From: "Nasrullah Idris" <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To: <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Undip" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [UNDIP] Perbedaan 1 Syawal tidak boleh terjadi pada geografis yang sama
Date: Tue, 3 Dec 2002 21:03:00 +0700
Perbedaan 1 Syawal tidak boleh terjadi pada geografis yang sama
Seperti kita ketahui, planet yang kita tumpangi ini hanya memiliki satu bulan. Berarti pada suatu waktu hanya menempati posisi
yang satu. Demikianlah logikanya.
Tamsil lainnya : bila anda berjalan, kemudian pada suatu waktu, saya melihat anda. Berarti pada saat itu anda sedang menempati
posisi yang satu.
Lain halnya bila bumi kita ini mempunyai lebih dari satu bulan, sebagaimana Jupiter (Ion dan Eorupa) dan Saturnus (Titan dan
Mas). Wajarlah bila terjadi perbedaan pendapat dalam penentuan awal Ramadhan/1 Syawal. Misalkan : kelompok pertama berpatokan pada
bulan yang satu dan kelompok kedua berpatokan pada bulan yang lainnya.
Selama bumi kita hanya mempunyai satu bulan, malah sampai kapan pun akan tetap satu, memang lucu bila penyambutan Ramadhan
maupun perayaan lebaran masing-masing terjadi pada hari yang berbeda di daerah geografis yang sama.
Bila terjadi perbedaan seperti itu, berarti salah satunya pasti ada yang salah : *) menyambut Ramadhan pada akhir Sya'ban atau
2 Ramadhan *) merayakan lebaran pada akhir Ramadhan atau 2 Syawal.
Aneh, bukan! Membenarkan semuanya jelas tidak mungkin.
Wassalam,
Nasrullah Idris
---------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #278
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
Saya itu sebelumnya juga sempat ragu2, dengan sikap pemerintah kita yang 'membiarkan' perbedaan tentang penentuan awal dari ramadhan dan akhir ( satu syawal).
Namun, dalam masalah agama, kadang-kadang pemerintah bersikap, yah katakanlah tidak mau terjebak dalam permasalahan dengan agama . So, jadinya ikut hanya dengan ketetapan tersebut.
Contoh hadist, suumu lirukyatihi, waaftiru lirukyatihi... Inilah yang sebenarnya 'dogma' yang mengilmahi perbedaan tersebut.
Toh, juga sih karena saya ini tidak paham dengan ilmu falak. Jadi tidak mau banyak komentar.
Tapi perlu digaris bawahi, di Indonesia itu ulama banyak. Ya itu pengetahuannya laen2. Dan memang tidak ada wadah, kalau dinegara mesir itu ada "mufthi", yang memang khusus menangani masalah hal-hal keagamaan. Dan, dipercaya oleh masyarakat.
Kalau di Indonesia khan, ada NU, Muhammadiyah, Persis, dan sebagainya. Ini bukan Wadah khusus untuk itu. Tapi Ormas yang perannya diperlebar jadi 'mufthi' bagi masyarakat.
Untuk itu memang perlu (kalau tidak ingin ada perbedaan lagi) pembentukan 'dewan ulama', dalam hal ini mengambil peran pemerintah yang berkompeten dalam bidang tersebut.
Ini hanya sekedar tulisan ngawur saya, mohon dimaklumi kalau ada kesalahan
giarso
_________________________________________________________________
Add photos to your e-mail with MSN 8. Get 2 months FREE*. http://join.msn.com/?page=features/featuredemail
---------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #279
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
