Industry, bukan Integrity yang Dikehendaki Eko Raharjo
Industrialisasi adalah goal dari model repelita dari pemerintah orba yang nampaknya tetap jadi andalan dari pemerintah paska orba. Ketika industri mulai booming dan perguruan tinggi mampu mencetak lulusan yang bisa keep up dengan kebutuhan industri, muncul keoptimisan yang berlebihan. Namun keganjilan muncul ketika pengamatan dipertajam. Sebab bukan masyarakat luas (jelas bukan rakyat kecil) yang menikmati kerja perguruan tinggi yang didanai besar-besaran oleh dana masyarakat seperti IPB, ITB, UI, UGM, dst. melainkan segelintir orang seperti Bob sadino, Bob Hasan, Ciputra, Prayoga Pangestu dst. Industri ternyata pula merupakan pedang bermata dua. Bisa membunuh lawan dan juga kawan. Bisa menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat tapi juga mampu menumpas mereka, seperti dalam kasus Union Carbide di Bophal. Namun kesadaran itu datang agak terlambat, pihak pemerintah, dan kaum professional sudah terlanjur pada bersahabat erat dengan kaum industri. Kesimpang siuran kasus Buyat menggambarkan ketidak jelasan pemerintah dan kaum profesional dalam menempatkan industri. Professional integrity menjadi issue yang dianggap mampu untuk mendatangkan clarity atas persoalan yang menjadi keruh tsb. Namun professional Integrity sama seperti moral pemerintahan adalah sekedar nila-nilai ideal dimana hanya berfungsi kalau diemban oleh-oleh orang-orang idealis. Selama kaum professional dan penguasa kita masih mengandalkan industri sebagai institusi yang memberi jaminan kepada mereka komisi yang lucrative dan jabatan empuk maka professional integrity, etika, moral atau apapun is just as good as cadaver. Pendangkalan kehidupan yang ditandai sikap ignorance, mementingkan diri sendiri, mengambil jalan pintas tanpa perduli nasib rakyat kebanyakan, inilah yang tidak memungkinkan Indonesia lepas dari spiral of degradation menuju ke pariah society. Count down berjalan seiring dengan menipisnya persedian natural resources. Hanya perubahan yang drastis dari pihak masyarakat lah yang akan mampu mereverse harakiri massal dan tak terhormat ini. Adalah kaum LSM yang menggelindingkan revolusi damai untuk perduli akan the ultimate truth, menjunjung tinggi aturan main (hukum) menegakkan moral dan keadilan sosial. Namun, perlakuan apa yang dikenakan mereka?. Humiliation, perusakan dan penganiayaan, bahkan pula pembunuhan, seperti yang menimpa Munir. Bangsa ini mengalami penyakit yang jauh lebih parah dari Minamata. -------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2334 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
