Ini berasal dari roman kuno Cina "Kisah Tiga Kerajaan"
yang posisinya di tanah Tiongkok seperti kisah Pandawa dan Kurawa
di tanah Jawa.
Benar nggak?


----- Original Message ----- 
From: Eko W Raharjo <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, September 12, 2002 6:52 AM
Subject: [UNDIP] "The Emperor And The Assasin"


> 
> "The Emperor And The Assasin"
> ****************************
> Eko W Raharjo
> 
> King Ying Zheng adalah penguasa dari kerajaan Qin yang mempunyai
> obsesi untuk mempersatukan semua kerajaan di kolong langit. Rakyat
> dari berbagai bangsa akan hidup dengan aman dan santosa dibawah
> imperium Qin, dan pertumpahan darah yang berkepanjangan akan
> berakhir karena tidak akan ada lagi kerajaan-kerajaan kecil yang
> saling berperang satu sama lain, demikian ide mulianya. Kerajaan
> Han telah bertekuk lutut di hadapannya. Langkah berikutnya adalah
> memerangi kerajaan Yang. Hanya, ia memerlukan suatu alasan yang
> kuat agar terhindar dari kecaman atau lebih buruk lagi seluruh
> kerajaan lainnya bisa-bisa bersatu melawan dia.
> 
> Bersama lady Zhao, kekasihnya, ia merancang suatu plot yang membuat
> penguasa kerajaan Yang mengirim seorang assasin untuk membunuhnya.
> Termasuk suatu set up yang memungkinkan seorang assasin bersenjata
> bisa menerobos pengawalan militer dari kerajaan Qin yang perkasa
> sampai ke jantung istana. Pada akhirnya tercapailah impian King
> dalam membangun suatu imperium dengan dia sebagai emperornya.
> Namun, tidak dengan cara menghindarkan pertumpahan darah seperti
> yang ia janjikan, melainkan dengan cara-cara yang keji dan biadab.
> Ketika mengalahkan kerajaan Zhao, desa demi desa dilibas habis.
> Perang juga membuahkan ketakutan. King Ying Zheng takut kalau kelak
> dikemudian hari anak-anak bangsa Zhao akan membalas dendam. Maka
> dikumpulkannya semua anak-anak Zhao yang masih tersisa untuk
> dikubur hidup-hidup. Sebagai emperor, King Ying Zheng telah
> mendapatkan semua power yang diinginkannya, ironisnya ia menjadi
> terasing sendiri; jendralnya yang paling perkasa meninggalkannya,
> ibunya meludahi mukanya dan lady Zhao kekasihnya mengutuknya.
> Kedamaian dan kesentosaan yang dijanjikan tak kunjung tercapai.
> 
> The Emperor And The Assasin adalah cerita fiksi yang difilemkan
> dengan dibintangi oleh aktor-2 jempolan seperti Gong Li. Mungkinkah
> hal seperti diatas terjadi dalam dunia nyata?, dimana penguasa dari
> suatu negara berambisi menyatukan dunia dibawah satu order dan satu
> civilisasi? Kalau hal semacam itu ada, kiranya hanya penguasa USA
> yang mampu melaksanakannya. Setelah Sovyet Union berantakan dan
> Pakta Warsawa bubar, maka USA merupakan satu-satunya negara super
> power di kolong langit. Tidak ada lagi ideologi besar seperti
> komunisme yang sanggup mengancam kapitalisme barat. Namun satu hal
> yang masih merupakan kerikil tajam yang mengganggu langkah dan
> kebijaksanaan dari USA yakni Islam radikal. Berbagai negara Islam
> tidak mengindahkan prinsip-prinsip demokrasi dan kebebasan yang
> dianut oleh masyrakat barat. Negara Islam dan kelompok Muslim radikal
> ini bahkan dianggap sebagai pendukung dan penebar gerakan terorisme
> yang terang-terangan menantang langkah dan kebijaksanaan USA. Di mass
> media semakin banyak tulisan yang muncul yang menggambarkan Islam
> sebagai suatu civilisasi yang membuahkan kekerasan dan radikalisme
> yang mengancam eksistensi dari Western civilization.
> 
> Bagaimanapun situasinya, mungkinkah seorang penguasa dari suatu
> negara bisa sedemikian berdarah dingin untuk membuat plot mengundang
> kelompok teroris untuk masuk ke negaranya dan mengekspose rakyat
> yang tidak berdosa dengan resiko besar demi memperoleh legitimasi
> untuk memerangi negara-negara yang menjadi musuhnya? Tidak dapat
> dibantah bahwa serangan teror di bumi Amerika pada September 11
> tahun lalu merupakan tragedi kemanusiaan yang amat memilukan.
> Manusia yang masih memiliki conscience siapapun dia akan mampu
> melihat betapa jahatnya teror tersebut dan betapa besar penderitaan
> yang ditanggung para korban dan keluarganya. Namun sebagai manusia
> yang berakal budi, kita juga tidak bisa menghindarkan diri untuk
> berpikir secara kritis. Berbagai misteri dan coincidence menyelimuti
> peristiwa 9-11 yang sampai sekarang masih belum terungkap tuntas.  
> 
> Merupakan hal yang sulit dipercaya bahwa negara super power yang
> memiliki segala fasilitas canggih seperti USA tidak mampu mendeteksi
> rencana dan menggagalkan serangan teror tsb. Terlebih, setahun
> sebelumnya pemerintah US berhasil menangkap Ahmad Rezam, yakni
> seorang anggota al-Qaeda, yang masuk lewat perbatasan Canada dengan
> tujuan meledakkan Los Angeles airport. Tidakkah dari Rezam US
> inteligens semestinya mampu mengkorek rencana dan segala modus
> operandi yang kemungkinan diterapkan oleh al-Qaeda? Mengapa pula
> pesawat patroli tidak menembak pesawat teroris padahal ada tenggang
> waktu kurang lebih satu jam sebelum 2 pesawat tsb menabrak gedung
> WTC. Apa sesungguhnya yang terjadi pada flight 93 yang diterbangkan
> teroris menuju Capitol Hill? Apakah jatuh karena ditembak oleh
> US Air Force? Sampai sekarang rekaman komplit dari apa yang
> terjadi didalam pesawat tsb masih dirahasiakan. Jika pesawat yang
> menuju Capitol Hill ditembak, padahal yang menuju sasaran sipil
> tidak, maka terlihat bahwa pemerintah US hanya melindungi
> keselamatan dari para penguasanya dan mengabaikan keselamatan
> rakyatnya. Masih banyak lagi teka-teki yang tidak terjawab,
> seperti pada Sept 11 dikabarkan ribuan orang Yahudi yang berkerja
> di gedung WTC absen, seolah-olah sudah mengetahui terlebih dahulu
> serangan teror tersebut.    
> 
> Apa yang terjadi menyusul serangan teror tsb kita semua sudah tahu.
> Presiden US George Bush melancarkan kampanye retorik tidak saja
> untuk memerangi kelompok al-Qaeda melainkan juga pemerintah Taliban
> di Afganistan. Pemerintah Taliban adalah pemerintah Islam yang
> lemah dan miskin yang menjalankan hukum Islam secara radikal, yang
> memberi tumpangan kepada al-Qaeda namun pula yang telah memusnahkan
> ladang candu di Afganistan. Terhadap negara lemah seperti Taliban
> pun presiden Bush menolak untuk memakai cara-cara diplomasi, perang
> adalah satu-satunya jalan yang dipilihnya. Siapakah Bush? Anak dari
> Bush sr, penggagas Perang Teluk, adalah jelas bukan jenis pemimpin
> seperti Churchill yakni seorang negarawan pemikir yang gagah berani.
> Retorik Bush yang dangkal dan hitam putih menunjukkan bahwa ia tidak
> satu league dengan pemikir seperti Churchill. Tidak pula seperti
> Churchill yang dengan gagah berani menyertai penduduk London yang
> dihujani bom habis-habisan oleh Nazi Jerman. Pada saat-saat kritis
> dimana penduduk New York membutuhkan dukungan dan pengarahan, presiden
> Bush tidak tampak batang hidungnya. Mayor New York, Rudolp Guiliani
> lah yang menyertai penduduk New York menanggung azab dan sengsara.      
>   
> Setahun telah lewat, al-Qaeda dan pemerintah Taliban telah digulung,
> namun Bush kembali berkampanye untuk melancarkan perang terhadap Irak.
> Tidak ada bukti apapun bahwa Irak adalah negara Islam yang punya
> hubungan dengan teror 9-11, kelompok al-Qaeda, ataupun memiliki weapon
> of mass destruction. Namun sekali lagi Bush nampaknya menolak untuk
> memakai cara-cara lain selain perang dalam menagani masalah Irak.
> Disini kita bertanya, apa sesungguhnya motivasi Bush? Setelah Irak
> dihancurkan, giliran negara Islam mana yang akan diserang?. Apakah
> ia tidak akan berhenti sebelum semua negara-negara Islam dari Maroko
> sampai Indonesia hancur lebur oleh bom-bom Amerika?     
> 
> Hari ini adalah setahun peringatan tragedi serangan teror 9-11
> merupakan hari yang amat emosional terutama bagi masyarakat USA.
> Kita mengharap ditengah-tengah kesedihan dan kemarahannya,
> masyarakat Amerika tetap mampu berpikir secara rasional. Mereka
> bukanlah satu-satunya bangsa yang mengalami horor semacam itu,
> bangsa Muslim Bosnia, bangsa-bangsa di Afrika mengalami tragedi
> yang sama tanpa memperoleh perhatian dengan selayaknya. Horor
> semacam itu harus dicegah agar tidak terjadi lagi pada bangsa
> manapun termasuk Irak. Perang bukanlah solusi melainkan awal dari
> kehancuran dan penderitaan. Sejarah membuktikan bahwa bangsa besar
> seperti Jerman pun liable untuk menjadi pelaksana dari tindakan jahat
> terhadap kemanusiaan yang telah memusnahkan jutaan bangsa Yahudi
> dan kaum Gypsy. Semoga rakyat Amerika tidak membiarkan emosi mereka
> dieksploitasi untuk melegitimasi suatu peperangan yang hanya akan
> memproduksi tragedi 9-11 dalam skala yang mungkin lebih berlipat. 
> 
> Eko W Raharjo
> Sept. 11, 2002
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
> to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #111
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id
> 
> 
> 


---------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #120
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke