Ieu aya warta ti milis tatanggi yen korupsi teh masih langgeng di tiap instansi pamarentah, padahal SBY geus niat perang jeung KKN teh tapi warisan orba masih keneh nagkod bae di tiap instansi.
 
Ka baraya Kusnet anu di KBRI bener teu aya nu samodel kitu di KBRIna..????
 
 
JB
Keuheul...iraha Indonesia Maju .. birokrasi bebas KKN
 
 
-------Original Message-------
 
 
Merubah mentalitas dan moralitas bangsa(t) itu memang tidak mudah!
 
Saya WNI tinggal di Belanda, barusan minggu lalu memperbaharui paspor saya
di KBRI di Den Haag.
Kalau kalian pikir di Belanda lebih mendingan dibanding dengan Kantor
Imigrasi JakSel, mungkin jawabnya "IYA, SEDIKIT MENDINGAN", tapi yang
namanya Pungli itu tetap aja jalan terus!
 
Resminya memperbaharui paspor di Belanda itu adalah 3 hari dan biayanya
untuk paspor perorangan adalah 50 Euro. Paspor keluarga 60 Euro. Bisa dicek
di website-nya KBRI. Tapi, kalau kamu sudah berhadapan dengan petugas bagian
paspor, mereka bilang selesainya sekitar 2 minggu, tapi tilpun aja seminggu
lagi, tanya udah jadi apa belum dan biayanya adalah 60 Euro untuk paspor
perorangan.
 
Jadi, dari setiap paspor perorangan ada pungli 10 Euro (kalau yang paspor
keluarga saya enggak tau deh!), ... bayangin tuh berapa pemasukan tambahan
mereka dalam sebulan!
 
Jadi, ya memang kita sangat mengharapkan bahwa bapak-bapak yang sudah
berposisi-tinggi di pemerintahan negara kita tercinta, INDONESIA, semoga
benar-benar akan membasmi korupsi, agar bangsa kita tidak dipermalukan oleh
oknum-oknum pecandu pungli. Sampai di rantau-pun Pungli tetap berjaya.
 
Selain itu, yang namanya WC (kamar kecil) di KBRI Den Haag, ... aduh mak!
Sangat memalukan. Orang-orang Belanda yang lagi pada ngurus permohonan visum
dan musti ke WC, setelah melihat WC-nya maka kalau enggak kebelet banget
mereka pada menahan diri sebisa mungkin dan ke WC di tempat lain. Kedutaan
kok kayak begitu lho WC-nya! Mungkin ada baiknya kalau KBRI diberi sedikit
"kursus fasilitas saniter", sehingga layak untuk go international.
 
Tembok dan lantaipun kumuh dan dekil. Malu-maluin deh! Kalaupun enggak punya
dana untuk bayar tukang cet tembok dan penggosok lantai, ya mbok itu para
karyawan KBRI piket membersihkan. Kalau summer rame-rame nge-cet tembok di
KBRI yuk! Demi imago Indonesia di mata international. Oh bangsa-ku ....
 
Cheers,
Anton
 
 
-----Oorspronkelijk bericht-----
 
 
 
Date: Thu, 17 Feb 2005 08:35:07 -0800 (PST)
   From: eka zulkarnain <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Pengalaman buruk di kantor Imigrasi Jaksel
 
Saya bener-bener sedih melihat kondisi negara ini. Di
tengah gencarnya langkah-langkah atau kampanye anti
korupsi (atau mungkin kosmetika politik saja?),
ternyata praktek korupsi tak pernah berhenti. Dan
benar kalau pemerintah negara tetangga (Singapura)
bilang bahwa masalah korupsi di Indonesia tidak bisa
dicegah hanya dengan perjanjian ekstradisi saja.
 
     Beberapa waktu yang lalu saya punya pengalaman
buruk bin menyedihkan. Saya waktu itu mengantar
keponakan saya untuk mengurus pembuatan paspor di
Kantor Imigrasi Jakarta Selatan di daerah Mampang,
Jaksel. Sungguh menyesakkan dada sesampai di kantor
tersebut. Di pintu gerbang kantor sih, terpampang
tanda (boleh dibilang spanduk) besar-besar agar para
calon pengurus paspor menghindari calo dengan
mendatangi langsung loket. Tapi apa mau dikata,
ternyata calo dan petugas korup yang berkuasa.
    Saya tak memfitnah dan berbohong. Ini betul-betul
terjadi. Saya ceritakan rentetan kejadiannya....
 
      Sewaktu saya mendatangi loket III untuk
pembuatan paspor baru RI sepi sekali (atau memang sepi
karena saya baru sekali ke situ, pada hari itu).
Kejadian ini terjadi pada pertengahan bulan Februari.
Saya kemudian menanyakan kepada petugas, apa saja
persyaratan untuk membuat paspor? Dengan rasa tak
peduli dan enggan, ia memberikan persyaratannya. Dan
ia menyuruh saya untuk ke sebuah loket untuk mengambil formulir, yang saya
harus tebus dengan harga Rp.
5000,-
 
    Kemudian saya bertanya ke petugas di loket III,
berapa lama untuk mengurus paspor itu? Ia menjawab
bisa lima hari kerja. Saya tanya lagi, "apa enggak
bisa kurang dari itu?" Petugas langsung menjawab, "apa
bapak mau dibantu?" Saya jawab, "maksudnya?" Nanti
saya panggil orang yang membantu, jawabnya.
 
   Saya langsung paham, karena matanya melirik kepada
seseorang yang tak berseragam imigrasi. Saya mengerti
yang ia maksud adalah calo. Tapi saya akhirnya cuek
saja. Saya isi saja formulir  di ruang tunggu.
Kemudian beberapa calo mendatangi saya. Mereka
menawari bantuan, sambil menunjuk-nunjuk tempat kosong
yang harus keponakan saya isi. Saya iseng bertanya,
berapa kalo dibantu?. Jawabnya, "satu hari bisa
langsung jadi pak, nanti sore bapak sudah terima
paspornya. Ya biayanya agak mahal pak, Rp 400 ribu
untuk paspor 24 halaman."
    Saya cuma mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Padahal saya sendiri dan keponakan tidak perduli jika
harus menunggu lima hari atau pun seminggu karena
perginya pun ke luar negeri masih tiga minggu lagi.
Dan lagi keponakan saya juga inginnya secara
procedural...
 
    Saya dan keponakan kemudian serahkan formulir ke
loket III. Saya bilang," lama juga enggak apa-apa
pak." Ia menjawab," ya sudah nanti bapak tunggu saja
motretnya sore jam � 3."
 
     Karena keburu sebel sama petugas dan para calo
yang berkeliaran, TIMBUL RASA JAHIL SAYA. saya
kemudian bilang kepada petugas, "Pak, apa buat
wartawan enggak bisa lebih cepat?" Ia kelihatan agak
kaget (terlihat dari wajahnya). Ia langsung menjawab,
"Oh bapak wartawan? Mau liputan ke mana pak? oke,
nanti saya bantu. Bapak bayar dulu saja di loket di
lantai II dan nanti sore mudah-mudahan paspornya sudah
jadi." Saya jawab, "enggak, bukan saya, ini keponakan
saya yang mau pergi, saya sih tidak." "Ya sudah nanti
saya bantu," jawabnya.
 
     Saya tersenyum, sambil berkata dalam hati, "lima
hari apa lima hari?." Ternyata setelah saya membayar,
biaya paspor untuk 24 halaman cuma Rp 115 ribu, plus
Rp 5000 untuk formulir jadi seluruhnya Rp 120 ribu.
Bayangkan kalau saya menuruti calo yang menawarkan
harga begitu tinggi.
 
    Bahkan ketika saya menunggu saya sempat melihat
seorang ibu yang mengurus sendiri paspornya seperti
orang kebingungan kapan paspornya jadi dan ia sempat
bertanya kepada saya. Saya menyuruhnya ke loket untuk
bertanya, dan ia berkata kata petugasnya cuma 'nanti.'
Saya juga berbicara pada seorang ibu lainnya yang
memperpanjang paspor lewat seorang calo. Ia kena biaya
sampai Rp 600 ribu dan paspornya dijanjikan jadi hanya
dalam waktu 3 jam!!! Ajaib enggak tuh?
 
   Saya lihat sendiri calo di Kantor Imigrasi Jakarta
Selatan mirip LALAT BANGKAI. Mereka yang jumlahnya
sampai puluhan bahkan dengan seenaknya masuk ruang
pemotretan, ruang pengambil sidik jari dan wawancara
serta menaruh formulir "Klien-Kliennya" di meja para
petugas. Disimpannya di atas formulir pemohon yang
sudah masuk duluan!! Dan para petugas pun mendahulukan
formulir yang mereka serahkan...GILAAAA. Praktek korupsi
secara terang-terangan dan terbuka!!!
   Sewaktu pemanggilan untuk para pemohon yang
paspornya sudah jadi, petugas yang berada di loket
memanggil nama para calo dengan fasihnya. Dan para
calo pun membawa setumpuk paspor, yang kira-kira
berjumlah lima sampai tujuh paspor. AJAIB LAGI....
 
    Ternyata paspor keponakan saya pun jadi hanya
dalam sehari. Jam 10 daftar, jam � 3 sudah jadi...Ajaib
juga. Akhirnya saya dan keponakan pun ngeloyor pergi,
sambil geleng-geleng kepala.
 
   Ternyata pemberantasan korupsi di negeri ini - yang dicanangkan sendiri
oleh Presidennya, Soesilo Bambang Yudhoyono - tidak dituruti oleh
bawahannya. Ternyata juga praktek pemberantasan korupsi cuma kosmetika
politik untuk menarik perhatian masyarakat...PAYAH...
 
    Ketika saya menceritakan itu kepada orang di rumah
DAN TETANGGA? mereka bilang, "wah ternyata pemerintah
cuma omong doAng alias OMDO. Berarti juga para petugas
IMigrasi Jakarta Selatan di Mampang telah
menginjak-injak HARGA DIRI SOESILO BAMBANG YUDHOYONO
yang mereka pilih sebagai presiden."
   Jadi...SELAMAT LANGGENG KORUPSI DI INDONESIA....
 
 


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke