Dilema Seorang Wartawan

Oleh: Giri Prakosa
E-mail: [EMAIL PROTECTED]


Sebelum menjadi wartawan, saya bekerja sebagai art displainer di sebuah perusahaan dengan gaji 800 ribu. Tapi di situ aku merasa tidak bahagia. Dengan datang setiap jam 8 pagi dan pulang jam 5 sore. Bertemu dengan orang-orang itu saja, menggunakan baju yang sama tiap hari. Saya bosan, sungguh saya bosan. Ada yang ngomong saya nggak cocok bekerja macam itu, karena saya terlalu kritis, haus petualangan dan pembosan. Lalu saya harus kerja apa? Mereka menjawab: terserah, pokoknya yang nggak monoton aja.

WARTAWAN, kata itulah yang muncul secara tiba-tiba di
pikiranku. Saya cuma berpikir modal pengalaman pernah
menulis cerpen-cerpen saat masih SMA yang hanya
dihonori 20 ribu per naskah, apakah cukup membuat
diriku diterima di dunia wartawan? Ternyata tidak
semudah itu. Biasalah, masalah gengsi. Sarjana, ya,
wajib sarjana. Sayapun berontak dalam hati, "Nggak
bisa gitu dong. Seorang sarjana belum tentu lebih
mampu dari aku. Setidaknya berilah aku kesempatan
mendapat wawancara dan ditest."

Lalu saya selalu menentang orang kolot yang punya
penilaian "buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh banyak
sarjana yang jadi pengangguran". Karena saya berpikir,
kalau sarjana aja bisa nganggur, bagaimana dengan yang
bukan sarjana? Lalu kemarahan saya limpahkan ke orang
tuaku, "Kenapa sih kalian miskin? Sekarang lihat
anakmu ini, susah untuk jadi orang karena kalian nggak
mampu menyekolahkanku lebih tinggi." Tapi saya tidak
menyalahkan mereka, karena saya yakin mereka sudah
berusaha semampunya. Lalu saya harus menyalahkan
siapa? Kamu? Saya sendiri? Masyarakat? Atau Tuhanku?
Entahlah.

Saya nggak bisa menerima keadaan ini, sungguh tidak
bisa terima. Kalau kalian menyalahkanku karena tidak
mau berusaha sekolah lebih tinggi, kenapa kalian tidak
menyalahkan pemerintah yang membuat biaya pendidikan
mahal? Dan kenapa pula kalian tidak menyalahkan Tuhan
yang merenggut nyawa Ayahku terlalu dini sehingga saya
harus menanggung beban biaya hidup keluargaku? Sudah
cukup, saya
harus meneruskan hidupku. Dengan modal uang pesangon,
aku beli kebutuhan melamar pekerjaan sebanyak mungkin.
Seingatku, tiap-tiap media saya kirimi rata-rata lima
kali. Dalam surat lamaran itu tak jarang saya buat
nyeleneh. Itu karena saya marah dengan mereka karena
saya yakin surat lamaran saya pasti dibuang ke tong
sampah
sebelum dibaca.

Maaf, ternyata itu hanya kecurigaanku yang membabi
buta. Tepat pada bulan Agustus 1999, sebuah media
sangat kecil mengirim surat panggilan wawancara. Dan
anehnya, saya ingat surat lamaran yang saya kirim
untuk media itu ada sedikit "makian" di dalamnya. Dan
mereka memberiku kesempatan mengintip dunia wartawan.
Kebetulan, media itu tentang dunia-dunia misteri. Jadi
otomatis saya sering keluar kota, datang ke
tempat-tempat angker dan sebagainya.

Coba kalian tebak berapa gaji yang saya dapatkan
pertama kali masuk dunia wartawan? Cuma 300 ribu.
Bayangkan perbandingannya dengan gaji pekerjaanku
sebelumnya. Tapi saya kasih tahu hal ya, saya bahagia
menikmati gaji itu. Mungkin karena saya menyukai
pekerjaan ini.

Setelah beberapa lama, saya digandeng mantan atasanku
ikut medianya yang isinya tentang politik dan
kriminal. Mulai waktu itulah ketakutan tiba-tiba saya
rasakan. Saya pasti akan bertemu para sarjana itu,
saya pasti berteman dengan orang yang pendidikannya
jauh lebih tinggi dari saya.

Ternyata benar, para sarjana itu pintar-pintar, mereka
kritis-kritis, bahkan mereka ditakuti dan dijilat
orang-orang tertentu. Waktu itu saya berpikir,
bagaimana bisa ya seorang wartawan jadi orang yang
didamba dan diwaspadai. Mereka terkadang dianggap
lebih diwaspadai daripada polisi bagi orang-orang yang
nggak benar. Dan saya juga
berpikir, "Enak ya jadi wartawan, dengan
menggantungkan ID card
dileher saja, ada aja orang-orang mendekat dan
menawarkan diri untuk berteman."

Saya belum sadar kalau orang-orang itu cuma ingin jadi
teman
profesiku saja, bukan dengan saya sebagai manusia
sebenarnya. Hingga suatu hari ada seseorang petugas
pemerintah dengan sedikit pura-pura bercanda,
memasukkan amplop ke dalam tas saya. Isinya uang, tapi
uang untuk apa ini? Ada yang bilang uang ganti
transport, ada yang bilang uang kesediaan meluangkan
waktu dan sejuta
alasan lainnya. Kalian pasti berpikir saya sok lugu,
sayangnya itu benar. Tapi kalian pasti juga mengakui
kalau hal ini benar-benar ada dan ada yang terjebak
dalam lingkaran yang kata dunia kalian adalah nista.
Tapi tunggu dulu, saya tidak sengaja lewat jalan ini.
Maka beri saya tumpangan melewati jalanmu yang katamu
idealis.

Ups', idealis ya. Seperti apa sih wartawan idealis
itu. Wartawan yang selalu melaporkan berita sesuai
kenyataankah? Itu idealis? Bukankah itu memang
kewajiban seorang wartawan? Atau wartawan yang enggan
menerima segala bentuk pemberian itu yang dinamakan
idealis? Bagaimana kalau ada wartawan yang menerima
uang itu tapi melaporkan berita apa adanya? Apa dia
tidak layak disebut idealis? Ini urusan perut loh.

Atau mungkin karena sebuah tulisan di box redaksi yang
mengatakan "Wartawan tidak menerima amplop atau apapun
dari narasumber". Mereka pasti bangga berada di bawah
atap redaksi yang punya slogan itu. Belum tentu kawan,
pada kenyataannya ada sebagian dari mereka justru
memanfaatkan itu untuk dijadikan topeng mereka.

Kalian pasti berpikir saya sedang ngomong ngelantur.
Ok, saya
ceritakan sesuatu. Saya pernah ngobrol-ngobrol dengan
salah seorang dengan profesi public relation. Setelah
cukup lama ngobrol, tiba-tiba dia menanyakan nomer
rekeningku. Dalam hatiku, apa-apaan ini. Dan di buku
kecilnya saya mencuri lihat ternyata dia mempunyai
cukup banyak nomer rekening dari wartawan, justru yang
dominan dari wartawan yang punya slogan anti itu.
Bahkan dia sempat bercerita pengalaman nego dengan
wartawan-wartawan tersebut. Hey, nego soal apa ini?
Kalian semua pasti sudah tahu betul jawabannya. Inikah
orang-orang idealis itu? Atau cara itulah yang membuat
mereka mendapat predikat idealis? Dari situlah saya
tahu jawaban kenapa wartawan mudah mendapatkan teman
dan selalu diwaspadai.

Saya sebelumnya sudah berusaha keras menghindari
hal-hal itu agar saya juga disebut salah satu wartawan
idealis. Tapi sungguh, saya benar-benar bimbang
setelah mengetahui hal itu. Tapi selama ini saya
biarkan waktu dan pena yang menuntunku. Ada orang yang
dengan begitu baiknya memberi saya rokok, membelikan
saya bensin, saya sangat berterima kasih menerima itu,
tetapi percaya atau tidak, itu semua tidak bisa
menuntun jari-jari saya mengetik kata demi kata.
Cara itulah yang membuat saya menjadi idealis. Kalian
tidak setuju? Saya memahami itu. Tapi setidaknya
biarkan hati saya mempercayai hal itu.

Maaf, saya ganti topik ya? Tahun 2003, saya berkenalan
dengan kota metropolitan Jakarta di bawah atap media
hiburan. Kabar gembira buat saya dan orang-orang yang
menyayangi saya. Saya tambah gemuk dan kelihatan lebih
segar. Bagaimana tidak, tiap liputan selalu
bersentuhan dengan udara AC dan makanan-makanan lezat
ala resto.

Pekerjaanpun semakin mudah dari sebelumnya. Dulu,
untuk mendapatkan satu berita, rata-rata saya harus
datang ke tiga sampai lima tempat dan nara sumber. Di
hiburan, untuk mendapatkan tiga sampai lima berita,
saya cukup mendatangi satu tempat.

Tapi di dunia ini saya tetap bertemu dengan teman
lamaku, yaitu "dilema". Saya pernah diberi tugas oleh
pemimpin redaksiku untuk mewawancarai dua orang artis
yang sedang berseteru. Saya lakukan tugas itu dengan
sebaik-baiknya. Tapi sebelum laporan saya itu saya
setorkan, suatu hari saya melihat kedua artis itu
sedang bersama. Mereka kelihatan baik-baik saja, tak
ada tanda-tanda habis ada
permusuhan. Apa lagi ini?

Saya mendapat informasi bahwa itu adalah management
dunia artis minimal untuk merefresh nama mereka. Maka
saya laporkan sesuai yang saya ketahui itu. Tahu
nggak? Saya dimarahi habis-habisan oleh pemredku. Dan
yang disesalkan, saya diberi tugas itu karena saya
tidak tahu pemredku turut terlibat dengan sandiwara
itu. Dan ironisnya, saya dipecat. Atau mungkin saya
harus mulai berpikir untuk alih profesi jadi penulis
skenario? Tidak, terima kasih.

Yah, kira-kira begitulah sedikit pengalaman saya
setelah mengunci diri di ruang dunia wartawan. Saya
harap kalian yang membaca tidak mendebat ini, tapi
nasehat sangat saya harapkan. Tapi kalau kalian tidak
tahan dan sangat ingin memaki saya, silahkan. Dan
mulai saat itu juga kalian bisa memanggil saya "Si
Munafik". Tapi saya benar-benar minta tolong jangan
usir saya dari ruangan wartawan ini, karena saya
sangat mencintainya.



--




========================================================================================
Akses Internet TELKOMNet-Instan beri Diskon s.d. 50 % khusus untuk wilayah Jawa Timur.
Informasi selengkapnya di www.telkomnetinstan.com atau hub 0800-1-INSTAN (467826)
========================================================================================


--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2398
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id




Kirim email ke