PEMBAURAN II
************
Eko Raharjo


Bah Hiap dan nyah Hiap(terlahir Bun Cui Lan) adalah sejoli yang serasi.
Mereka mulai menjalin cinta kasih semasa sama-sama bekerja sebagai
pengawas di pabrik tekstil milik babah Ko Lu Sie, Cina asal Lasem.
Setiap istirahat siang, Cui Lan pasti sudah menanti Hiap Lun di bawah
pohon kersen dibelakang pabrik. Sebentar kemudian terlihat mereka asyik
berbincang-bincang sambil menikmati bakpao. Tawa Hiap Lun yang
terkekeh-kekeh sesekali menyelingi percakapan. Kebetulan pula mereka
adalah sama-sama penggemar roman silat saduran dari Cina. Favourit
mereka adalah klasik Sia Tiauw Eng Hiong dan Sin Tio Hiap Lu. Tetapi
roman yang lebih klasik seperti kisah Wan Lee Hwa dan Sie Teng San
(anak jendral Sie Jin Kui, siluman macan putih)juga amat mereka gemari.
Kebetulan pasangan Hiap Lun dan Bun Cui Lan mirip dengan sejoli
Teng San dan Wan Lee Hwa, si Panda polos dan si cerdik burung Hong.
Sejoli Hiap tidak lama bekerja pada perusahaan Ko Lu Sie karena 
sering mengalami konflik nurani. Mereka tidak bisa tahan terhadap
sikap dan kebijaksanaan perusahaan yang melulu memburu keuntungan
namun tidak menghiraukan kesejahteraan dan nasib buruh kecil. Akhirnya
mereka mengundurkan diri dan membuka usaha perbengkelan sendiri.

                        *********

Suara roket petasan menggelegar tiga kali di angkasa, tanda pasar
malam Dandangan telah secara resmi dibuka. Festival rakyat tersebut
diadakan setiap menjelang bulan Ramadhan dan berlangsung selama
seminggu. Selama itu pula muda-mudi kota Dukus memperoleh kesempatan
bersenang-senang menikmati pesta keramaian sebelum memulai ibadah
puasa, mendisiplinkan diri dari kungkungan nafsu-nafsu duniawi. 

Sudah satu jam Ceng berdiri didepan cermin berkutat dengan rambutnya
yang kaku tidak mau menurut.  Disisir miring tidak mau rebah; dibelah
tengah malah 'njegrak' seperti kipas. Mau tidak mau Ceng terpaksa
memakai pomade lavender cap Nona Manis milik Ping, yang super-pekat
berwarna hijau dan dikemas dalam kaleng berbentuk oval. Setelah tiga
kali olesan terlihat tanda-tanda rambutnya mau nurut. Ceng tersenyum
cerah. Dimain-mainkannya sejenak rambutnya dengan sisir sebelum
akhirnya diputuskan untuk menyisirnya kesamping kiri. Dari bayangan
cermin terlihat beberapa helai rambut di sekitar 'unyeng-unyeng' masih
pada berdiri. Tak soal, pikirnya, satu olesan lagi pasti beres! Celaka
dua belas ternyata pomadenya habis. Akhirnya Ceng berangkat ke pasar
malam dengan memakai topi di kepala.

Ceng menuju pasar malam dari arah utara sebab ia telah membuat janji
dengan Ruslan untuk bertemu di depan gedung Grand. Sampai disana
batang hidung Ruslan masih belum tampak. Aneh pikir Ceng, sebab
untuk keramaian seperti ini Ruslan tidak akan pernah datang terlambat.
Seketika Ceng tahu jawabnya. Dari halaman kabupaten terdengar tarikan
suara biduanita Luluk Junaedi menyanyikan irama 'ndang-ndut' "Surga-
Dunia". Ruslan memang amat kesengsem dengan biduan yang suka senyum
sambil menggigit bibir dan kedip-kedip mata tersebut. "Kudirayunya..
kudirayunya.. dengan kata-kata mesra..thang thang dhut! Kudipeluknya.
kudipeluknya.. dibawa ke surga dunia" suara Luluk terdengar mendayu-
dayu. Bersama itu pula hilang harapan Ceng untuk melewati malam
Dandangan bersama Ruslan, sobat kentalnya.

Dari arah Jl Kyai Te-ling-sing Ika menuju ke alun-alun tempat pasar
malam diadakan dengan langkah bergegas. Ia sungguh tidak sabar dengan
langkah santai Wahid saudara sepupunya yang malam itu berperan sebagai
body guardnya. Wahid seperti biasa memakai celana longgar mirip celana
Nabi dengan baju 'kokok' putih dan peci cap Gajah bertengger dengan
kerasan di kepalanya. Ika mengenakan long dress yang menutupi aurotnya
dan kerudung warna anggur yang serasi. Semakin mendekati alun-alun
hati Ika semakin berdebar dipenuhi dengan rasa excitement. Namun
sesampai disana, melihat begitu banyaknya manusia, hati Ika menjadi
keder. Kesenangannya untuk melihat-lihat segala macam kerajinan tangan
seperti porselain dan kain bordir, terganggu oleh banyaknya orang yang
lalu-lalang. Rasa senangnya menjadi lenyap samasekali ketika ia
mengikuti seorang dengan baju putih, berpeci dan berkaca mata yang
dikiranya Wahid ternyata Wan Abas, Arab 'konthet' penjual minyak wangi.
Ika celingukan kesana-kemari namun Wahid tidak tampak juga. Kakinya
dijinjitkan dan lehernya yang jenjang berusaha lebih dipanjangkan agar
dapat mengenali peci Wahid. Tetapi puluhan orang disana memakai peci
murahan serupa yang dipakai Wahid. Ika sudah hampir menangis, apalagi
segerombol anak muda yang nampaknya anak tangsi mulai bersuit-suit ke
arahnya. Ditengah keputus-asaannya, suara serak-serak basah yang amat
dikenalnya menyapanya���  Oh Ceng ! jerit  Ika penuh kegembiraan.

Bagaikan laksmana Ceng Ho yang sedang memperoleh kepercayaan memimpin
misi ke tanah seberang, Ceng berjalan tegap memandu Ika memutari
alun-alun untuk pulang ke rumah. Sampai di jembatan kali Gulis, Ceng
memutuskan berhenti dan menunggu Wahid disana.  Bulan 'ndadari' yang
bersinar dilangit membuat kali Gulis gemerlap indah-keemasan. Di latar
belakang berdiri nan megah Istana kembar jaman kejayaan pengusaha
pribumi Nitisumito mengingatkan akan kemegahan Tadj Mahal persembahan
dari Syah Jehan kepada kekasih tercinta Muntadj Mahal. Sesungguhnyalah
malam itu adalah malam yang amat romantis, namun kedua remaja itu
disibukkan oleh lamunannya sendiri-sendiri. Ika memikirkan kelanjutan
pendidikannya setelah selesai SMA pada akhir tahun ini. Ia amat
berkeinginan untuk masuk sekolah kedokteran. Dibayangkannya betapa
terhormat dan bergunanya ia kelak memiliki profesi mulia sebagai
Dokter. Namun kejadian yang baru saja dialaminya di pasar malam
menyebabkan ia kuatir jangan-jangan ia kelak mengalami disilusi.
Bagaimana kalau institusi pendidikan kedokteran yang diluar dikenal
sebagai instansi elite-terhormat ternyata dipenuhi oleh orang-orang
dengan mental anak jalanan yang suka 'take advantage' terhadap gadis
hijau tak berpengalaman, yang serba kebingungan menghadapi suasana
yang serba baru?!.

Berbeda dengan Ika, Ceng tidak melamunkan masa depan sebab sejauh ia
merenung, ia tidak pernah punya cita-cita yang besar kecuali cita-cita
menjadi pengantin seperti yang menjadi impian anak-anak kampung pada
umumnya. Oleh karena itu Ceng lebih merenungkan realita kehidupan
dimana sebagai anak Cina ia sering mengalami sikap hostile dari anak-
anak pribumi. Itulah sebabnya ia memutuskan untuk tidak mengantarkan
Ika sampai ke rumahnya. Wilayah seberang jembatan adalah daerah Dukus
Kulon dimana terkenal sebagai daerah Muslim yang amat konservatif yang
tidak bisa menerima seorang Cina non Muslim berjalan bersama dengan
seorang Muslimah apapun alasannya. Daerah Dukus Wetan dimana ia tinggal
adalah wilayah yang dijejali oleh segala kemajuan dan kemodernan jaman,
mulai dari pertokoan elektronik, dealer mobil, shopping center sampai
gedung bioskop, yang 'nota bene' kesemuanya dimiliki oleh etnis Cina.
Masyarakat disana tidak asing lagi dengan lifestyle masyarakat kota
besar seperti Jakarta, Hongkong, New York, yang mereka kenal melalui
filem-filem bioskop.   

Angin malam berhembus dari puncak Muria menuruni lereng-lereng 
membawa udara dingin ke kota-kota di bawahnya. Dua remaja tersebut
tersadar bahwa mereka telah terhanyut dalam kebekuan malam. Namun
diantara mereka tidak ada yang punya keberanian untuk memecah dengan
pembicaraan. Dalam situasi sangat 'akward' tersebut, Wahid muncul
dengan senyum cerah dan muka innocent seperti biasanya. Kedua tangan
dan kantong celananya dipenuhi oleh barang-barang dari pasar malam,
layaknya seperti seorang tentara menang perang pulang membawa barang
rampasan. Tangan kanannya menenteng 'celengan' dari tanah liat dengan
ukuran besar, tangan kirinya menggenggam kaleng berisi obat penumbuh
kumis dan 6 butir telur asin warna-warni berada di kedua saku
celananya. Wahid benar-benar menikmati kemenangan ketika berhasil
memaksa Ika dan Ceng untuk menerima masing-masing 2 butir telur asin.
Lepas dari tingkah lakunya yang menjengkelkan, kedatangan Wahid
membawa kehangatan yang mampu melelehkan dua gunung es. Sebentar
kemudian mereka ramai terlibat dalam percakapan. Sebelum berpisah
Ika mengucapkan terima kasih kepada Ceng sambil memberikan seuntai
kalung terbuat dari biji Dali.

Malam itu dalam tidurnya, Ceng bermimpi cita-cita masa kecilnya
menjadi pengantin..... mengalami kenyataan���.
  
Calgary 1996
Eko Raharjo
[EMAIL PROTECTED]

--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 247
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke