Iptek dan Kompleks Superioriti
*****************************

Pada hari yang sama ketika space shuttle Columbia pecah
berantakan dan membunuh 7 astronoutnya, 7 siswa high school
di Calgary tewas terkubur avalanche dalam petualangan mereka
di Rocky Mountains. Tentu saja ketegaran hati dan kepandaian
manusia dalam reasoning membuat manusia tidak lagi kenal keder
menghadapi musibah macam apapun.

Kita masih ingat pada tahun1986 ketika space shuttle Challenger
meledak, dengan penuh optimisme presiden US Ronald Reagan
berpidato: " we are not a nation of pedestrians!". Terhadap musibah
yang merenggut jiwa-jiwa belia dari Calgary, khalayak disini pun
beralasan bahwa kematian mereka bukanlah kematian yang sia-sia.

Ditengah keoptimisan dan percaya diri yang berlebihan dari
masyarakat dan pemimpin negara maju, mungkin ada baiknya
bagi kita untuk diam dan bertanya. Benarkah mereka pahlawan-
pahlawan kemanusiaan? atau sekedar korban-korban dari ambisi
kemanusiaan?

Proyek ruang angkasa secara moral merupakan proyek yang
kontroversial karena amat mahal namun tidak membawa manfaat
apa-apa terutama bagi mayoritas masyarakat dunia yang masih
bergulat dengan kebutuhan-kebutuhan dasar, seperti pangan,
perumahan dan pelayanan kesehatan primer.

Berangkat dari persaingan sengit perebutan pengaruh antara
dua negara adidaya, SU (Sovyet Union) dan USA, proyek ruang
angkasa dikembangkan. Setelah SU berantakan, USA tampak
semakin berambisi untuk sendirian mendominasi dunia. Proyek
ruang angkasa menjadi simbol penting atas superioritas mereka
dalam bidang iptek.

Bagi masyarakat sekarang, iptek sudah merupakan suatu religion.
Pengembangan iptek dianggap sebagai solusi dari permasalahan
yang ada. Sementara orang bahkan memuja iptek sebagai liberator
yang akan membebaskan mereka dari kungkungan kefanaan dunia.
Iptek diyakini akan memberi umat manusia kesehatan, kebahagian
dan imortalitas.

Sumbangan iptek terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia
tidaklah dapat dipungkiri. Namun manusia tidak bisa pula menipu
diri akan kenyataan bahwa iptek mendatangkan malapetaka dan
kesengsaraan bagi manusia. Dalam peradaban modern yang muda,
terlalu sering manusia terhenyak oleh disilusi dari dampak negatif
iptek terhadap kehidupan umat manusia.

Perbudakan dan penjajahan di North America, Asia dan Afrika
hanya memungkinkan melalui dukungan iptek. Perkembangan
iptek di Eropa Barat membuahkan revolusi industri yang menindas
kelas pekerja dan yang melahirkan komunisme. Produksi weapons
of mass destruction, baik kimia, biologi ataupun nuklir tentu saja
tidak bisa dipisahkan dari iptek; belum lagi menyebut kerusakan
ekosistem alam akibat dari kemajuan iptek.

Kalaupun iptek mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan
kehidupan, tidak berarti iptek sinonim dengan kebenaran. Sebab iptek
hanya mampu menampilkan kenyataan. Kebenaran yang manusiawi
haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus
mencakup pula unsur keadilan. Tentu saja iptek tidak mengenal
moral kemanusiaan; oleh karena itu iptek an sich tidak pernah bisa
menjadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah
kemanusiaan.

Dari segala dampak terburuk dari perkembangan iptek adalah dampak
terhadap peri laku dari manusia penciptanya. Iptek telah membuat
sang penciptanya dihinggapi sikap over confidence dan superioritas
tidak saja terhadap alam lingkungan melainkan pula terhadap sesamanya.
Eksploitasi terhadap alam dan dominasi pihak yang kuat (negara Barat)
terhadap pihak yang lemah (negara dunia ketiga) merupakan ciri yang
melekat sejak lahirnya revolusi industri.

Kompleks superioritas yang ditandai oleh over-confidence dan dominasi
terhadap alam (dan sesamanya) menurut hemat saya yang menyebabkan
terenggutnya 7 jiwa belia dari Calgary. Anak-anak tsb tidaklah sedang
mencari kayu bakar untuk orang tuanya yang miskin di Rocky Mountains
melainkan bagian dari program sekolah unggulan (superior) Strathcona-
tweedmuir, yakni suatu private school bagi anak-anak kaya dan superior.
Tekanan dari lingkungan yang mengagungkan dominasi dan superioritas
telah menyebabkan anak-anak belasan tahun ini menghadapi resiko
yang tidak sebanding dengan harga nyawanya.

Eko Raharjo,
Calgary ([EMAIL PROTECTED])



---------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #337
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke