Untuk mencari taxi Blue Bird atau Blue Bird Group yang punya ijin untuk mengangkut penumpang di Bandara Cengkareng memang tidak gampang, karena taxi yang diperbolehkan mengangkut penumpang adalah taxi yang ada sticker Bandara Soekarno - Hatta. Untuk lebih aman tetapi mahal sedikit lebih baik kita menggunakan jasa Silver Bird atau Golden Bird dan counternya ada di terminal kedatangan atau kalau diluar terminal F ada di depan KFC.
Ada informasi lagi bahwa Blue Bird juga menyediakan shuttle bus dari terminal kedatangan ke tempat mangkal blue bird yang berada diluar terminal. Untuk mendapatkan bus ini bisa tanya ke petugas blue bird yang ada di counter2. Salam, Mirza -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, June 29, 2004 2:11 PM To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] Subject: [UNDIP] Be Carefull, Mafia Taxi di Cengkareng Mafia Taxi di Airport Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng sekarang memang sudah jadi sarang preman. Sejak banyaknya penerbangan memberlakukan tarif murah, sehingga masyarakat dari berbagai tingkat ekonomi sudah terbiasa dengan airport. Masalah baru ternyata muncul, premanisme yang dulunya menguasai pelabuhan dan terminal bus kini juga pindah ke airport. Kalau melihat begitu banyaknya ojek yang merajalela di Bandara itu belum apa-apa, sekarang ada lagi premanisme taxi, enggak tahu kapan mulainya, namun teman saya kena batunya. Teman saya baru pulang dari Balimengikuti sebuah konvensi yang ditugaskan oleh kantornya. Dia keluar dan menanti Taxi untuk segera pulang karena sudah kelelahan. Namun sebuah kenyataan aneh dua jam dia menunggu taxi, tidak satupun taxi yang berhasil dinaikinya. Kita cenderung ingin taxinya yang terkenal integritasnya seperti Blue Bird, namun ditempat itu, para satpamnya yang pura-pura membantu mencari taxi tidak memperkenankan satupun blue bird untuk bisa mampir. Semua blue bird atau taxi2 'bagus' yang berancang-ancang menepi mengambil penumpang semuanya dihalau oleh satpam2 tersebut. Alih-alih mereka malah menawarkan taxi yang mangkal disitu (yang jelek integritasnya), tapi non argo, atau borongan. Teman saya walaupun juga berwatak keras sehingga membuatnya hampir bentrok dengan satpam2 disitu, akhirnya menyerah juga. Namun setelah mendengar harga borongan yang hampir tiga kali lipat dari harga argo biasanya, membuat dia mengurungkan niatnya, dan bertekad untuk tetap mencari taxi lain. Seorang satpam malah datang marah2 mengatakan dia sudah capek mencarikan taxi, namun tidak ada yang disetujui teman saya. Perang mulut, dan perang urat syaraf pun terjadi, akhirnya para satpam itupun menyerah, mereka pura2 mendapatkan taxi yang mau memakai argo. Akhirnya teman saya naik taxi yang juga jelek integritasnya ini, tapi saat naik ia melihat sopir taxi memberikan amplop untuk seorang satpam. Curiga akan amplop itu, teman saya bertanya, "Apaan tuh...", satpam itu mengelak dengan mengatakanitu karcis yang dikembalikan. Akhirnya, teman saya itu sampai dirumah, setelah membayar sesuai argo (senilai 60.000), ternyata sopirnya minta tambah lagi sebesar Rp20.000. Jelas saja teman saya kaget, dan menanyakan itu uang apa. Ternyata itu adalah potongan yang katanya disetorkan pada satpam tadi, alias pajak airport. Karena sudah kelelahan dan tidak ingin ribut2 lagi teman saya membayarkan sesuai yang dimintanya. Peristiwa ini belum lama berselang. Seorang saudara perempuan saya, kerena tidak berhasil bertemu dengan penjemputnya, akhirnya memutuskan naik taxi saja. Saat naik sopir taxi itu biasa2 saja, dan menyalakan argonya kemudian berangkat. Namun saat keluar dari airport, tiba2 sopir minta harga borongan tiga kali lipat dari harga biasa bila pakai argo. Saudara saya masih coba berargumen, tidak ada perjanjian sebelum naik. Sopir taxi itu tiba2 menepi menghentikan mobilnya, dijalan tol.� Ia kemudian� menyuruh saudara saya turun kalau tidak mau borongan. Bayangkan harus turun ditengah jalan tol?! Tentu saja saudara perempuan saya menyerah dengan pemaksaan seperti itu, ia terpaksa setuju dengan harga borongan. Teman saya yang lain punya pengalaman sendiri, kalau ada yang ingin naik Damri daripada Taxi, saat kita menanyakan dimana menunggu Damri pada para security atau pengangkat barang disitu, mereka akan sengaja menyesatkan kita menunggu ditempat yang salah. Atau pura2 tidak tahu kalau ada Damri. Akhirnya kita harus naik pada taxi atau angkutan yang sudah bekerja-sama dengan mereka. Jadi hati-hati kalau di airport. Kasih tau sama semua saudara2 dan teman2, airport sekarang sangat rawan. Mintalah jemputan dari kerabat, atau teman kamu saat di Airport. Menghindari hal tidak diinginkan, seperti kriminalitas dan penipuan. Seorang perempuan janganlah bepergian sendiri, atau kelihatan bingung di airport, kemudian kelihatan bertanya-tanya, karena itu berbahaya sekali, rawan penipuan dan kriminalitas. So please be carefull... GBU -------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2230 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id -------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2234 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
