OKI: Amerika Serikat Ingin
Awasi Kekayaan Irak
JAKARTA (Suara Karya): Ketua Umum Organisasi Konferensi
Islam (OKI) Dr Khatam Achmad menuduh rencana serangan
Amerika Serikat (AS) terhadap Irak merupakan salah satu
strategi untuk mengawasi kekayaan negara tersebut.
Saat memberi keterangan kepada wartawan di Jakarta,
Selasa, Khatam Achmad menyebutkan beberapa indikasi
seperti upaya membuka perusahaan di wilayah Irak Utara
untuk melakukan percobaan menguasai kekayaan alam,
khususnya minyak.
Khatam Achmad yang menjadi ketua delegasi Irak dalam
kunjungannya ke Indonesia tersebut, menyatakan sudah
sangat jelas bahwa embargo selama 12 tahun terhadap Irak
menjadi salah satu indikasi mereka ingin mengawasi
kekayaan Irak.
"Untuk apa Irak diembargo selama 12 tahun, dan setiap hari
diserang oleh Amerika Serikat. Bila Amerika Serikat dan
sekutu-sekutunya tetap merencanakan menyerang Irak, itu
berarti bertujuan untuk mengawasi kekayaan Irak," katanya.
Jika ingin menguasai perekonomian dunia, dia berasumsi
bahwa AS harus menguasai kekayaan alam minyak. Ia
mengingatkan bahwa Irak memiliki kekayaan alam terbesar
kedua di dunia setelah Saudi Arabia. Karena itu, tambah
dia, AS berupaya menguasai masalah perminyakan dunia.
"Kami mengingatkan bahwa Irak mempunyai kekayaan minyak
terbesar kedua di dunia. Kalau ingin menguasai
perekonomian dunia harus mengawasi minyak," katanya.
Menurut dia, saat ini ada perusahaan yang didirikan oleh
beberapa negara untuk melakukan percobaan menguasai
kekayaan alam minyak di kawasan utara Irak. Mereka
menggali tanah untuk mengambil kekayaannya dan benda-benda
berharga masa lalu.
Khatam Achmad menambahkan, dulu pernah sumur minyak di
Irak dikuasai oleh negara-negara Barat dan ada upaya untuk
membuka perusahaan agar dapat menguasai kekayaan alam
Irak, khususnya minyak.
Menjawab pertanyaan, dia mengatakan bahwa apa yang dapat
dilakukan seorang manusia bila rencana invasi itu terjadi
selain membela diri. Ia juga menjelaskan bahwa Islam
adalah agama perdamaian dan tidak ada permusuhan dalam
Islam.
Begitupun, tambah dia, bila ada umat Islam di suatu negara
diancam, sudah seharusnya seluruh umat Islam membela
negara dan rakyat yang didzalimi. "Islam cinta damai dan
Islam rahmat bagi seluruh manusia yang hidup di muka
bumi," ujarnya.
Pada kesempatan itu, dia juga menjelaskan tentang tujuan
dilakukannya kunjungan ke Indonesia, antara lain ingin
menyampaikan kepada masyarakat bahwa bila Irak diserang
oleh AS, maka seluruh negara Islam akan terkena imbas
negatifnya.
"Kalau perang itu terjadi akan mempengaruhi negara
sekitarnya," katanya sambil meminta rakyat negara-negara
muslim untuk berdoa agar rencana serangan AS dan
negara-negara sekutunya dapat terhindari demi perdamaian
dunia.
Gempur Irak
Dari Washington dilaporkan, sejumlah pejabat Pentagon
menginformasikan bahwa pesawat tempur pasukan koalisi
AS-Inggris telah menggempur sistem peluru kendali milik
Irak di daerah Basra di bagian selatan Irak, Rabu, untuk
hari kedua secara berturut-turut.
Pesawat tempur udara yang menggunakan senjata yang
memberikan arahan yang tepat telah melancarkan serangan
terakhirnya pada pukul 16.00 GMT (Rabu pukul 23 WIB). AS
dan Inggris telah meningkatkan serangan terhadap
pertahanan udara Irak di wilayah sebelah selatan dengan
memperkuat barisan di kawasan tersebut untuk berjaga-jaga
sebemum AS memulai perang terhadap Irak.
Pemerintah Irak menyatakan bahwa serangan ke instalasi
dekat Basra, yang menyebabkan dua warga Irak meninggal dan
sembilan orang lainnya cedera. Namun Pusat Komando Koalisi
mengatakan pesawat tempur mereka tak pernah menghantam
penduduk sipil Irak atau sarana warga lainnya.
Pihak Barat memberlakukan zona larangan terbang di wilayah
utara dan selatan Irak setelah Perang Teluk 1991. Angkatan
bersenjata Irak telah memberlakukan kesiagaan di
wilayah-wilayah tersebut sejak 1998 setelah AS dan Inggris
melancarkan serangan udara di sekitar kota Baghdad dalam
rangka mengingatkan Irak untuk bersungguh-sungguh
bekerjasama dengan tim inspeksi perlucutan senjata PBB.
Di Brussel, negara-negara anggota Pakta Pertahanan
Atlantik Utara (NATO) kembali gagal menemukan kesepakatan
mengenai masalah kapan aliansi itu harus memulai persiapan
untuk membantu Turki menghadapi kemungkinan terjadinya
serangan dari Irak.
Satu pertemuan resmi para duta besar NATO di Brussel,
Selasa malam (Rabu WIB) yang dimulai pukul 18.00 waktu
setempat, berakhir hanya dalam waktu 20 menit, setelah
lebih dulu mengalami penundaan dua kali.
Pertikaian di antara anggota NATO sebelumnya dipicu oleh
Perancis, Jerman dan Belgia yang memveto rencana NATO
untuk memulai pengiriman peralatan pertahanan ke Turki,
satu-satunya anggota NATO yang berbatasan dengan Irak.
Pada jumpa pers seusai pertemuan tersebut, jurubicara NATO
Yves Brodeur mengatakan bahwa dalam pertemuan itu terdapat
sejumlah opsi yang didiskusikan, namun dia menolak untuk
memberikan rincian, disebabkan tidak adanya kesepakatan.
Brodeur menekankan, kendati pertemuan para Dubes NATO
tersebut dihentikan, pembicaraan menyangkut opsi-opsi
tersebut masih akan berlangsung sepanjang Selasa malam di
antar para delegasi dengan pemimpin pemerintahannya di
ibukota masing-masing.
Menjawab pertanyaan wartawan mengenai apakah para Dubes
NATO dari Prancis, Jerman dan Belgia memiliki otoritas
untuk mengambil keputusan, Brodeur mengelak dengan
mengatakan bahwa pertanyaan tersebut seharusnya ditanyakan
langsung kepada para delegasi. (Ant/M-1)
===========================================================================================
Meriahkan Hari Kasih Sayang dengan mengirimkan Kartu Elektronik PlasaCom kepada kerabat dan teman yang Anda kasihi !
Pilih kartu favorit Anda di Polling Lomba Desain Kartu Tema Valentine
di http://kartu.plasa.com/lomba/
===========================================================================================
---------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #338
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
- [UNDIP] LOWON... Ressa Yanuardin Widiyatmoko
- muhamad qodri agus setiawan
