Haturan baraya, Tambah ngahuleung ieu teh uteuk buntu teu tiasa diajak kompromi kangge damel.... Ahh... mukaan Koran PR, mendakan ieu.. sapertos anu ditangkodkeun dihandap...Geuningan seueur oge, titinggalan sajarah urang Sunda the, tapi naha abdi teu terang? Pedah abdi kuuleun kitu? Tong boro anu kieu, dalah Majalaya wae anu cenah deukeut ti Cicadas, da can pernah ngalaman ulin kadinya..... mung eta wae anu teu kahartos sok diangge kangge nyekar bari aya anu disuhungkeun anu kesanna the naon namina Musyrik kitu? Sanaos disebatkeun mung perantara oge, da geuningan nya nyuhungkeunna kasaha? Rumaos kulawargi sim kuring oge sakali sakli masih keneh sok aya rituak model kitu, upami nuju aya riungan kulawarga, anu janten paman sok dijantenkeun perantara..cenah sepuh abdi sareng kulawarga na the sanes ngobrol sareng pun paman, tapi sareng rohna pun Aki... ah teu ngalartos ku abdimah.. mendingan kaluar wae ameng, bari teu hilap ngaregot heula rujak kalapa anu dipasihan gula tea da enak..ku si Mbah mah da tara di leueut ieuh... ;p
cag ah... sok asa jadi cerpenis unggal posting the euy.... ;) Baktosna, BERITA UTAMA Selasa, 17 Mei 2005 "Bumi Alit", Warisan Leluhur Sunda DI dalam buku Semerbak Bunga di Bandung Raya, penulis Haryoto Kunto memuat peta Danau Bandung Purba. Di sana digambarkan bahwa Banjaran merupakan salah satu daerah pantai yang sedikit menjorok ke laut. Tentu saja bukan sebuah kemustahilan, pada zaman dahulu, terdapat sebuah "habitat" di daerah pantai tersebut. ABAH Enggin di depan "Bumi Alit" Adat Sunda di Kampung Batukarut Desa Lebak Wangi Kec. Arjasari Kab. Bandung.*HARRY SURJANA/"PR" Orang Banjaran, khususnya yang bermukim di Kampung Lebakwangi dan Batukarut percaya bahwa sebagian nenek moyang orang Sunda mendiami kawasan tersebut. Salah satu alasan, dulu sebelum dinamakan Lebakwangi, konon daerah tersebut bernama Tanjungwangi. Kalau benar demikian, mungkin memang ada kaitannya dengan keadaan daerah tersebut ketika danau Bandung Purba masih ada. Dalam kaitannya dengan masa lalu, salah seorang sesepuh Kampung Lebakwangi, H. Enggin Wasyasasmita (81) mengatakan, terdapat sebuah benda peninggalan nenek moyang orang Sunda yang --mungkin -- hidup di zaman perunggu, yaitu Gamelan Renteng Purbakala "Embah Bandong". "Dari sini saja dapat kita ketahui bagaimana sebenarnya kualitas hidup nenek moyang dahulu," ujar Enggin ketika ditemui "PR" di kediamannya, beberapa waktu lalu. "Embah Bandong" menjadi semacam saksi mati perjalanan hidup orang Sunda. Hingga kini, ensambel perkusi tersebut masih tersimpan di kediaman salah seorang petugas yang khusus merawatnya. Dalam waktu-waktu tertentu --misalnya bertepatan dengan Maulud Nabi Muhammad saw.-- "Embah Gandong" ditabuh. Enggin menjelaskan, salah satu bukti lain sebagai penegas keberadaan nenek moyang orang Sunda dahulu adalah bumi alit, sebuah rumah beratap julang ngapak. Rumah tersebut terletak di sisi jalan raya, di areal tanah seluas kira-kira 5.000 m2. Rumah mungil itu "hanya" berukuran 42 m2. Kendati demikian, lingkungan di sekitar rumah mungil berdinding bilik tersebut sangatlah asri. Puluhan jenis pohon "langka" yang berusia ratusan tahun masih tampak kokoh berdiri. Pada hari-hari biasa, rumah dan areal tersebut bisa dikatakan sepi, meski khalayak umum dapat berkunjung. Suasana akan menjadi ramai ketika bulan Rabiul Aawal tiba, terutama pada tanggal 12. Sebuah ritual dilangsungkan pada waktu itu. Biasanya, setiap orang yang datang selalu membawa rantang yang berisi penganan khas Sunda, seperti rengginang, opak, wajit, katimus, lemper, dll. Ribuan pengunjung yang memadati areal, pada saat itu, biasanya langsung duduk bersila dengan beralaskan tikar atau karpet. Lalu, sebuah "ritual" ngarumat digelar. Rupanya, rumah mungil tadi menyimpan sejumlah benda pusaka yang dianggap sebagai peninggalan nenek moyang, seperti kujang, keris, tombak, pisau kecil, dan gobang (golok panjang yang menyerupai samurai). Kelima benda pusaka tersebut selalu dibungkus menggunakan kain putih setebal lima lapis. Di bagian terluar, ke-5 benda pusaka tersebut disatukan menggunakan kain kafan, diberi kapas, serta bunga rampai layaknya membungkus jenazah manusia. Benda pusaka itu disimpan dengan posisi "ditidurkan" di atas kasur beralaskan bantal kecil. Menurut Enggin, benda-benda pusaka tersebut merupakan peninggalan Embah Manggungdikusumah, nenek moyang sekaligus salah seorang penyebar agama Islam di daerah tersebut. Sepeninggalnya, sebelum sampai kepada kepada generasi sekarang, Embah Manggung menitipkan ke-5 benda tersebut kepada para pengawalnya, yakni Embah Lurah Sutadikusumah, Embah Wira Sutadikusumah, Embah Patrakusumah, dan Embah Aji Kalangsumitra. Selain benda-benda tersebut, sebuah kamar di bumi alit dijadikan sebagai tempat penyimpanan sebuah pusaka lainnya, yaitu sumbul (sejenis gentong yang dibungkus dengan kain kafan serta digantungkan pada sebuah palang). "Ritual" 12 Rabiul Awal itu dibagi menjadi dua bagian. Pertama, prosesi memandikan benda-benda pusaka. Kedua, ceramah keagamaan dan diikuti dengan menabuh gamelan renteng, memotong tumpeng, dan botram (makan bersama) di sekitar bumi alit. Pada bagian pertama, sebagai "panartib", Enggin bertugas membuka lembaran-lembaran kain pembungkus benda-benda pusaka dan kemudian menggantinya dengan yang baru. Kata dia, prosesi membersihkan benda-benda pusaka harus melewati sejumlah "prosedur khusus". Tak boleh sembarang orang yang melakukan hal itu. ** MESKIPUN demikian, kata Enggin, banyak orang dari berbagai daerah biasanya berkunjung ke Lebakwangi pada bulan-bulan lainnya. Tentu saja, orang-orang itu memiliki "tujuan lain". Nah, biasanya Enggin lah yang bertugas mengantar orang-orang tersebut. "Oh iya, selain bumi alit, terdapat juga sejumlah makam leluhur yang biasa dikunjungi orang, yaitu makam Embah Lurah Sutadikusumah, makam Embah Wira Sitadikusumah, makam Embah Patrakusumah, makam Embah Aji Kalangsumitra, dan makam Embah Dalem Andaya Sakti. Akan tetapi, makam yang paling banyak dikunjungi peziarah adalah makam Embah Dalem Andaya Sakti," ungkapnya. Menurutnya, tak hanya penduduk setempat yang sering menemuinya. Banyak penduduk dari daerah lain yang juga tiba-tiba mengunjunginya untuk memperoleh nasihat. "Ada yang dari Banten, Tasikmalaya, Banjar, dan sebagainya. Hampir seluruh orang yang datang kepada saya itu mengaku mendapat ilham. Akan tetapi, mohon diingat, pada hakikatnya mereka bukan datang kepada saya, melainkan kepada leluhur mereka di sini," ungkapnya. Dalam hal ini, imbuh Enggin, dirinya hanya menjadi perantara "pertemuan" mereka dengan para leluhur. Biasanya, mereka yang datang itu langsung dibawa ke rumah adat dan selanjutnya berziarah ke lima makam leluhur di tempat itu. Enggin mengaku, semula, tugas tersebut diembankan kepada ayahnya, Abah Iye. Kendati demikian, sejak 1923, Enggin muda sudah membantu sang ayah. Barulah, sepeninggal Abah Iye pada tahun 1976, ia ditugaskan melanjutkan tugas-tugas ayahnya. Enggin menegaskan bahwa rumah adat dan makam-makam itu hanya bisa dikunjungi pada hari-hari tertentu."Sejak dulu, rumah adat hanya bisa dijadikan tempat 'menyepi' yakni pada malam Senin dan Kamis. Selama Ramadan, rumah adat tak boleh dimasuki. Sedangkan kompleks makam hanya boleh diziarahi pada Senin dan Kamis. Saya sendiri tak tahu mengapa demikian. Yang jelas, itu terjadi sejak nenek moyang dulu," ungkapnya.(Hazmirullah/"PR")*** ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide! http://us.click.yahoo.com/HO7EnA/3MnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

