Aya artikel perkawis kapamingpinan Sunda, dina PR  dinten Saptu,
tgl 26 Juni 2004. Anu rada "menarik" anu ngarang ieu artikel teh
WNI katurunan Tionghwa nu oge non Muslim (sangkaan sim kuring
kulantaran namina Andreas). Mangga nyanggakeun!

Ki Sunda Sebagai Pemimpin, Mengapa Tidak?

Oleh Dr. ANDREAS BINTORO
MASALAH kepemimpinan sering menjadi bahan perdebatan yang hangat
di berbagai tempat dan media massa, termasuk di Pikiran Rakyat.
Tentang kepemimpinan Ki Sunda, ada berbagai pandangan. Secara
umum, ada yang optimis, skeptis, ada yang pesimis, bahkan ada
pula yang defaitis. Sebagai orang yang ingin Nyunda, saya tidak
berani menanggapi berbagai pandangan itu, namun saya ingin
menyumbangkan apa yang saya ketahui tentang masalah kepemimpinan
dalam hubungannya dengan kepemimpinan Sunda.

Dengan sengaja saya gunakan istilah Nyunda, karena nenek buyut
saya penduduk asli lembah Ciserayu (Sungai Serayu), kakek buyut
saya berasal dari lembah Yangtzekiang. Saya tinggal di Bandung
selepas SMA dan empat dasawarsa telah berlalu semenjak itu. Garwa
saya seorang mojang Priangan asal Sukabumi. Semoga anak-anak saya
dapat diakui sebagai Sunda.

Dalam Ensiklopedi Sunda ada peta yang menunjukkan bahwa Sungai
atau Kali Serayu dulu bernama Ciserayu, dan Kali Pemali dulu
bernama Cipamali. Dengan kata lain, dulu termasuk daerah Kerajaan
Sunda (Galuh atau Padjadjaran). Saya cenderung percaya, karena di
Kabupaten Banyumas ada desa yang bernama Ciwarak, kota yang
bernama Cilongok, jalan yang bernama Cikebrok dan berbagai nama
Sunda lainnya.

Di daerah Banyumas ada istilah blakasuta atau cablaka artinya
bicara dengan sangat terbuka. Ini sangat bersamaan artinya dengan
istilah balaka atau wakca dalam bahasa Sunda. Semoga nilai
keterbukaan ini tidak dianggap melanggar nilai malapah gedang
(bicara secara halus, bertahap dan tidak langsung).

Kepemimpinan Ki Sunda

Orang Sunda senang mengungkapkan sesuatu dengan peribahasa. Kita
sering mendengar mereka berkata, Hade ku omong, goreng ku omong
(Baik karena ucapan, jelek karena ucapan). Ratu kudu saciduh
metu, sakecap nyata (ucapan dan tingkah laku harus berpadanan).

Dalam istilah modern, makna parigeuing kurang lebih sama dengan
makna consideration (timbang rasa) sebagai salah satu unsur
tingkah laku kepemimpinan yang efektif. Tugas pemimpin menurut
buku berjudul Sanghiyang Siksa Kanda'ng Karesian (SSKK) ialah
Ngertakeun bumi lamba artinya, menyejahterakan semesta dunia
kehidupan. Bagaimana pendapat Anda bila dibandingkan dengan
ungkapan Mamayu hayuning bawana?

Dalam SSKK disebutkan adanya tiga kelompok pemimpin menurut
kedudukannya yaitu Tri Tangtu di Buana (Tiga ketentuan yang
menentukan di dunia), yaitu, (1) Rama termasuk di dalamnya
keluarga, pemuka masyarakat; (2) Sang Resi yaitu para
cendekiawan, guru, rohaniwan, ulama; (3) Sang Prabu yaitu
pemimpin formal, birokrat, pemerintah, para pengambil kebijakan,
semua unsur lembaga eksekutif, yudikatif, dan legislatif.

Selanjutnya SSKK memberi Dasa Pasanata artinya Sepuluh Penenang
yaitu cara memberi perintah yang baik agar orang yang diperintah
bisa melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Kesepuluh cara
memerintah yang dimaksud ialah, guna, ramah, hook (kagum), pesok
(bangga), asih, karunia (belas kasih), makpruk (menenteramkan
hati), ngulas (memberi pujian dan ulasan), nyecep (memberi
perhatian, hadiah), ngala angen (mampu menarik simpati).

Pelaksanaan kesepuluh penenang itu belum cukup, ia harus
dilengkapi dengan Pengimbuhning Twah atau pelengkap untuk
mempunyai tuah atau karisma. Jumlahnya ada dua belas yaitu, Emet
(tidak konsumtif), imeut (teliti, cermat), rajeun (rajin),
leukeun (tekun), paka pradana (berani tampil, berbusana sopan,
beretiket), morogol-rogol (bersemangat, beretos kerja), purusa
ning Sa (berjiwa pahlawan, jujur dan berani), widagda (bijaksana,
rasio dan rasa seimbang), gapitan (berani berkorban untuk
keyakinan dirinya), karawaleya (dermawan), cangcingan, cingceung,
tangginas (terampil, cekatan), langsitan rapekan (segala bisa,
pro aktif).

Dalam teori kepemimpinan moderen, kedua belas Pangimbuhning Twah
itu termasuk ke dalam pendekatan sifat-sifat pemimpin.
Pelaksanaannya tentu harus melihat keadaan di dunia nyata. Selain
dari pedoman normatif yang bersifat perintah, ada pedoman
normatif yang bersifat larangan. Agaknya dalam SSKK tidak diberi
nama, sehingga Drs. H.R. Hidayat Suryalaga memberi nama Opat
Paharaman (Empat hal yang diharamkan) kepada larangan itu yaitu,
babarian (mudah tersinggung), pundungan (mudah merajuk),
humandeuar (berkeluh kesah), kukulutus (menggerutu).

Izinkanlah saya mengusulkan agar dilakukan penelitian tentang
persepsi orang Sunda dan orang bukan Sunda tentang pelaksanaan
perintah dan larangan sesuai dengan teori kepemimpinan gaya Prabu
Siliwangi. Sebab ada orang Sunda sendiri merasa, bahwa praktik
sangat jauh dari teori. Saya pernah bertanya kepada seorang dosen
merangkap konsultan, mengapa sebagai orang Sunda beliau tidak
menjadikan orang Sunda sebagai asisten. Beliau menjawab, "Orang
Sunda itu pundungan!" Ada juga yang berpendapat "Orang Sunda
tidak bersungguh-sungguh, bila ditegur karena salah malah
tertawa!"

Akan tetapi saya pernah menyaksikan sendiri seorang cendekiawan
dengan sangat tajam mendebat cendekiawan lain dalam pertemuan
cendekiawan suatu organisasi. Ternyata dia orang Sunda, seorang
doktor yang mengajar di ITB. Agaknya faktor pendidikan dan
lingkungan sangat berpengaruh. Oleh karena itu, gejala yang
kasuistis itu perlu diteliti dengan sebaik-baiknya dan
seobjektif-objektifnya.

Orang Sunda sebagai RI satu

Mungkinkah orang Sunda sebagai pemimpin tertinggi di republik
ini? Jawabannya, mengapa tidak? Saya percaya itu bisa, hanya
belum saatnya atau tidak diberi kesempatan, atau tidak mencari
kesempatan. Bila seorang dari suku kecil, lebih kecil dari suku
Sunda bisa, mengapa suku Sunda yang kedua terbesar setelah suku
Jawa tidak bisa?

Bapak Ir. H. Djuanda pernah menjadi Perdana Menteri yang berhasil
dalam tugasnya. Letnan Jenderal Marinir (Purn.) Ali Sadikin telah
menjadi legenda sebagai seorang gubernur di ibu kota negara yang
sangat berhasil. Prof. Dr. Ir. Kusnadi Hardjasumantri pernah
menjadi Rektor di Universitas Gajah Mada. Sebenarnya seringkali
pemimpin itu berasal dari suku atau bangsa yang kecil, misalnya
Lenin tidak berasal dari Moskwa. Stalin berasal dari Georgia
(bagian Uni Soviet yang sekarang sudah melepaskan diri) sebuah
negara kecil.

Saya melihat memang tidak banyak orang Sunda yang berkiprah di
pentas nasional, akan tetapi yang berkiprah biasanya konsekuen
dengan panggilannya. Misal, Mulyana W. Kusumah, Teten Masduki,
Erry Riyana Hardjapamekas.

Lalu siapakah orang Sunda yang pantas dan mampu menjadi Presiden
Republik Indonesia? Karena tidak ada sekolah untuk menjadi
presiden, menurut saya cara yang paling tepat untuk menentukan
mampu dan tidaknya seseorang menjadi presiden ialah dengan
dipilih secara langsung dan kemudian dibiarkan untuk membuktikan
kemampuannya. Akan tetapi dengan makin berperannya uang untuk
mendanai kampanye pemilihan presiden, maka akan semakin sulit
bagi seseorang yang mampu dan layak menjadi presiden untuk
berhasil menjadi presiden tanpa bantuan para pendukungnya.

Ada seorang Sunda yang dilihat dari catatan perjalanan hidupnya
diperkirakan mampu dan layak menjadi pemimpin bangsa. Beliau
ialah Jenderal TNI (Purn.) Agum Gumelar, satu-satunya Jenderal Ki
Sunda yang masih berkiprah di pemerintahan NKRI.

Harian Kompas (1998) pernah menurunkan cerita tentang Jenderal
TNI Agum Gumelar yang disarikan berikut ini. Menurut Kompas,
penduduk Ujungpandang atau dulu dikenal dengan Makassar itu
terkenal bertemperamen panas. Sebagai contoh, sewaktu terjadi
protes pemuda dan mahasiswa menentang pemakaian helm pada tahun
1985 ada lima jiwa melayang. Kemudian ada tiga mahasiswa tewas
sewaktu terjadi unjuk rasa menentang kenaikan tarif angkutan
kota.

Sosok Pak Agum Gumelar yang murah senyum dan tidak angker dengan
pendekatan persuasif telah dengan sangat berhasil mengendalikan
kerusuhan pertengahan September 1997 yang terjadi di
Ujungpandang. Pada waktu itu Pak Agum Gumelar menjabat sebagai
Pangdam VII/Wirabuana. Seorang pengusaha di Jalan
Veteran-Ujungpandang berkata, "Saya sangat berterima kasih kepada
panglima, sebab berhasil mencegah perusakan toko saya dan
masyarakat sekitar pun tidak ada yang sentimen".

Pada tanggal 15 September 1997, Annie anak tunggal Pak Junaidy
tewas dibunuh seorang gila. Pak Agum Gumelar sebagai Panglima
Kodam VII/Wirabuana bertindak cepat dan meminta agar keluarga
yang berduka bersedia dan rela memakamkan jenazah Annie pada
malam itu juga. Akhirnya pihak keluarga korban setuju dan
pemakaman dilakukan pada jam 02.00-03.00 dini hari Selasa, 16
September 1997.

Karena pemberitaan koran, kerusuhan meletus juga, akan tetapi
tidak sehebat seandainya tidak dilakukan pendekatan oleh panglima
kepada keluarga korban. Pada tanggal 5 Oktober 1997, Hari ABRI,
Pangdam memberikan penghargaan tertinggi kepada Pak Junaidy,
dosen yang pemaaf dan Mustafa, seorang daeng becak yang jujur dan
tidak kemaruk harta. Sebuah masjid juga didirikan untuk mengenang
Annie. Sifat demokratis, purusa ning Sa, widagda, gapitan,
cangcingan, langsitan ditunjukkan sewaktu beliau membiarkan
Kongres PDI yang memilih Megawati Soekarnoputri tetap
berlangsung. Akibatnya, beliau digeser dan dipindahkan ke Medan.
Ini menurut pengakuan beliau sendiri dalam rangka dialog capres,
cawapres lewat televisi. Dia seorang sahabat sejati. A friend in
need is a friend indeed!

Dengan halus tetapi tegas, Pak Agum menegur para penanya
merangkap penyiar TV yang tidak sopan, karena menyebut para
pemimpin tertinggi dan tinggi negara dengan nama saja. Ini
menunjukkan bahwa beliau seorang yang menghargai undak usuk (tata
krama) dan berbudaya tinggi. Memang banyak penyiar TV yang
kebablasan sehingga lebih kasar dari orang Inggris (Barat) yang
menyebut musuh pun dengan sebutan Mr. (Tuan) dan menyapa anggota
parlemen dengan Mister Member of Parliament, tidak dengan sekadar
nama seperti di Indonesia.

M.A.W. Brouwer dalam buku Perjalanan Spiritual:Dari Gumujeng
Sunda, Eksistensi Tuhan sampai Siberia, terbitan Kompas, 2003
menulis, "Orang Sunda suka tertawa dan tidak begitu cepat ambil
pusing. Bahasa mereka sangat baik dan berbunyi musikal sekali.
Karena sawah sangat subur, mereka mempunyai jiwa tani yang
bijaksana dan kalau di luar sering ada huru-hara di Jawa Barat
biasanya tenang."

Pernyataan itu mengandung kebenaran. Bahasa Sunda bernada tinggi.
Seandainya orang Sunda berlatih menyanyi sopran dalam opera
Italia kemungkinan besar akan sangat berhasil. Pada waktu banyak
darah tertumpah di Jawa Timur dan Jawa Tengah pada tahun-tahun
pasca tragedi 30 September 1965, di Jawa Barat di bawah pimpinan
Panglima Kodam V Siliwangi, Letnan Jenderal Ibrahim Adjie tidak
ada banjir darah.

Indonesia memerlukan pemimpin yang tegas tetapi bijaksana, ceria
dan tidak suka menumpahkan darah. Pak Agum Gumelar itulah salah
satu orangnya. Bukankah beliau sudah dianugerahi gelar Rakean?
Dalam pemilihan Presiden tanggal 5 Juli 2004 nanti beliau masih
sebagai calon wakil presiden. Tahap ini baik untuk persiapan
pemilihan presiden yang akan datang.***

Penulis dosen Universitas Kristen Maranatha Bandung.



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke