FYI [EMAIL PROTECTED] (Gabung kirim ke
[EMAIL PROTECTED])
Dari milist kampus sebelah.........

"Christovita Wiloto" <[EMAIL PROTECTED]> nulis :

Selama ini kita hidup di Indonesia dengan tiga pembagian wilayah waktu -
Waktu Indonesia Bagian Barat, Tengah dan Timur! Kita tidak menyadari...
karena kita berada di dalamnya. "Take it for Granted"!
Mungkin saatnya kita mengkaji Dampak Pembagian Wilayah Waktu tersebut.
Apakah cara pembagian waktu sekarang efektif dalam peta globalisasi ekonomi
dewasa ini? Atau perlu ditinjau alternatif lain misalnya 2 pembagian waktu
saja...atau bahkan hanya satu? Sebuah wacana menarik yang perlu dibahas
terbuka. Sebuah topik yang belum pernah disentuh dalam kehidupan kita
sehari-hari!

Sumatera dan Jawa seharusnya dimajukan 1 jam, dan jika ini terjadi akan
meningkatkan produktifitas nasional:
 1.. Money market di Indonesia buka dan tutup bersamaan dengan pasar uang
internasional, dalam hal ini Singapore, Malaysia dll, sehingga rupiah lebih
dapat dikontrol. Sehingga Rupiah diharapkan dapat lebih stabil.
 2.. Demikian juga Capital Market.
 3.. Menurut PLN, akan mengurangi penggunaan listrik secara nasional
 4.. Menurut pakar pariwisata, akan meningkatkan jumlah wisatawan manca
negara
 5.. Meningkatkan produktifitas nasional
 6.. dll yang sangat positif bagi kita Bangsa Indonesia. jadi bersiaplah
utk berubah! Sambutlah era baru Indonesia yg lebih maju!

salam
christov


PERUBAHAN PEMBAGIAN WILAYAH WAKTU DI INDONESIA UNTUK KEPENTINGAN EKONOMI
NASIONAL

Indonesia Marketing Association bekerja sama dengan Institut Teknologi
Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) akan mengadakan Seminar Nasional tentang
"Dampak Pembagian Wilayah Waktu di Indonesia Terhadap Pola Konsumsi Enerji
& Kegiatan Perekonomian Indonesia" pada hari Rabu 8 Juni 2005 bertempat di
Hotel JW Marriott.  Seminar nasional ini akan dihadiri oleh Menteri Riset
dan Teknologi Prof. Dr. Ir. Kusmayanto Kadiman yang akan menjadi pembicara
kunci.

Seperti halnya pada negara-negara lainnya maka sejauh mana manfaat dan
kerugian akibat pembagian wilayah waktu dan ketentuan penunjukan waktu yang
paling sesuai terhadap kepentingan nasional, menjadi sesuatu yang menarik
untuk diperhitungkan dan dicermati potensi serta manfaatnya dalam rangka
mendukung efisiensi bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia.   Singapore,
Malaysia dan Philippine misalnya menetapkan waktu yang sama dengan
Hongkong, pada hal dari segi jarak mereka lebih dekat ke Indonesia.  Negara
Cina dengan luas tanahnya sebesar 9.6 juta sq kilometer memiliki satu waktu
saja yang sama dengan Hongkong dan Singapore.  Pertimbangan yang dilakukan
oleh negara-negara tersebut adalah faktor ekonomi.

President Indonesia Marketing Association (IMA) Y.W. Junardy menyatakan
:"Oleh karenanya dibutuhkan pembahasan khusus mengenai masalah ini yang
diharapkan mampu menghimpun berbagai masukan dan pendapat dari berbagai
pihak, khususnya dari para akademisi dan praktisi bisnis serta para pakar
lainnya yang berasal dari berbagai bidang seperti teknologi, politik,
ekonomi, sosial, budaya serta berbagai kalangan lainnya. Dengan demikian
mereka dapat berperan sesuai dengan bidangnya masing-masing, memberikan
sumbangan pemikiran mereka secara intensif terhadap wacana ini. Di samping
itu studi dan uji lapangan sangat diperlukan untuk membuktikan manfaat
gagasan di atas", demikian Junardy.

 "Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) didukung LPPM
Universitas Airlangga telah membentuk tim khusus untuk mengkaji masalah
pembagian wilayah waktu di Indonesia dengan segala dampaknya". Pada saatnya
kami akan memberikan masukan kepada pemerintah.  Yang pasti kita harus
berani meninjau kembali pembagian wilayah waktu di Indonesia.  Karena bisa
saja mempengaruhi pola konsumsi enerji di Indonesia.  Apalagi kita tahu
Indonesia belakangan ini sedang menghadapi masalah enerji, demikian
Prof.Dr. Ir Mohammad Nuh, DEA Rektor ITS.

Pembicara lain di seminar nasional tersebut antara lain para pengajar dari
ITS seperti Ir. Mochamad Ashari. M.Eng, Ph.D; Dr.Dr. Ir.A.Sonny Nursutan
Hotama, MM, MA; Kepala Badan Metereologi dan Geofisika Nasional Dr. Gunawan
Ibrahim; Salah satu dari 50 guru terbesar dunia di bidang pemasaran
Hermawan Kertajaya;  Direktur Utama Merpati, Hotasi Nababan, MBA; Pakar
sosiologi Prof. Dr. Hotman M. Siahaan; Pakar ekonomi dan anggota DPR Dr.
Drajad Wibowo serta Dr. Aviliani, ekonom dan komisaris BRI.


--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2422
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke