Fyi tina koran PR dinten ayeuna ....
 
budhi
oritate permai
 
Bahasa Sunda Jangan Punah
Sejumlah Budayawan Dapat ”Anugerah Budaya Sunda”

BANDUNG, (PR).-
Pengenalan bahasa Sunda sudah selayaknya mendapat perhatian serta tempat yang khusus. Bahkan, sedini mungkin diterapkan dan diajarkan kepada anak-anak agar kelak ada generasi penerus yang akan memelihara, menjaganya, serta melestarikannya.

”Sudah menjadi kewajiban sebagai orang tua mengajarkan pada anak-anak kita mengenai budaya sendiri. Kalau tidak sejak sekarang, mau kapan lagi. Jangan sampai setelah mendekati kepunahan baru kita melakukan upaya,” ujar Letjen TNI (Purn) Dr. (HC) H. Mashudi, saat memaparkan orasi budaya Sunda, dalam acara ”Anugerah Budaya Sunda” yang diberikan Yayasan Daya Budaya Pasundan, Rabu (19/5), bertempat di Gedung Kesenian (GK) Rumentangsiang.

Dikatakan Mashudi, kekhawatiran dirinya cukup beralasan, mengingat saat ini ada kecenderungan anak-anak lebih menyukai budaya pop. Bahkan budaya pop yang diadopsi oleh kalangan anak-anak, terutama anak muda, lebih banyak didapat dari luar.

Sayangnya bahasa Sunda sendiri hanya diperkenalkan pada tingkatan tertentu. ”Padahal untuk ngamumule basa indung tidak harus mengenal waktu, tetapi dibutuhkan kesinambungan dan perhatian serius,” tegas Mashudi.

Dia juga menyatakan heran, karena banyak anak-anak yang mengatakan mempelajari bahasa Sunda lebih sulit dari bahasa Inggris. Oleh karenanya ia mengharapkan supaya hal itu menjadi bidang perhatian dan garapan semua orang Sunda, agar budayanya tidak mengalami kepunahan.

Penghargaan

Sementara itu tim juri dari Yayasan Daya Budaya Pasundan, di antaranya Drs. H. Wahyu Wibisana, Apung S. Wiriaatmadja, Dra. Etty R.S., Abdulah Mustappa, dan H. Us Tiarsa R., menyatakan, untuk pasanggiri menulis Pupuh yang berhak atas hadiah D.K. Ardiwinata, adalah Dedy Windyagiri. Dedy diberi penghargaan atas karyanya berjudul ”La’nat di Jagat Ma’siat”, U. Supriatna, S.Ag., (Kinanti, Sinom, Asmarandana, jeung Dangdanggula).

Hadiah R.H. Moh. Kurdie, diberikan untuk hasil reportase terbaik untuk Nanang Supriatna, wartawan SKM Galura untuk tulisannya ”Citanduy teu Boga Dosa kana Deetna Sagaraanakan”. Sedangkan untuk esai diberikan kepada Cecep Burdansyah, dengan esainya ”Mariksa Dada jeung Danny” dalam majalah Cupumanik No.5/taun 1 Desember 2003.

Hadiah R. Soeria Diradja, diberikan kepada Deni Hadiansah untuk hasil karyanya berjudul ”Ngajarkeun Basa Sunda Henteu Gugon Teuing Kana Kurikulum, Buku Pangajaran jeung LKS”, Asep Ruhimat untuk ”Ngajarkeun Basa Sunda Henteu Rengkeng Bari Keurung”, dan Imas Rohillah untuk karyanya berjudul ”Ti Karya Gotong Royong Nepi ka Jam Pireu”.

Ke delapan karya tersebut, dinyatakan berhak atas hadiah D.K. Ardiwinata, R.H. Moh. Kurdie, dan R. Soeria Diradja, dari 278 tulisan dan 164 esai yang masuk seleksi. ”Dari seluruh karya yang diseleksi adalah karya yang paling orsinil, permasalahan yang tengah terjadi di masyarakat, upaya masyarakat, serta memberikan informasi pada masyarakat,” ujar Drs. H. Wahyu Wibisana.

Dicontohkan Wahyu, untuk pasanggiri menulis pupuh, selain asli juga saat ditembangkan enak didengar dan menyimpan kekayaan bahasa. Hal lain yang diperhatikan adalah masalah kaidah dan susunan kata seperti yang sudah ditetapkan. (A-87)***



Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke