Pak Ibnu karena anda menyebut mengenai Yusuf Henuk
saya jadi teringat ybs marah-marah bagai kebakaran
jenggot kepada saya karena postingnya yang sengak
seperti biasanya saya tanggapi seperti ini.

>From : Eko W Raharjo
To: [EMAIL PROTECTED]

Bung Yusuf Henuk memakai pengalaman pergaulannya dengan umat Islam
untuk menarik kesimpulan mengenai sikap dan mentalitas umat Islam,
sayangnya kualitas pergaulannya dengan umat Islam sendiri adalah
amat dangkal - serba superficial. Pihaknya sendiri bahkan terkesan
arogant, egocentris, penuh prejudice. Saya kira manfaat tulisan tsb
bukannya untuk menilai sikap dan mentalitas umat Islam melainkan
untuk menilai sikap dan mentalitas seorang Kristen terhadap teman
sekolah, tetangga dan rekan kerjanya yang Muslim.

Bung Henuk mengaku sebagai Kristen namun tercermin kuat bahwa yang
bersangkutan lebih bangga dikenal sebagai tukang pemakan daging babi
dan anjing dari pada sebagai seorang pengikut Yesus yang lembut
dan rendah hati. Begitu pongahnya ia terhadap babi seolah-olah babi
adalah makanan paling sehat dan bergizi. Dalam agama Kristen tidak
ada anjuran untuk makan babi. Sementara itu Islam memerintahkan
umatnya untuk tidak memakan daging babi. Jadi kalau umat Islam tidak
makan daging babi itu bukan karena sok bergaya melainkan suatu usaha
serius untuk setia kepada agamanya. Dalam masyarakat barat yang bukan
Muslim sendiri, semakin banyak orang yang mengurangi atau menyetop
sama sekali konsumsi daging babi atau daging binatang lainnya karena
alasan kesehatan dan moral.

Masyarakat barat pada umumnya menganggap seorang pemakan anjing
sebagai biadab. Kalau mereka tidak mengatakan langsung dimuka itu
hanya orang sini masih mau menjaga perasaan orang. Kalau tidak biadab,
ya dianggap sebagai orang yang berasal dari daerah yang senantiasa
dilanda famine sehingga tidak ada makanan layak lainnya yang bisa
dimakan. Disini anjing sudah merupakan bagian erat dari komuniti
manusia. Bahkan tidak sedikit yang menganggap anjing bagai anggota
keluarga sendiri, sehingga ada orang yang menangis apabila anjingnya
mati. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana tanggapan mereka terhadap
seorang Yusuf Henuk yang amat membanggakan diri sebagai pemakan anjing?

Dari mata kepala saya sendiri dan beberapa saksi mata lainnya cara
orang membunuh anjing untuk dijadikan santapan adalah benar-2 biadab.
Sudah bukan rahasia pula bahwa tidak sedikit anjing untuk santapan
diperoleh dari pasar gelap, antara lain dari hasil curian. Satu atau
dua anjing dari keluarga saya yang dicuri orang kemungkinan besar
berakhir di perut para pemakan anjing seperti bung Jusuf henuk ini.
Saya ragu bahwa bung Yusuf Henuk pernah membayangkan bagaimana
perasaan orang yang anjing kesayangannya dicuri dan dibantai secara
biadab?. Saya yakin pula bahwa ybs tidak pernah berpikir mengenai
psikologi anjing yang sudah terbiasa disayang manusia, namun oleh
manusia pula ia dibantai? Tahukah dia bahwa tidak ada satu instansi
pun yang menguji kesehatan dari anjing-2 yang telah disantapnya?

Orang dengan situasi bung Henuk tetapi masih ada yang mau berteman
mestinya ybs bersyukur akan kemurahan Tuhan. Tidak malah menyalahkan
pihak lain sebagai yang kurang friendly, kurang melayani atau munafik.
Mungkin ybs baru insyaf kalau sudah ketemu dengan kelompok animal
rights disini. Atau mungkin saja bung Henuk hanya spesial membanggakan
diri sebagai pemakan babi dan anjing didepan teman-teman sebangsa dan
negaranya yang Islam sebab dari sana ia memperoleh kenikmatan yang
terkira. Dalam hal ini, saya menyarankan bung Henuk sendiri untuk
segera diperiksa kesehatannya.

Eko W Raharjo
[EMAIL PROTECTED]

> Teman-teman [EMAIL PROTECTED] semua,

> Sehubungan dengan  lagi  hangat-hangat  diperbedatkannya
> kata  "SYARIAT" yang menjadi  kata  sakti  bagi  mayoritas
> umat  Islam di Indonesia dalam ST MPR 2000  oleh  semua
> fraksi di MPR,   saya ingin menyelipkan sedikit  pengalaman
> pribadi   saya  yang  diberi nama panggilan pertama: YUSUF
> oleh   orang   tua saya 'tukang makan daging babi dan anjing'
> ("RW")  dari Tanah   Timor,  ketika   saya berada di beberapa
> tempat:
>
> (1). JAWA: - Ketika saya berada di Jawa, banyak orang Jawa
>       yang  mengaku  beragama  Islam  sangat ramah  dengan
>       saya ketika   saya   memperkenalkan nama saya  disaat
>       saya  berbelanja   dan   tawar-menawar   barang    jualan,
>       mencari tempat  penginapan yang murah  dan bahkan di-
>       antar-jemput   oleh   tukang  becak masuk-keluar tempat
>       penginapan murah.
>
>       Sebaliknya,  ada  beberapa   teman  dekat ISLAM  dari Jawa
>       berusaha   tidak berteman  dengan saya  ketika  mereka me-
>       lihat saya ke GEREJA dan berteman dengan sesama teman
>       saya dari Batak Karo pemakan 'BPK' (Babi  Panggang Karo')
>       kegemaran saya. Sedangkan, teman-teman saya yang meng-
>       aku beragama   Islam   yang   berasal    dari   luar Jawa tetap
>       berteman   dengan   saya    tanpa    mempersoalkan/memper-
>       masalahkan saya makan 'pork' atau makan pakai 'fork'.
>
>       Sayapun terus berpikir bahwa: "ISLAM JAWA LEBIH FANATIK
>       SEKALI  JIKA    DIBANDING   DENGAN  ISLAM LUAR JAWA.
>       Bahkan orang Islam  dari/asal  Jawa  dipindahkan ke luar Jawa
>       dalam   rangka   tugas  negara, "KEBAIKAN  MEREKA MINTA
>       AMPUN",  tetapi   setelah   kembali   ke   Jawa,  "KE'JIHAT'AN
>       MEREKA JUGA MINTA AMPUN."
>
> (2). LUAR NEGERI: - Ketika tiba pertama di luar negeri dalam rangka
>       sekolah, saya disambut dengan begitu hangat oleh teman-teman
>       Islam asal Indonesia, tetapi lama-lama keadaannya sama seperti
>       ketika  saya   di   Jawa.   Apalagi,  mayoritas orang Indonesia
di
>       sekolah  saya  mengaku   beragama Islam,   berasal   dari  Jawa.

>       Sedangkan, saya hanya bisa leluasa berkumpul  dengan   teman-
>       teman   Indonesia   asal   Bali,   penggemar  berat  "Babi
Guling".
>       Kamipun pernah   berikrar sendiri   mendirikan  organisasi
"ICMI"
>       tandingan ("Ikatan Cendikiawan   Minoritas   Indonesia")  di
saat
>       Ikatan  Cendikiawan   Muslim   Indonesia   (ICMI)  lagi  di
promosi
>       besar-besaran di luar negeri oleh antek-anteknya.
>
>       Selanjutnya, sayapun  selalu   ditanya   oleh  teman-teman Islam

>       bukan asal  Indonesia setiap Jum'atan: "Yusuf, why don't  you go

>       to Mosgue?   Saya   selalu  jawab: "I am sorry, I always eat
pork!.
>
>       Sebagai tambahan, teman sayapun  yang bernama depan HERMAN
>       ketika ditugaskan  ke   suatu    tempat   yang   mayoritas
beragama
>       Islam, menyingkat   namanya  menjadi H. ditambah nama marganya,
>       waduh .....penyambutannya   luar   biasa ketika tiba dan selama
me-
>       laksanakan tugas, karena di kira HAJI. Tetapi tanpa
disangka-sangka,
>       kalung salibnya terlihat  ketika dia  mengikat  tali
sepatunya   disaat
>       mau kembali, PANITIA DAN HADIRIN BINGUNG SETENGAH MATI!.
>
> Singkatnya, Janganlah kita-kita yang  mengaku beragama  hanya menun-
> jukkan KEBAIKAN kita kepada sesama kita berdasarkan NAMA dan gelar
> HAJI  yang  bisa didapat dengan  begitu  mudah  kalau  punya   duit
dan
> dapat   berkesempatan untuk  kunjungi Tanah ARAB,  karena  "DUNIA INI
> PANGGUNG SANDIWARA"  (Ahmad Albar). Buktinya: siapa bisa sangka
> H.M. SOEHARTO yang sudah pulang-balik Tanah Arab dan bahkan sudah
> bergelar HAJI  plus nama  MUHAMMAD, tetapi   masih    dengan    begitu

> serakah mau menerima gelar: "BAPAK KORUPSI  INDONESIA."
>
>
> Salam Indonesia,
>
>
> Yusuf L. Henuk
>


--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 635
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke