Saya tergoda dengan joke "Piano di gereja nggak pernah ilang..."
jadi saya coba kasak-kusuk, ternyata nggak juga tuh.  Ternyata betul
Mas Eko, piano itu nggak raib karena di gembok dan dirantai, atau
gerejanya yang dikunci rapat.  Sebuah kasus (kalau mau memeriksa
datang ke GPIB Pniel di daerah Sunter, Jakarta Utara, naik metro mini
U24 dari Tanjung Priok, lalu turun Jembatan Salam), gereja itu dari kayu
dan pagar yang masih setengah jadi, mereka pernah kehilangan piano
dan beberapa barang berharga lainnya.

Jadi ucapan bahwa kejahatan terjadi bila keinginan bertemu dengan
kesempatan adalah tepat.  Tanpa ada kesempatan orang paling jahat
sekalipun tidak akan melakukannya, kecuali dia gila, karena penjahat
rata-rata bermotif ekonomi dan ingin foya-foya.  Dan siapa bilang
penjahat nggak takut mati.  Sebaliknya kalau memang tidak ada keinginan
biar kesempatan terbuka lebar ya nggak akan terjadi apa-apa, tetapi
ini jarang dan siapa yang bisa meraba keinginan orang?  Jadi yg bisa
dikendalikan coba meminimalisasi kesempatan.

Kembali soal sandal, ya taruh di penitipan sandal, aman sekaligus
memberi sumbangan ala kadarnya kepada si penyelenggara penitipan
sandal.  Atau beli kantong sandal (kalau yg biasanya shalat di Istiqlal
pasti
sering menemui anak2 atau ibu2 yg menawarkan kantong ini).  Salah
satu cara meminimalisasi kesempatan.

Satu lagi, kadang2 sandal itu tertendang orang2 yang berbondong2
keluar masjid sehingga lenyap, lalu oleh yg punya sandal dikira dicolong
orang,
padahal hilang terbuang nyebur got.

Salam,
Benny

----- Original Message -----
From: Eko W Raharjo <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, September 13, 2002 2:29 AM
Subject: Re: [UNDIP] Berjualan di Masjid tanpa Ditunggui. Sejauh Mana
Keamanannya?


>
> [EMAIL PROTECTED] wrote:
> > Seringkali kita merasa pesimis jika melihat
> > realita masyarakat Muslim di sekitar kita tidak seindah apa
> > yang ada di negeri-2 yang notabene bukan negara muslim. Yang
> > seharusnya kita cermati adalah mengapa dan bagaimana sikap
> > positif ini bisa terbentuk?metode apa yang digunakan untuk
> > membentuk masyarakat yang demikian?
> ***********************************************
>
> Eko Raharjo:
> Yang namanya REALITA itu selalu terdiri dari baik dan buruk,
> indah dan ugly, tidak perduli di masyarakat barat atau timur
> Muslim atau non Muslim. Adalah keliru kalau melihat bahwa
> kehidupan di barat (non Muslim) baik melulu. Cuma bedanya,
> masyarakat barat terus maju dengan masalah dan tantangan BARU,
> masyarakat Indonesia berkutet dengan masalah itu-itu saja dan
> yang seharusnya tidak perlu terjadi.
>
> Perkara pencurian sandal di Mesjid, orang harus melihat
> realita baik-baik. Apakah bukan karena masih ada kelompok
> masyarakat yang tidak mampu membeli sandal? Kalau memang
> demikian, masyarakat harus responsive terhadap kebutuhan
> kaum kecil dilingkungan yakni dengan gerakan donasi sandal
> di mesjid-mesjid. Hal yang sama dilakukan disini, setiap
> mau memasuki musim Winter selalu ada aksi Jacket Racket,
> dimana masyarakat mengumpulkan donasi jackets, coats dst
> untuk the needy. Jadi tidak ada hubungannya sama sekali
> dengan perkara dosa. Kalau ada yang berdosa itu adalah
> justru pihak masyarakat mampu namun ignorant terhadap
> kebutuhan kelompok yang tidak mampu.
>
> Saya mengamati banyak orang Muslim yang belum berusaha
> mikir sudah merasa minder: "Di mesjid sandal jepit di
> tilap sedangkan di gereja piano dan organ selalu ada".
> Let me explain, kalau gereja tidak dikunci saya tanggung itu
> barang pasti kabur. Kalau pengin tidak kehilangan sandal
> japit, ya gembok saja (dan dikalungkan keleher). Tentu saja
> ruginya sembahyang jadi tidak khidmat. Gereja di gembok
> ada juga ruginya yakni bisa disalah gunakan untuk perbuatan
> mesum dari Pastor pemilik gereja. Saya tidak ngarang!. Banyak
> bukti dan alegasi mengenai hal ini. Poin saya, mesjid tidak
> perlu dibandingkan dengan gereja.
>
> Juga kita tidak perlu obsessive membandingkan dinamika
> masyarakat diluar negeri dengan di tanah air. Mengapa
> disini banyak jualan TANPA ditunggui termasuk juga di
> gas station (pompa bensin), sebab kebanyakan orang pada
> sibuk dan tenaga kerja mahal! Di Indonesia dimana banyak
> orang nganggur kenapa sok tiru-tiru masyarakat disini,
> kan lebih baik kasih kerjaan itu orang, atau berilah
> kesempatan untuk bervolunteer.
>
> Marilah pakai common sense, apa gunanya PAMER
> atau punya impian bahwa masyarakt Muslim hendaknya
> jujur,  menuntut kalau ada makanan di meja yang bukan
> miliknya meskipun perut lapar dan kantong kosong (atau
> ada tapi untuk bayar uang pangkal sekolah) sebaiknya
> dipandangi saja itu makanan. Ini namanya menyiksa orang!
> dan justru tidak islami. Dalam masyarakat barat (non
> Islam) pun tidak kurang copet, maling, gentho dst.
> Namun bedanya masyarakat disini pakai common sense
> dan hukum benar-benar ditegakkan.
>
> Akhir kata, syah-syah saja bermimpi mengenai surga
> namun selesaikan dulu perkara dunia. Kurang masuk akal
> kalau berkotbah mengenai kejujuran sementara itu
> kita tidak perduli terhadap kemiskinan orang.
> Juga kurang etis untuk bicara soal dosa dengan
> orang yang kelaparan.
>
> Wassalam,
> Eko Raharjo
>
> ---------------------------------------------------------------------
> Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
> to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #112
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id
>
>
>


---------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #119
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke