Title: Message
http://www.sabili.co.id/telut14thXII05a.htm

Telaah Utama
Karomah dari Tanah Duka

Bermacam keajaiban dan kebesaran Allah, nampak di Aceh. Mulai dari
besarnya gelombang sampai cara-cara selamat yang tak masuk akal.

Pagi itu, daerah Krueng Raya yang berada di pantai barat Privinsi
Nanggroe Aceh Darussalam ramai. Seperti biasa. Perkampungan di garis
pantai itu, dipenuhi anak-anak yang turun bermain di bibir laut. Di
daerah itu pula, Taufik bin Ahmad tinggal bersama istri dan seorang
anaknya.

Rumah sederhananya berdiri di samping sebuah meunasah, atau mushalla, An
Nur. Di meunasah itu pula, Taufik bin Ahmad setiap malam sampai subuh
mendirikan shalat tahajud dengan sujud-sujud panjangnya. Mengajar ngaji
anak-anak kecil dari perkampungan pantai dan juga berdakwah. Seperti
hari-hari sebelumnya, pagi itu, hari Ahad (26/12) langit juga cerah.
Awan putih bergumpal dan berarak di langit biru. Tapi tiba-tiba bumi
berguncang dengan kuatnya. Kepanikan, sesaat melanda penduduk
perkampungan di garis pantai itu.

Tapi tak lama. Kepanikan yang mengepung segera sirna. Maklum, gempa
memang bukan hal yang aneh pagi penduduk Serambi Mekkah ini. Tapi bukan
karena itu saja, air pantai yang surut hingga lebih dari satu kilometer
yang menyisakan ikan-ikan yang menggelepar di pantai begitu menggoda
penduduk. Berduyun anak-anak dan juga orang dewasa, turun ke pantai yang
garisnya sudah jauh surut. Mereka berebut ikan yang menari-nari di atas
pasir.

Tapi, tidak dengan Taufik bin Ahmad. kepada SABILI ia mengaku
perasaannya begitu ngeri melihat air surut dari pantai dengan cepatnya.
Ia berteriak-teriak pada orang-orang untuk tak turun ke pantai. "Jangan.
Jangan ke pantai," pekiknya. Tapi tak ada yang hirau pada teriakan itu.

Ia berlari dan bilang pada istrinya, untuk segera menjauh dari pantai.
Meski ia tak tahu apa yang bakal terjadi, perasaannya mengatakan ada
yang tak wajar. Ia menyuruh istri dan anaknya untuk kembali ke rumah.
Tak berapa lama, hanya dalam hitungan tak sampai beberapa menit ombak
yang seperti tembok tingginya datang bergulung-gulung. Menggulung
pantai, orang dan rumah-rumah. Taufik bin Ahmad pun terpisah dari anak
dan istrinya.

Istri Taufik dan anaknya, masuk ke dalam meunasah. "Saya yakin, Allah
tidak akan berbuat apa-apa dengan meunasah ini. Saya yakin, Allah akan
menyelamatkan meunasah dan orang-orang di dalamnya," ujar istri Taufik
pada SABILI beberapa hari setelah badai usai.

Dan memang, meunasah itu tak apa-apa. Meunasah sederhana yang terbangun
dari papan itu memang terbawa arus sampai beratus-ratus meter dari
tempatnya berdiri semula. Begitu juga istri dan anak Taufik bin Ahmad.
Dari dalam meunasah ia merasakan hantaman ombak tsunami, pusaran air
yang menggulung-gulung. Tapi meunasah itu selamat, begitu juga anak dan
istri Taufik bin Ahmad. Beberapa jam setelah air surut, suami, istri dan
anak itu bertemu. Dengan selamat.

Padahal, tak jauh dari sana, masih di Krueng Raya, tangki-tangki
Pertamina yang berukuran besar, dari besi dengan bobot berton-ton telah
poranda. Bentuk aslinya telah hilang oleh gelombang tsunami yang
menghantam. Meunasah kecil An Nur yang sederhana, adalah keajaiban Allah
yang dituturkan oleh keluarga Taufik bin Ahmad, keluarga yang selamat di
dalam rumah Allah itu.

Masih di Kreung Raya, keajaiban dipertontonkan pada manusia. Sebuah
dayeuh atau pesantren, Darul Hijrah namanya, adalah saksi sekaligus
penerima dari karomah yang luar biasa itu. Pesantren yang berdiri di
tepi pantai itu cukup indah dengan pemandangan langsung ke arah pantai.
Tapi itu adalah pemandangan sebelum gelombang tsunami menghantam.

Meski pantai sudah tak seperti dulu lagi, Darul Hijrah masih tetap
seperti semula. Dayeuh dengan enam bangunan yang terbuat dari rumah
panggung papan itu bahkan tak bergeser sedikit pun. Puluhan santrinya
selamat, tak kurang suatu apa.
Menurut keterangan santri dan penduduk sekitar, gelombang tsunami memang
menerpa. Namun, tepat di sekitar dayeuh, arus gelombang seakan melemah.
Bahkan gelombang seolah terbelah dan membiarkan dayeuh selamat dari
terjangan tsunami. Padahal, sekali lagi, Pertamina yang tak jauh dari
tempat itu, hanya berjarak beberapa kilometer saja, lantak oleh tsunami.
Tangki-tangki besar yang berbobot mati berton-ton penyok, tak sesuai
bentuk asalnya. Bahkan tangki-tangki itu tak berdiri di tempatnya
semula.

Pesantren atau dayeuh lain yang selamat adalah Nasrul Muta'alimin, di
kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Dayeuh yang berada hanya beberapa
ratus meter saja dari laut yang menjadi pusat tsunami ini selamat tak
kurang suatu apa. Begitu juga para santrinya, tak seorang pun menjadi
korban. Menurut seorang santri, Halimah, yang ditemui SABILI, para
penghuni pesantren mengamati terjangan tsunami sejak awal. Detik demi
detik. Sementara itu, di dalam pesantren, seluruh santri dan guru
berzikir tak putus dan memanjatkan doa tiada henti.

Dan alhamdulillah, doa mereka seakan terjawab. Gelombang air yang begitu
dahsyat itu seolah terpisah saat sampai di Pesantren Nasrul Muta'alimin.
Air hanya lewat dengan begitu tenang di bawah bangunan pesantren yang
berbentuk rumah panggung. "Kami semua membaca al-Qur'an dan berdoa tak
henti-henti ketika ombak laut datang," ujar Halimah yang saat itu tak
menyangka akan begitu banyak korban yang ditelan tsunami yang melintas
di hadapannya.

Masjid Kreung Raya pun tetap utuh seperti sedia kala. Air memang sempat
masuk ke bangunan masjid. Tak tak satu pun tiang atau sudut bangunan
masjid ini yang roboh. Masjid ini masih berdiri kokoh di ujung muara
kreung (sungai, Aceh). Jika melihat posisi masjid yang benar-benar
nyaris di bibir pantai, rasanya mustahil bagi akal untuk menerimanya
tetap berdiri tak kurang suatu apa. Allah memang telah memilih apa yang
hendak diselamatkan, dan apa pula yang hendak dilumatkan.
Daerah garis pantai Kreung Raya memang menyimpan banyak cerita setelah
tsunami reda. Di pantai itu pula ulama besar dari abad silam, Syiah
Kuala dimakamkan. Makam yang indah di tepi pantai.

Di tepi pantai itu pula, dua malam sebelum bencana, menurut keterangan
penduduk yang selamat, beberapa anggota Brimob yang beragama Kristen
merayakan malam Natal. Acara cukup meriah, ujar seorang penduduk yang
selamat. Tapi tak hanya perayaan Natal. Pada malam berikutnya, perayaan
Natal berganti dengan pesta. Tak jelas, apakah orang-orang yang berada
di tempat tersebut sama dengan orang-orang sebelumnya, tapi yang jelas,
malam itu lebih meriah dengan malam sebelumnya.

Pesta api unggun hingga pagi hari. Tenda-tenda juga didirikan.
Suara-suara perempuan terdengar oleh penduduk dari kejauhan. Entah
sedang berlangsung pesta apa di pantai dekat makam Syekh Syiah Kuala
itu. Pesta memang terus berlangsung hingga sinar matahari memecahkan
gelap langit. Penduduk sekitar menceritakan, orang-orang tersebut bahkan
masih berada di pantai saat gempa mengguncang. Peserta pesta semalam
itu, dituturkan, terkaget-kaget juga saat air pantai surut hingga jauh
ke laut. Mereka terbengong-bengong dan tak tahu apa yang terjadi.

Di saat seperti itulah, air datang. Tapi anehnya, menurut penduduk, air
tak hanya datang dari arah laut. Air keluar dari arah makam. Air hitam,
tinggi menjulang. Dan para peserta pesta pun terkepung. Dari depan
mereka, arah laut, sebelum sempat sadar, gelombang dengan kecepatan
setara jet komersial datang menghantam. Sedangkan dari belakang, air
yang memancar tinggi, setinggi pohon kelapa dan juga bagai tembok,
panjangnya menghalangi jalan keluar.

Benarkah cerita yang dituturkan penduduk Kreung Raya itu? Tentang air
hitam yang keluar dengan dahsyat dari areal makam? Wallahu a'lam. Yang
jelas, makam Syiah Kuala yang berusia ratusan tahun itu kini telah
hilang, nyaris tak meninggalkan bekas di tempatnya.

Keajaiban dan karomah lain diperlihatkan lewat pemeran lain. Kali ini
hewan-hewan, bukan manusia. Sebelum gempa dan gelombang tsunami
menghantam, tanda-tanda yang disampaikan oleh alam dan hewan telah
bertebaran. Kawanan burung putih terbang berarak-arak di langit kota
Banda Aceh. Menurut kakek nenek dan orang-orang dulu, jika kawanan
burung putih melintas di atas langit, akan ada bencana yang datang dari
laut. Begitu juga jika air laut surut dengan cepat dari pantai. Orang
tua dulu telah memberikan nasihat turun-temurun, jika air surut dengan
cepat, depat-cepat lari naik ke hutan. Karena tak lama, ombak setinggi
pohon kelapa akan segera datang.

Setelah bencana terjadi pun, keajaiban yang ditunjukkan oleh alam dan
binatang juga terjadi. Mayat-mayat yang terbengkalai di mana-mana,
hingga hari ini dikhawatirkan menimbulkan gelombang bencana susulan.
Gelombang wabah kolera.

Tapi hingga hari ini, dua pekan lebih setelah hari bencana, belum
diketahui ada korban selamat yang terjangkit kolera. Dan ini adalah
keajaiban lain.

Keajaiban yang lain adalah, tak ada lalat-lalat yang mengerumuni mayat
yang sudah pasti akan membantu cepatnya penyebaran virus atau bakteri
kolera. Keheranan akal ini dicermati dengan teliti oleh dr. Mastanto
dari Posko Keadilan Peduli Umat (PKPU). "Saya heran, benar-benar tidak
ada lalat. Saya tak bisa membayangkan kalau lalat-lalat ada. Kolera
pasti tak terbendung," ujarnya.

Keajaiban dan karomah, kebesaran dan karunia Allah memang tak pernah
absen dari kehidupan manusia. Asal kita pandai membaca tanda-tanda,
kebesaran Allah selalu ada di mana-mana. Dan seharusnya, kebesaran itu
pula yang akan membuat kepala kita kian tertunduk, hati dan jiwa kita
kian mengerti bahwa hidup tidak lain kecuali untuk beribadah.
Kepada-Nya.


Herry Nurdi


Kirim email ke