapat respons, mereka mulai melempar
lumpur kearah Ceng. Melihat gelagat yang semakin tidak baik itu,
Ceng mengajak Wahid dan Ruslan pulang. Tetapi Wahid menolak
mentah-2 demikian pula Ruslan. Ujar mereka: "jangan mundur dengan
bullyers macam mereka!". Perkelahian akhirnya tidak bisa dihindarkan.
Tiga lawan tujuh, tidak seimbang. Wahid lah yang paling menderita,
tanpa kaca mata dia tidak bisa membedakan antara pukulan dan lambaian.
Perkelahian baru berhenti setelah Ruslan, murid mumpuni dari padepokan
Muria, menggasak anak yang paling besar dengan jurus 'Jolo Rante'
sampai terkapar kesakitan di tanah. Ceng sungguh terharu atas pembelaan
Wahid, anak santri yang tak bisa berkelahi. Bengap-bengap dimata Wahid
yang minus 3,5, yang memang sudah terkesan 'mendholo' itu membuat
wajahnya semakin seperti ikan koki.

                  *********

Dengan rokok tetap terselip di bibirnya Bah Hiap, papahnya Ceng,
mengkomando  pegawainya menurunkan mesin 12 silinder Thames Trader.
Karena bah Hiap tidak punya garasi besar, semua itu dikerjakan di
pinggir jalan. Ia kadang-kadang jongkok, rebah dan nungging. Pada waktu
nungging, celana bah Hiap menjadi sedikit 'mlotrok' memperlihatkan
crena ani (celah dubur) nya. Ibu-ibu yang kebetulan lewat jadi tersipu-
sipu. Namun bagi anak-anak, situasi tsb merupakan hiburan tersendiri.
Bahkan dengan tertawa cekikikan dan jari menunjuk, mereka mengikuti
kemana dubur bah Hiap bergeser. Bah Hiap sendiri tidak perduli karena
sangat konsentrasi dengan pekerjaannya.  "Hiap, koh ! ayo ciak !",
teriak nyonyah Hiap ke 3 kalinya. Kali ini suaranya meninggi. Oleh
karena itu Bah Hiap tidak berani lagi mengulang jawaban klisenya "ntik
Lan, moy !". Ia berdiri, mengibas-ibaskan debu di pantatnya, dan
merapikan celananya. Sebelum dengan langkah terseret menuju ke pintu
rumah, bah Hiap dengan bergurau sempat menghardik anak-anak: " Bocah
bo ceng li, senengane silit !". Anak-2 dengan cekikikan lari
berhamburan....


Calgary 1996

Eko W Raharjo
([EMAIL PROTECTED])






--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 231
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke