Saya agak meragukan kebenaran cerita dibawah. Menurut saya anak umur 31/2 tahun kalaupun mampu menggunakan paku karatan (tidak tajam lagi) untuk menggambari seluruh body mobil tak akan meninggal guratan yang dalam. Tidak bisa dibayangkan seperti anak SD yang menggunakan patahan arang untuk menggambar ditembok yang dikapur putih. Guratan yang ringan pada body mobil akan hilang instantly dengan menggunakan turtle wax atau sejenisnya. Walaupun demikian saya sangat setuju dengan moral dari cerita tsb yakni agar orang tua (ayah) tidak menggunakan kekerasan (apa lagi berlebih-lebihan) terhadap anak.
Apakah orang tua tsb jahat? Mereka yang telah melakukan seperti itu tentu saja menjadi orang tua yang jahat. Tapi kalau penilaiannya sebelum hal itu terjadi mungkin saja mereka adalah orang tua yang baik seperti orang tua pada umumnya. Jadi, kita semua pun kalau tidak hati-hati bisa juga tersesat seperti orang tua dalam cerita tsb. Tanpa disadari pada jaman modern ini kecintaan orang terhadap barang terutama yang mewah dan mahal seperti (BMW 740i) sering konflik dengan kecintaan terhadap keluarga (istri/suami anak). Andaikata sang ayah sadar mengenai hal ini maka ia akan merelakan mobilnya hancur luluh untuk mendapatkan kembali tangan anaknya. Namun sesal kemudian tak ada gunanya bukan? Dilain pihak cinta kepada keluarga tidak berarti membiarkan anak untuk melempar Palm Pilot untuk nggusah ayam. Maka menurut saya solusinya adalah sederhana yakni komunikasi. Memberi informasi mengenai barang-barang terutama yang mahal-sophisticated yang mengundang curiousity anak adalah sangat berguna. Saya mengajari anak saya untuk menggunakan camera sejak ia belum mencapai ulang tahun ke tiga. demikian juga mengenai computer. Juga mengenai mobil, saya sering tanya what you want to know about this thingy (karena dia belum mencapai legal age untuk belajar nyetir). Saya beritahu semua yang ingin dia tahu secara jujur. Kenikmatan dan resikonya. Kebebasan dan konsekuensinya. Hal ini akan membantu anak untuk mampu menghargai barang sepatutnya. Jadi anak tidak akan meyepelekan barang namun tidak juga menganggap barang adalah segalanya. Anak saya sudah sangat tahu bahwa barang yang saya miliki bukanlah yang ia idamkan. Kalau saya bilang "Nak jangan ngiri toh mobil kesayangan ayah ini nantinya akan aku wariskan kepadamu". Jawabnya: That's nice dad, so that I can donate it to the kidney foundation" (mobil yang didonasikan ke Kidney foundation biasanya adalah mobil jelek). Eko Raharjo Calgary mei <[EMAIL PROTECTED]> said: > Ceritanya bikin dada sesak nih.... > wah kalo bener seperti itu... saya cuma berpikir kok jahat banget si orang > tuanya..... apapun alasannya dan dipandang dari sudut pandang apapun... > > Salam, > Mei > > > At 11:50 AM 5/12/2004 +0700, imas lia wrote: > >Buat para orang tua dan calon orang tua. Semoga sabar dan penuh kasih > >mendidik anak-anak yang adalah anugerah dr Tuhan. > > > >Ini kisah nyata yg lagi heboh di Malaysia skrg, bener2 menyedihkan...... > >--- > >Abah, kembalikan tangan Ita......... > > > >ingatlah....semarah apapun, jgnlah bertindak keterlaluan.............. > > > >kepada semua parents, > >Sebuah kisah untuk dijadikan pengalaman dan pengajaran...... Sebagai ibu > >kita patut juga menghalang perbuatan suami kita memukul especially pada > >anak2 yg masih kecil dan tak tau apa2. Mengajar dgn cara memukul > >bukanlah cara terbaik, mungkin sudah sampai waktunya untuk badan2 > >kebajikan educate org M'sia untuk praktikkan konsep 'time out" jika > >anak2 buat salah. > > > > > >Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar - > >meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah semasa keluar bekerja. > > > >Sambil menyiram air sambil dia ikut > >menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat > >luka2nya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak > >kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu > >rumah. Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. > >Pembantu rumah mengadu. "Oleskan obat saja!" jawab tuannya, bapak si > >anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang > >menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar > >anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya > >sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu > >rumah. "Ita demam... " jawap pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol > >," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar > >pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia > >menutup lg pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah > >memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. "Sore nanti > >kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap" kata majikannya itu. Sampai > >saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Doktor mengarahkan ia > >dirujuk ke hospital kerana keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat > >inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu. > > > > > > -------------------------------------------------------------------------- > Milis Archive: http://archive.undip.ac.id > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2104 > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id > > > -- -------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2107 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
