> Akankah kita seperti ini?? > > From Cafejendela mailing list: > > Bahan renungan yg cukup menarik bagi kita, terutama bagi Ayah/Ibu > atau > calon Ayah/Ibu. > > "Saya Ingin seperti Ayah" > ========================= > > Suatu hari suami saya rapat dengan beberapa rekan bisnisnya yang > kebetulan > mereka sudah mendekati usia 60 tahun dan dikaruniai beberapa orang cucu. > Di sela-sela pembicaraan serius tentang bisnis, para kakek yang masih > aktif > itu sempat juga berbagi pengalaman tentang kehidupan keluarga dimasa > senja > usia. > > Suami saya yang kebetulan paling muda dan masih mempunyai anak > balita > mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, dan untuk itu saya > merasa > berterima kasih kepada rekan-rekan bisnisnya tersebut. Mengapa? > Inilah > kira-kira kisah mereka. > > Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, > dan > minta tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena > akan > singgah ke rumah anaknya yang bekerja di sana. Di situlah awal > pembicaraan > "menyimpang" dimulai. Ia mengeluh, "Susah anak saya ini, masak sih > untuk > bertemu bapaknya saja sulitnya bukan main." "Kalau saya telepon dulu, > pasti > nanti dia akan berkata jangan datang sekarang karena masih banyak > urusan. > Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang penting saya bisa lihat cucu." > > Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain. "Kalau Anda jarang > bertemu > dengan anak karena beda kota, itu masih dapat dimengerti," katanya. > "Anak > saya yang tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau > ingin > bertemu." "Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, > karena > kedua anak saya jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon." > > Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya menengok > anak > laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di > Amerika. > Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak > sudah > bertanya "Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Indonesia?" "Bayangkan! > Kami > menempuh perjalanan hampir dua hari, belum sempat istirahat sudah > ditanya > kapan pulang." > > Apa yang digambarkan suami saya tentang mereka, adalah rasa kegetiran > dan > kesepian yang tengah melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah > para > profesional yang begitu berhasil dalam kariernya. > > Suami saya bertanya, "Apakah suatu saat kita juga akan mengalami > hidup > seperti mereka?" > Untuk menjawab itu, saya sodorkan kepada suami saya sebuah syair > lagu > berjudul Cat's In the Cradle karya Harry Chapin. Beberapa cuplikan > syair > tersebut saya terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia > agar > relevan untuk konteks Indonesia. > > Serasa kemarin ketika anakku lahir dengan penuh berkah > Aku harus siap untuknya, sehingga sibuk aku mencari nafkah > Sampai tak ingat kapan pertama kali ia belajar melangkah > Pun kapan ia belajar bicara dan mulai lucu bertingkah > Namun aku tahu betul ia pernah berkata, > "Aku akan menjadi seperti Ayah kelak" > "Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak" > > Ref: > "Ayah, jam berapa nanti pulang?" > "Aku tak tahu Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, > dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama" > > Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh; > Ia berkata, "Terima kasih atas hadiah bolanya Ayah, > wah ... kita bisa main bola bersama. > Ajari aku bagaimana cara melempar bola" > > "Tentu saja 'Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan sekarang" > Ia hanya berkata, "Oh ...." > Ia melangkah pergi, tetapi senyumnya tidak hilang, seraya berkata, > "Aku akan seperti ayahku". > "Ya, betul aku akan sepertinya" > > Ref: > "Ayah, jam berapa nanti pulang?" > "Aku tak tahu Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, > dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama" > > Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah; > Begitu gagahnya ia, dan aku memanggilnya, > "Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan Ayah" > Dia menengok sebentar sambil tersenyum, "Ayah, yang aku perlu sekarang > adalah meminjam mobil, mana kuncinya?" > "Sampai bertemu nanti Ayah, aku ada janji dengan kawan" > > > Ref: > "Nak, jam berapa nanti pulang?" > "Aku tak tahu Yah, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti dan > tentu > saja kita akan mempunyai waktu indah bersama" > Aku sudah lama pensiun, dan anakku sudah lama pergi dari rumah; > > Suatu saat aku meneleponnya. > "Aku ingin bertemu denganmu, Nak" > Ia bilang, "Tentu saja aku senang bertemu Ayah, tetapi sekarang aku > tidak > ada waktu. Ayah tahu, pekerjaanku begitu menyita waktu, dan > anak-anak > sekarang sedang flu. > Tetapi senang bisa berbicara dengan Ayah, betul aku senang mendengar > suara > Ayah" > > Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari; > Dia tumbuh besar persis seperti aku; > Ya betul, ternyata anakku persis seperti aku. > > > Ref: > "Nak, jam berapa nanti pulang?" > "Aku tak tahu Yah, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu > saja kita akan mempunyai waktu indah bersama" > > Rupanya prinsip investasi berlaku pula pada keluarga dan anak. > Seorang investor yang berhasil mendapatkan return yang tinggi, adalah > yang > selalu peduli dan menjaga apa yang diinvestasikannya. > Saya sering melantunkan cuplikan syair tersebut dalam bahasa aslinya, > > "I'm gonna be like you, Dad, you know I'm gonna be like you", kapan > saja > ketika suami saya sudah mulai melampaui batas kesibukannya. > > > >
-------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #909 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
