Tujuh Melati nan Layu

Oleh: AGUS SOPIANN

SEPENINGGAL Wibisana, Mangle dimasuki orang politik:
Mh. Rustandi Kartakusumah, kader Partai Nasional
Indonesia. Yang menarik, Kartakusumah tidak pernah
mengubah Mangle jadi dapur politik. Justru sebaliknya,
Mangle-lah yang kemudian membenahi dirinya untuk lebih
kencang lagi berkreasi setelah politik mengendurkan
kemampuan sastranya.

Kartakusumah �kini 81 tahun, tetap lajang dan tinggal
di Panti Wreda Karya Bakti, Cibubur, Jakarta� bukan
orang baru di jagat sastra. Tahun 1960-an, Mh.
Rustandi Kartakusumah dikenal sebagai seteru polemik
kritikus sastra H.B. Jassin. Jassin sendiri
menggolongkan Kartakusumah ke dalam jajaran sastrawan
1945 atau seangkatan Chairil Anwar. Prabu dan Putri
(1950) serta Bunga yang Merah Merah Semua, Bunga yang
Putih Putih Semua (1958) adalah sejumlah karya drama
yang dianggap cemerlang untuk masanya.

Nama Kartakusumah di dalam negeri meredup pada 1950-an
ketika ia melalang buana untuk mengajar di Yale
University, Harvard University, dan Massachussetts
Institute of Technology, semuanya universitas papan
atas di Amerika Serikat. Selain itu, Kartakusumah
tercatat pula sempat mukim selama setahun di Belanda,
melakukan studi lapangan atas undangan Sticussa
(Stichting voor Culturele Samenwerking) �sebuah
lembaga kebudayaan Belanda yang cukup prestisius.

Oleh Kartakusumah, Mangle diubah jadi dwimingguan,
dengan harga eceran Rp 7. Oplah Mangle yang sempat
melorot 40 ribu eksemplar, dapat ditingkatkan menjadi
50 ribu per terbit atau 100 ribu eksemplar per bulan.

Kartakusumah adalah pekerja keras, toleran, dan guru
buat mereka yang berbakat. "Karya-karya yang dinilai
tinggi dari segi sastra bisa saja dimuat dalam satu
nomor majalah, yang juga memuat karya yang sama sekali
tidak bernilai sastra," ungkap Abdullah Mustappa,
wakil pemimpin redaksi Mangle pada periode 1979-1982.

Mustappa menuturkan bagaimana Kartakusumah memainkan
peranannya begitu diangkat jadi pemimpin.
Pertama-tama, ia membongkar lemari untuk mencari
naskah-naskah yang dinyatakan tidak laik muat
sebelumnya. Ia baca satu per satu, kalimat per
kalimat, kata per kata. Beberapa yang menarik
perhatian, ia sunting dan ketik ulang. Kalau dirasa
perlu, ia akan mengirimkan surat kepada pengarangnya
untuk mengabarkan bahwa naskahnya akan dimuat. Tak
jarang, Kartakusumah datang sendiri ke rumah sang
pengarang.

Kebijakan Kartakusumah tak urung mengundang
kontroversi. Saini K.M., redaktur Mangle di masa
Wibisana, mengomentari Kartakusumah telah mengubah
Mangle dari sastra menjadi kitsch.

Memuat karangan yang pernah ditolak mungkin masih bisa
"dimaafkan." Tapi, langkah Kartakusumah berikutnya
tambah membuat orang tak habis pikir. Ia dengan
sengaja mengundang para pengarang baru, yang
sebelumnya sama sekali tak dikenal dalam jagat sastra,
untuk duduk bersama-sama di jajaran redaksi. Tak hanya
sampai di sana. Nama-nama pengarang yang selama ini
naskahnya jadi hiasan lemari pun ia panggil, dan malah
ditawari jabatan redaktur.

"Mendidik pengarang," ujar Mustappa, kini jadi
redaktur Pikiran Rakyat, "itu merupakan salah satu
tujuannya, bahkan mungkin yang paling penting ketika
memimpin Mangle. Pemikirannya, sebagaimana ia
kemukakan kemudian, tampak cukup sederhana. Yaitu,
sastra itu harus disukai pembacanya."

Kegilaan Kartakusumah baru dirasakan beberapa tahun
kemudian. Banyak siswa bimbingannya yang kemudian jadi
pengarang-pengarang kuat hingga mampu menyejajarkan
karyanya dengan para inohong sastra Sunda. Pengarang
novel Eddy D. Iskandar yang terkenal pada 1980-an
adalah salah satu didikannya. Ada juga nama lain
seperti Teti Hodijah, Adang S., Aam Amalia, atau
Holisoh M.E. �yang memarakkan hiruk-pikuk sastra Sunda
1980-an.

Kartakusumah sendiri akhirnya memperlihatkan wajah
aslinya sebagai pengarang yang piawai membangun
karakter dan plot. Novel Mercedes 190, mulanya sebuah
cerita bersambung di Mangle, umpamanya, dianggap
sebagai karya monumental oleh banyak kritikus sastra
Sunda, termasuk Ajip Rosidi. "Selama ini, karya sastra
dihindari karena dianggap bacaan berat," kata Rosidi,
seraya menambahkan bahwa Kartakusumah mematahkan
anggapan tadi. "Karya sastra yang baik, juga bisa jadi
bacaan populer."

Kartakusumah bertahan dua tahun. Oeton Moechtar,
pemilik yang telah pensiun dari kursi pejabatnya di
dinas kehutanan Bogor, mengambil alih kepemimpinan. Ia
mulai menjangkarkan pola manajemen keluarga di
berbagai lini.

Masa keemasan Mangle yang dimulai sejak Wibisana dan
dilanjutkan Kartakusumah, pelan-pelan memudar.
Menjelang dekade 1960-an berakhir, jenis kelamin
Mangle sudah tidak jelas lagi, apakah majalah fiksi
atau informasi. Pasalnya, di bawah kepemimpinan
Moechtar, Mangle yang sudah kekurangan pengarang,
mencoba masuk ke lahan baru: jurnalistik. "Kalau
dikatakan dosa, ya saya berdosa. Saya mencoba
memadukan sastra dan jurnalistik di Mangle. Saya
membentuk wartawan," ungkap Us Tiarsa, bekas redaktur
reportase Mangle yang kini jadi pemimpin redaksi
mingguan Sunda Galura, anak perusahaan Grup Pikiran
Rakyat.

Us Tiarsa menuturkan, sejak roda jurnalisme berputar
itulah konflik sering terjadi di Mangle. Dalam
berbagai rapat, direksi malahan sering mempertanyakan
arah dan konsistensi Mangle. Dihadapkan dengan situasi
demikian, awak Mangle tak lagi dapat bekerja secara
tenang. Setiap saat mereka dapat menjadi sasaran
kritik. "Friksi yang begitu tajam tidak ada, tapi
situasi jadi tidak harmonis lagi," kata Tiarsa.

Moechtar mungkin sadar akhirnya, ia tak dilahirkan
untuk menjadi pemimpin redaksi. Maka, segera setelah
Us Tiarsa dan kawan-kawan meninggalkannya, dia
menyerahkan kepemimpinan redaksi kepada Ki Umbara,
orang yang juga sempat meninggalkannya. Karya-karya
nonfiksi kembali diberi tekanan. Aktivitas jurnalistik
hanya diberi tempat seperlunya, sekadar sebagai
"ganjal" halaman yang kini sudah lebih tebal: 36
halaman.

[Sebelum Ki Umbara benar-benar bekerja menjalankan
tugasnya, langkahnya terhenti di tengah jalan.]


                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish.
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke