> >
> >
> >  Dari milis tetangga,
> >
> >  Mungkin bermanfaat..
> >
> >
> >
> >  -----
> >
> >
> >  From : Istriyanto
> >  Sent: Tuesday, April 26, 2005 4:29 PM
> >  Subject: SHARING PENGALAMAN/KISAH NYATA
> >
> >
> >  Ini kisah  nyata  yang saya  alami, sebagai  informasi / pelajaran
bagi
> >  Rekan-rekan jika suatu saat ada yang menghadapi cobaan seperti yang
saya
> >  alami.
> >
> >  Saya salah satu karyawan Kantor Pusat di Perusahaan kita, saya menikah
> > pada
> >  pertengahan tahun 2001, saya mempunyai Istri  "I"  yang
dulunya
> > juga adalah
> >  karyawan di Perusahaan kita (Cab. Fatmawati), dan karena untuk mematuhi
> >  peraturan di perusahaan (tidak boleh menikah antar sesama Karyawan),
> > Istri
> >  saya mengundurkan diri dari Perusahaan.
> >
> >  Sejak Menikah (th.2001), Istri saya telah mengalami dua kali keguguran,
> > yang
> >  pertama +/- pada kehamilan berumur 2,5 bulan, dan yang kedua sempat di
> >  Operasi "Kuretase" karena usia kehamilannya telah berumur 3,5
> > bulan.
> >
> >  Penyebab keguguran, menurut dokter "K" di RS "A"
> > Panglima Polim/Jakarta ,
> >  karena Istri saya "kecapaian"  (Istri saya bekerja di
> > Perusahaan lain
> >  setelah pengunduran dirinya) dan kandungannya "agak lemah".
> > Dokter memeriksa
> >  hasil Lab. komplit hasilnya " negatif ", tidak terdapat
> > penyakit yang
> >  menyebabkan Istri saya keguguran. Jadi secara medis memang penyebabnya
> > hanya
> >  "Kecapaian" dan "Kandungannya lemah". Jadi jika
suatu
> > saat Istri saya hamil
> >  lagi, dokter menyarankan harus extra hati-hati dalam merawatnya.
> >
> >  Bulan Sept 2004, Pada saat Istri saya periksa (karena sudah terlambat
> > bulan)
> >  ke dokter kandungan dr. "K" di RS "A", istri saya
> > kembali dinyatakan Hamil,
> >  keluarga kami begitu bahagia mendengar berita ini. Lalu saya dan Istri
> >  dengan sangat hati-hati merawat kehamilan ini. Segala saran-saran
dokter
> >  kami laksanakan dengan baik, minum penguat janin, vitamin-vitamin, susu
> > ibu
> >  hamil, menjaga kesehatan makanan, makan makanan bergizi, menjaga
> >  pantangan-pantangan ketika Hamil, dan bahkan untuk menjaga kehamilannya
> >  (pada saat itu berumur 5 bulan), Istri saya rela kembali keluar dari
> > tempat
> >  kerjanya (saat itu masih bekerja pada Bank "B") dengan tujuan
> > ingin
> >  benar-benar konsentrasi dalam merawat/menyusui anak.
> >
> >  Pada pertengahan bulan Juni 2005, Istri saya melahirkan dengan baik
> > (walau
> >  dengan operasi caesar), bayi kami sehat tidak kurang suatu apapun,
> > beratnya
> >  3.150 Kg dengan panjang 49 Cm. Sekali lagi Kami sangat bahagia atas
> >  peristiwa ini.  Kembali Segala saran-saran dokter (Dokter Anak: Prof.
> > "R" di
> >  RS "A") kami laksanakan dengan baik, minum vitamin-vitamin,
> > susu ibu
> >  menyusui, menjaga kesehatan makanan/perlengkapan makan, makan makanan
> >  bergizi, menjaga pantangan-pantangan dalam merawat bayi. dan rutin
> > melakukan
> >  Imunisasi.
> >
> >  Disinilah mulai timbul bencana pada keluarga kami, pada saat anak/bayi
> > kami
> >  berusia +/- 7 bulan, untuk kesekian kalinya kami datang untuk
imunisasi,
> >  pada saat itu kami datang ke dr Anak kami Prof. "R" di RS
> > "A" , namun pada
> >  saat itu beliau tidak masuk, diganti oleh dokter pengganti/wanita yang
> > masih
> >  muda/mungkin dokter baru (namun saya lupa namanya). Begitu melihat
jadwal
> >  pada buku RS anak saya, dokter tersebut langsung siap melakukan
imunisasi
> >  terhadap anak saya, "hari ini imunisasi HIB ya ?!" , saya
&
> > istri tahu bahwa
> >  imunisasi HIB tersebut salah satunya untuk mencegah radang Otak,
makanya
> >  Istri saya sempat bertanya, "dok, seandainya imunisasi ini tidak
> > dilakukan
> >  bagaimana ya ?!", lalu dokter pengganti tersebut menjawab dengan
> > nada agak
> >  ketus, "apakah ibu mau, anak ibu jadi Idiot?! (sambil memperagakan
> > tampang
> >  muka orang yang idiot dengan lidah dijulurkan keluar)" . Karena
> > begitu
> >  sayangnya kami dengan anak kami, sudah ba rang tentu kami tidak mau
anak
> >  kami idiot, lagi pula saya saat itu berfikir demi kesehatan anak kami
> >  tentulah kami menuruti apa kata dokter yang lebih tahu/berpengalaman
> > dengan
> >  imunisasi tersebut. Lalu tanpa memeriksa dengan seksama kondisi anak
kami
> >  dalam keadaan fit/tidak, dan perlu tidaknya imunisasi tersebut kembali
> >  diberikan kepada anak saya (karena sebelumnya pada saat berumur +/-  5
> > bulan
> >  anak kami telah pernah diberikan imunisasi HIB I) dokter pengganti
> > tersebut
> >  langsung memberikan suntikan imunisasi HIB II kepada anak saya.
> >
> >  Dua hari setelah pemberian imunisasi HIB yang kedua tersebut anak kami
> >  mengalami panas, lalu turun, panas lagi lalu turun ( 2 atau 3 hari
sekali
> >  pasti mengalami panas ) dan anehnya panasnya hanya dikepala dan di
> >  pundak/leher serta di ketiak saja, badan/tangan dan kakinya tidak. Hal
> > ini
> >  berlangsung +/- selama dua minggu, jika sedang panas, panasnya pernah
> > sampai
> >  40,6 derajat C.
> >
> >  Sewaktu di kantor saya sempat bertanya kepada rekan-rekan yang
> > masih/pernah
> >  punya anak kecil mengenai panas anak saya, banyak diantara mereka yang
> >  bilang panas setinggi itu berbahaya, malah sebagian teman bilang
anaknya
> >  panas "cuma" 38 derajat C saja sudah Step/kejang-kejang,
namun
> > sampai hari
> >  itu anak saya belum pernah Step/kejang-kejang, padahal panasnya
beberapa
> >  kali sampai 40 derajat C, dan biasanya akan turun dengan sendirinya,
> >  paling-paling hanya rewel, susah tidur. Saya mulai Panik dan khawatir,
> > takut
> >  jika anak saya tiba-tiba kejang/step di rumah.
> >
> >  Dan Saya mulai ke dokter, kebetulan di dekat rumah ada dokter Umum di
RS.
> >  "D" ( Berhubung waktu itu hari minggu tidak ada dokter
> > Spesialis anak yang
> >  Buka ). Dokter tersebut memberikan beberapa macam obat, ada yang syrup,
> > ada
> >  yang serbuk. Setelah memakan obat-obatan tersebut selama 3 hari, anak
> > kami
> >  masih belum membaik ( panasnya masih naik turun ), lalu kami ke RS
> > "A"
> >  tempat dokter anak saya Prof. "R" dimana selain diberi
> > obat-obatn juga
> >  disarankan untuk memeriksakan darah anak saya ke Lab. (waktu itu saya
> >  langsung periksakan anak saya ke Lab. "P" yang sudah
> > berpengalaman), Karena
> >  setelah kami ketahui hasilnya "negatif/tidak ada penyakit"
dan
> > obat dari
> >  Prof. "R" di RS "A" juga belum efektif menyembuhkan
> > panas anak saya,
> >  akhirnya saya membawa anak saya ke RS "B" Cikini ( karena
saya
> > tahu di RS
> >  "B" ada ruang perawatan anak, jika memang anak saya perlu di
> > rawat).
> >
> >  Di sinilah ketabahan/kesabaran kami di uji. Saya datang pertama kali ke
> > RS
> >  "B" cikini, Kamis 17 Maret 2005 pagi +/- jam 7.00 Wib, dan
> > setelah bertanya
> >  kesana-kemari saya langsung membawa anak saya ke UGD (Unit Gawat
Darurat)
> >  karena masih pagi, dan disana ada dokter jaga, setelah dilakukan
beberapa
> >  tindakan lalu +/- jam 08.30 saya bawa anak saya ke dokter Spesialis
anak
> > dr.
> >  "N", baru kemudian diminta untuk di bawa ke ruang perawatan
> > untuk di rawat.
> >
> >  Pintarnya RS, setiap mereka akan melakukan tindakan medis terhadap anak
> >  kami, kami/orang tua harus menyetujui terlebih dahulu tindakan
tersebut,
> >  dengan catatan apabila orang tua pasien tidak menyetujui suatu tindakan
> >  medis, kami juga disodorkan surat penolakan tindakan medis, yang
> > didalamnya
> >  tertera apabila terjadi apa-apa terhadap anak saya, maka pihak RS tidak
> >  bertanggung jawab karena tindakan medis yang akan mereka lakukan tidak
> >  disetujui. Itu artinya kami/pasien bagai memakan buah simalakama, dan
> >  tentunya harus mengikuti semua langkah-langkah medis yang dilakukan
oleh
> >  pihak RS, karena memang tidak ada pilihan lain.
> >
> >  Anak saya langsung di infus dan diambil darahnya untuk pengecekan
(karena
> >  hasil cek darah yang saya bawa dari Lab "P" sebelumnya
menurut
> > pihak RS bisa
> >  berubah) walaupun akhirnya hasilnya juga masih "negatif"
tidak
> > diketahui
> >  penyebab/penyakit panas anak saya. Kemudian atas anjuran dokter anak
saya
> >  harus puasa dari jam 15.00 (tiga sore) sampai dengan 21.00 (sembilan
> > malam)
> >  kerena akan diambil darahnya lagi untuk pemeriksaan. Selama waktu
> > tersebut
> >  kami sedih melihat anak saya, walaupun ada infus di kakinya, namun anak
> > saya
> >  tampak ingin makan/minum, namun kami tidak berikan walau mulutnya
seperti
> >  orang yang kehausan. Kami sangat mengkhawatirkan fisik anak saya.
> >
> >  Benar saja apa yang Saya dan Istri saya khawatirkan terjadi, esokan
> >  hari/Jum'at subuh begitu panas anak saya kembali tinggi sampai lebih
dari
> > 40
> >  derajat C, anak saya langsung kejang/Step (padahal sewaktu di rumah
belum
> >  pernah sekalipun anak saya kejang/Step seperti saat itu), suster-suster
> > RS
> >  mulai memberikan anak saya Oksigen melalui selang ke hidung, dan karena
> >  panas/Kejangnya lebih dari 1/2 jam, maka anak saya pagi itu juga
langsung
> > di
> >  bawa ke ruang ICU/PICU (Pedriatic Intensive Care Unit). Anak saya di
> >  diagnosa awal "kemungkinan" terkena Radang Otak yang
disebabkan
> > oleh
> >  Virus/bakteri, sehingga mengganggu fungsi pengaturan suhu tubuh. Dan
> > dokter
> >  bilang kemungkinan sembuhnya hampir tidak ada,  kalaupun sembuh akan
ada
> >  efek sisa, misalnya jadi Idiot, Lumpuh, dsb. (Pihak RS langsung
> > Pesimistis
> >  untuk penyembuhan anak saya).
> >
> >  Di ICU anak saya di rawat oleh Tim Dokter, dengan ketua Timnya yaitu
dr.
> > "Y"
> >  (dokter spesialis anak senior RS "B"), dengan anggota
beberapa
> > dokter
> >  Spesialis THT, Syaraf, Urologi, Bedah, dsb. Ditambah dengan
> >  dr.Konsulen/semacam penasihat, yaitu Prof. "A" dari RS
> > "C", selain dokter
> >  tim tersebut dibantu oleh beberapa orang suster yang dalam sehari
> > bekerjanya
> >  dibagi menjadi 3 shift, suster-suster inilah yang memonitor
perkembangan
> >  kesehatan anak kami tiap saat. Suster juga sama seperti karyawan di
> > kantor
> >  kita, ada yang teliti, ada yang rajin, ada yang baru/belum
berpengalaman,
> >  ada yang text book, ada yang kurang berani bertindak, dsb.
> >
> >  Sabtu subuh (hari ke dua perawatan) anak saya kembali panas tinggi dan
> >  kembali kejang, kali ini suster jaga pada saat itu terlihat kurang
> >  tanggap/cekatan dalam memberi tindakan terhadap anak saya, malahan pada
> > saat
> >  kejang, karena tenaga medis tidak begitu "care", Istri saya
> > sendiri yang
> >  harus mengganjal mulut anak saya dengan alat pengganjal agar lidahnya
> > tidak
> >  tergigit, dan karena terlalu lama tidak ditangani dengan baik akibatnya
> > anak
> >  saya semakin lemah, terlihat pada mesin yang memonitor Oksigen dan
> > Jantung
> >  anak saya saturasinya (istilah mesin tsb) terus menurun. Pada saat tim
> >  Dokter datang kondisi anak saya sudah memburuk, bahkan pada layar
monitor
> >  mesin saturasi sempat terlihat "Flat", artinya
> > paru-paru/oksigen dan jantung
> >  anak saya telah berhenti bergerak. Saya dan Istri langsung Shock dan
> > lemas
> >  tangis pun tak terbendung. Beberapa tenaga medis terus berusaha memompa
> >  secara manual nafas anak saya, lalu mereka segera memasang mesin
> >  Ventilator/alat bant u pernafasan (mesin yang sama dengan yang
digunakan
> >  Almh. Sukma Ayu) dan menyalakannya. Seperti biasa pihak RS menyodorkan
> > surat
> >  persetujuan tindakan pemasangan mesin tsb.  Pada saat itu saya &
> > istri
> >  sangat Shock, sehingga konsentrasi kami hanya kepada anak kami
tersebut,
> >  oleh karena saya tidak begitu memperdulikan surat persetujuan melakukan
> >  tindakan yang disodorkan RS, akibatnya pihak RS langsung mencopot
kembali
> >  selang-selang yang terpasang dan mematikan mesin/listrik Ventilator
tsb.
> >  Kami kesal dan marah (walau hanya di dalam hati), lalu segera meraih
> > surat
> >  persetujuan tindakan tsb dan menandatanganinya, barulah alat tersebut
> >  kembali dipasang/dinyalakan, dan selamatlah nyawa anak saya ketika itu
> >  (padahal menurut hemat saya hitungannya hanya detik untuk mengambil
> >  keputusan tersebut/terlambat sedikit mungkin akan berbeda ceritanya).
> >
> >  Kurang lebih dua minggu alat Ventilator itu terpasang, dan dua minggu
itu
> >  pula kami mengalami pengalaman yang sangat pahit dalam kehidupan kami,
> > kami
> >  menyaksikan betapa tersiksanya anak yang kami sayangi yang terus
menerus
> >  dilakukan tindakan medis, diantaranya :
> >  1. Diambil darahnya yang hampir setiap hari (dengan cara disedot dengan
> > alat
> >  suntik), walaupun hasil Lab.-nya selalu negatif dengan jumlah
pengambilan
> >  dalam sehari bisa 3X, dan dalam sekali ambil antara 5 - 10 CC darah,
> > padahal
> >  kondisi anak saya ketika itu sangat lemah/terlihat kuning seperti
kurang
> >  darah. Diambil sampel Urine, sampel cairan dari perut, Bahkan sampai
> > diambil
> >  contoh cairan otaknya (melalui penyedotan pada ruas tulang belakang)
> >  walaupun hasilnya juga negatif.
> >  2. Berganti-ganti tempat untuk memasukan jarum Infus, dari vena-vena di
> >  kepala, tangan, kaki, selangkangan, malah karena Tim medis sudah
> > kesulitan
> >  memasukan jarum infus, tim medis melakukan tindakan Vena Sectio
(operasi
> >  kecil/merobek kulit/daging terluar) untuk dicari pembuluh vena yang
> > berada
> >  agak ke dalam agar jarum infus dapat memasukan cairan infus ke tubuh
anak
> >  saya. Kedua pergelangan tangan dan kaki anak saya telah di-Vena Sectio.
> >  3. Bius Total, dengan alasan takut mesin Ventilator tidak berfungsi
> > dengan
> >  baik apabila anak saya dalam keadaan sadar.
> >  4. Diberi obat-obatan/anti biotik berganti-ganti sesuai
> > indikasi/kemungkinan
> >  (Baru kemungkinan/seperti coba-coba) penyakitnya yang kadarnya
tergolong
> >  keras, yang sudah pasti banyak efek sampingnya.
> >  5. Karena sudah tidak ada tempat untuk Infus dan pengambilan darah
(semua
> >  titik venanya telah habis), beberapa kali tindakan infus/pengambilan
> > darah
> >  tidak berhasil dilakukan, lalu dicoba lagi dan di coba lagi sehingga
> >  menimbulkan bekas luka lebam/biru/bekas-bekas jarum suntik yang sangat
> >  banyak.
> >  6. Dilakukan foto Thorax (Rongent) beberapa kali,  Padahal sekali saja
> >  dilakukan di yakini dapat membunuh banyak sel tubuh )
> >  7. Timbul efek samping, Paru-paru anak saya meradang/infeksi sehingga
di
> >  penuhi banyak cairan, dan kepala belakang dan samping kiri
> >  memar/luka/lecet/bengkak. Karena terlalu lama dalam posisi tidur/di
bius
> >  (hal ini seharusnya tidak perlu terjadi kalau tim medis sering merubah
> >  posisi tidur anak saya/setelah kami Complain baru hal ini dilakukan).
> >  8. Masalah Biaya. Sering kali pihak RS (dokter/suster), menanyakan
> > masalah
> >  biaya, walaupun berkali-kali saya katakan ada surat jaminan pembayaran
> > dari
> >  Kantor. ( Coba bayangkan seandainya memang kami tidak punya biaya).
> >  9. Diagnosa penyakit yang tidak didukung bukti yang pasti, tim Medis
> > hanya
> >  selalu mengatakan "Kemungkinan". Dari +/- satu bulan di
rawat,
> > anak saya
> >  sudah beberapa kali dikatakan kemungkinan penyakitnya bersumber dari
> > Radang
> >  Otak karena penyakit/Virus/bakteri: Herpes, berubah Toxoplasma, berubah
> >  Maningitis, berubah Ensevalitis, sampai kesimpulan terakhir/dari sampel
> >  darah terakhir anak saya masih belum mengetahui pasti penyebab
> > penyakitnya
> >  (bukti lab. adanya virus/bakteri tersebut tidak pernah ada).
> >
> >  Pada masa itu juga kami sempat beberapa kali bersitegang dengan
beberapa
> > Tim
> >  Medis anak saya, namun kami selalu kalah (mengalah) karena posisi kami
> >  sangat lemah, Ketua tim dokternya "dr.Y" sempat berujar bahwa
> > mereka
> >  dokter-dokter ahli, " kalau di RS "C" bapak boleh bilang
> > "begitu", karena
> >  banyak dokter muda yang sedang belajar disana" (maksudnya
menanggapi
> > guman
> >  saya dengan istri saya, "kok anak kita seperti kelinci percobaan
> > ya!? dan
> >  kata-kata tersebut didengar Suster, yang lalu melaporkannya ke ketua
Tim
> >  dokternya) , bahkan dokter itu juga sempat berkata " kalau bapak
> > tidak puas,
> >  silahkan angkat anak bapak sekarang !!" . Padahal saat itu, hal
> > tersebut
> >  tidak mungkin kami lakukan karena seluruh tubuh anak saya terpasang
mesin
> >  (Ada mesin ventilator, ada mesin saturasi Oksigen/Jantung, ada infus,
ada
> >  selang Sonde/makanan, dsb)
> >
> >  Pernah seorang anggota Tim dokter yang didatangkan dari RS
"C",
> > yaitu dr.
> >  "I" ahli syaraf, setelah memeriksa anak saya mengatakan,
> > "Penyakitnya malah
> >  dari RS ini semua, ya !!",  Setelah masa perawatan 2 minggu
tersebut
> > timbul
> >  berbagai komplikasi; mata anak saya buta/tidak bisa melihat (menurutnya
> >  mungkin bisa sembuh karena anak saya masih bayi), Infeksi paru, memar
di
> >  kepala, badan kaku/keras, padahal pertama kali masuk RS anak saya
> > "hanya"
> >  sakit Panas. Kemudian dr "I" juga bilang " tadi saya
coba
> > lepas alat
> >  Ventilatornya agak lama, anak bapak bagus kok, dia sudah bisa bernafas
> >  sendiri ". Saya bersyukur berarti ada kemajuan pikir saya ketika
> > itu.
> >
> >  Awal minggu ke tiga beberapa orang tim medis (ada beberapa dokter dan
> >  beberapa suster), mencoba melepas alat bantu nafas/Ventilator (mungkin
> >  setelah diberi masukan oleh dr. "I" dari RS "C"),
di
> > coba 1 jam, 2 jam, 3
> >  jam dan seterusnya .... rupanya anak saya sudah bisa kembali bernafas
> >  sendiri/normal. Namun karena Sumber penyakitnya belum diketahui maka
Tim
> >  medis beberapa kali melakukan penggantian Obat/anti biotik, diantaranya
> >  Acyclovir, Delantin, Tegatrol, TieNam, Meronem (dua jenis yang tertulis
> >  dibelakang katanya merupakan anti Biotik yang paling Ampuh/Mahal/Impor
> > dari
> >  Amerika).
> >
> >  Minggu ketiga dan selanjutnya Panas kepala anak saya relatif stabil
> > (antara
> >  36 - 38 derajat C), dan kondisinya relatif membaik "hanya"
> > tinggal matanya
> >  yang Buta dan badannya yang kaku (sendi-sendinya tidak bisa ditekuk),
> > namun
> >  pengambilan darah masih dilakukan secara berkala, dan hampir setiap
hari
> >  dilakukan Terapi Fisioteraphy (Penyinaran dan pemijatan). Sehingga
akhir
> >  minggu ke tiga semua Infus telah dicopot, oksigen dicopot, hanya
tinggal
> >  selang Sonde (Selang makanan/di mulut) yang masih terpasang.
> >
> >  Saya dan Istri (serta keluarga besar kami), terus berdoa setiap hari
> > untuk
> >  kesehatan anak kami satu-satunya, sampai pada pertengahan minggu ke
> > empat,
> >  dr. "I" (Specialis syaraf dari RS "C") bilang anak
> > kami boleh di bawa
> >  pulang, namun minimal harus sehari masuk ke ruang perawatan biasa
dahulu
> >  (sesuai prosedur RS "B"). Dan menurut  dokter "I"
> > juga, anak kami hanya
> >  cukup rawat jalan ke RS "C", untuk berobat ke dr.
"I"
> > dan dr. "L" (specialis
> >  tumbuh kembang/penyembuhan tubuh anak saya yang masih kaku-kaku).
Setelah
> >  sehari berada di ruang perawatan biasa, dan tidak ada masalah kami
> > membawa
> >  anak kami pulang dengan membawa dua macam obat (Anti kejang dan anti
> > Virus),
> >  dan sebelum pulang, lagi-lagi anak kami diambil kembali darahnya oleh
RS
> >  untuk pemeriksaan penyebab penyakit anak kami, setelah itu barulah kami
> >  diperbolehkan pulang.
> >
> >  Namun tidak sampai 2 hari anak kami di Rumah, kami/keluarga lupa akan
> > luka
> >  dibelakang kepalanya (akibat perawatan yang lalai sebelumnya) yang
masih
> >  belum sembuh total, lukanya terlihat memar/merah/agak bengkak/dan
mungkin
> >  infeksi, yang mungkin juga membuat anak kami panas lagi/karena
> > infeksinya,
> >  Panasnya kembali naik sampai 40 derajat C lebih, bahkan ketika akan
kami
> >  beri obat (yang kami bawa dari RS), anak kami muntah hingga lemas, lalu
> >  tanpa banyak pikir lagi walaupun pada saat itu jam 02 pagi, kami
kembali
> >  membawa anak kami ke RS "B" Cikini dan kembali kami mengalami
> > kekesalan,
> >  anak kami diperlakukan layaknya seperti pasien yang baru masuk RS. Anak
> > kami
> >  kembali masuk ICU, kembali harus Infus, puasa, diambil darahnya lagi
> >  (meskipun titik venanya sudah habis/tidak ada tempat lagi untuk
> >  infus/periksa darah, dan saya juga telah sampaikan mungkin panasnya
> > akibat
> >  luka dibelakang kepalanya yang belum sembuh/infeksi), padahal saya
sudah
> >  protes terhadap dr. jaga pada saat itu bahwa anak saya sebelumnya sudah
> >  dirawat hampir sebulan di RS tersebut, dan hasil lab. terakhirnya juga
> > baru
> >  kemarin saya ambil dengan hasil "negatif",  juga saya
kemukakan
> > mengenai
> >  luka dibelakang kepalanya yang harus diprioritaskan pengobatannya.
Namun
> >  karena dr. terus mengemukakan argumennya, akhirnya kami mengalah dan
> >  menyerahkan sepenuhnya apapun yang akan dilakukan oleh dr. Dan kembali
> > anak
> >  saya dipakaikan selang Oksigen ke hidungnya , lalu dengan alasan
> > "saturasi"
> >  nafasnya terus menurun, Tim medis berencana untuk memasang kembali
mesin
> >  Ventilator pada anak saya, dengan sebelumnya meminta persetujuan saya
> > lagi
> >  untuk diambil darahnya sebelum pemasangan mesin tersebut (padahal
ketika
> > itu
> >  kondisinya terlihat pucat/kuning seperti telah kehabisan darah).
Kembali
> >  dengan berat hati dan berharap Tim Medis melakukan tindakan yang
> > "benar"
> >  untuk anak saya, saya kembali menyetujuinya. Namun belum sempat mesin
itu
> >  dipasang, belum sempat hasil lab I dan ke II (pengambilan darah pada
pada
> >  hari itu) ada hasilnya, akhirnya anak saya dipanggil oleh yang Maha
Kuasa
> >  ...... anak saya mengalami Gagal Nafas dan dinyatakan Meninggal oleh
> > pihak
> >  RS, walau saat itu saya pegang denyut Nadi di leher/bawah dagunya masih
> > ada
> >  (walau lemah), sewaktu kami minta untuk terus memompa alat bantu nafas
> >  manualnya, Dokter/suster yang ada pada saat itu sudah lepas tangan dan
> > tidak
> >  melakukan tindakan apapun juga. Akhirnya dengan Ikhlas, didepan mata
> > kepala
> >  saya dan istri saya, anak kami melepaskan nyawanya tanpa kami bisa
> > berbuat
> >  apapun juga ( Selasa 12 April 2005 Jam 23.25 wib). Akhirnya Anak kami
> >  meninggal dengan sebab bukan karena penyakitnya (Panas),  menurut kami
> >  "kemungkinan" karena gagal nafas/Infeksi paru atau malah
> > "mungkin" karena
> >  terlalu lemah  kehabisan darah.
> >
> >  Innalillahi Wa inna illaihi roji'un selamat jalan Permata hatiku,
> > ........
> >  doa kami 'kan selalu menyertaimu...Amin
> >
> >  Dan tidak lupa saya & keluarga mengucapkan terimakasih yang
> > sebesar-besarnya
> >  kepada rekan-rekan yang telah memberikan suport baik moril, materil
> > maupun
> >  spirituil kepada saya dan keluarga, semoga segala kebaikan rekan-rekan
> > akan
> >  dibalas dengan pahala yang berlipat-lipat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
> > Amin.
> >
> >  Salam,
> >  Istriyanto & Keluarga
> >
> >
> >
> >  Note :
> >
> >  Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Ilmu Kedokteran dan tenaga
medis,
> >  sesuai dengan pengalaman berharga dan mahal yang telah saya alami, maka
> > kami
> >  mencoba mengambil kesimpulan (Setelah kami juga mendengar dari sesama
> > Pasien
> >  RS, rekan/sahabat, tetangga, saudara yang sempat bezuk dan mengatakan
> > pada
> >  saya, selama dalam perawatan sampai saat Meninggalnya anak saya) sbb:
> >
> >  1. Banyak kasus penyakit bayi/balita yang timbul setelah mereka
disuntik
> >  imunisasi.
> >      - Pasien lain di RS yang sama mengatakan pada saya, anak saudaranya
> >  sampai dengan usia 2 tahun belum pernah suntik Imunisasi Hepatitis
namun,
> >  setelah ada dokter (spesialis anak) yang tahu, lalu disarankan di
> > imunisasi
> >  Hepatitis, kemudian tidak lama setelah itu akhirnya anak saudaranya
> > positif
> >  terkena Hepatitis akut, dan harus bolak-balik berobat ke dokter.
> >      - Tetangga saya, sehabis Imunisasi campak, dua hari kemudian malah
> >  terkena campak.
> >      - Tetangga kami yang lain, anak pertamanya rutin diimunisasi, namun
> >  fhisiknya malah lemah sering sakit-sakitan, sedangkan anak keduanya
sama
> >  sekali tidak pernah imunisasi namun malah sehat, hampir tidak pernah
> > sakit
> >  (kalaupun sakit cepat sembuh/ringan)
> >      - Teman sekolah saya anaknya tidak pernah Imunisasi malah sehat,
umur
> > 10
> >  bulan sudah lincah berjalan, dan juga boleh dibilang tidak pernah sakit
> >  (kalaupun sakit hanya ringan saja).
> >      - dan banyak lagi kasus-kasus serupa yang tidak mungkin saya tulis
> > satu
> >  persatu.
> >
> >  2. Menurut saya, Jika bisa Hindari Imunisasi, kalaupun perlu/terpaksa
> >  pilihlah imunisasi yang pokok saja (bukan imunisasi lanjutan/yang
> > aneh-aneh)
> >  alasannya :
> >      - Kita "Mendzolimi", anak kita sendiri yang memang sedang
> > masa
> >  pertumbuhan dan pertahanan tubuhnya masih lemah, malah kita suntikan
> >  penyakit (walaupun sudah dilemahkan) ke tubuhnya.
> >      - Kita tidak pernah tahu kondisi anak kita sedang benar-benar sehat
> > atau
> >  tidak, karena terutama anak yang masih di bawah 1 tahun biasanya belum
> > bisa
> >  bicara mengenai kondisi badannya, sedangkan imunisasi harus dilakukan
> > pada
> >  bayi/balita yang sehat (tidak sedang lemah fisiknya/sakit).
> >      - Sesudah kita memasukan penyakit ke tubuh anak kita, biasanya kita
> > juga
> >  harus mengeluarkan banyak biaya. (Jasa dokter/RS, harga imunisasi,
dsb),
> >      - Tidak ada jaminan (Dokter/RS/puskesmas) apabila setelah imunisasi
> > anak
> >  kita bebas dari penyakit yang telah dimasukan ketubuhnya. Contoh nyata
> > yang
> >  terjadi pada anak saya, padahal anak saya sudah 2 kali imunisasi HIB (
> >  ketika berusia +/- 5 dan 7 bulan ), padahal sebelumnya dokter bilang
> >  imunisasi HIB untuk menghindari penyakit Radang Otak, namun nyatanya
anak
> >  saya malah meninggal  akibat penyakit Radang Otak.
> >      - Menurut seorang rekan yang pernah membaca Literatur terbitan
> > Prancis,
> >  justru Imunisasi sudah tidak populer di Amerika Serikat, dan terus
> > berusaha
> >  dihilangkan dan tidak dipergunakan lagi, bahkan di Israel Imunisasi
telah
> > di
> >  STOP samasekali, padahal kita tahu negara-negara itu merupakan pelopor
> >  "industri", imunisasi.
> >      - Menurut pengalaman saya jumlah kadar/isi setiap pipet/tabung
> > imunisasi
> >  semua sama, jadi imunisasi tidak melihat berdasarkan berat
> > tubuh/perbedaan
> >  Ras/warna kulit, padahal kalau Obat/Imunisasi itu Impor, tentulah
> > kadarnya
> >  disesuaikan dengan berat/fisik orang Luar (Barat) yang jelas lebih
basar
> > dan
> >  kuat fisiknya dibanding orang Asia, namun kita malah sama-sama
> > menggunakan
> >  dengan takaran yang sama. (akibatnya overdosis).
> >
> >  3. Jika tidak "urgent" sekali, hindari rawat inap di RS,
karena
> > banyak
> >  prosedur/step-step pengobatan yang akhirnya akan melemahkan tubuh
> > pasiennya.
> >  (Contoh: keharusan berpuasa, pemasangan infus, pengambilan darah yang
> > terus
> >  menerus, foto Rontgen, operasi, kemoteraphy, dsb). Jikalau perlu coba
> > dulu
> >  dengan cara pengobatan alternatif/tradisional.
> >
> >  4. Jika perlu dengan tegas untuk menolak suatu tindakan medis yang akan
> >  dilakukan RS, jika kita yakini manfaatnya tidak benar-benar berpengaruh
> >  terhadap kesembuhan pasien.
> >
> >  5. Jika perlu lakukan 2nd opinion pada RS/dokter lain yang setara/lebih
> >  baik.
> >
> >  6. Banyak tanya, biarlah kita dibilang "bawel", tanyalah
setiap
> > tindakan
> >  medis yang akan dilakukan, mengapa akan di lakukan, akibat-akibatnya,
ada
> >  tidak cara-cara lain/alternatif lain yang lebih baik/tidak terlalu
> > menyakiti
> >  pasien.
> >
> >  7. Terus temani pasien (bisa bergantian dengan keluarga yang lain),
> > karena
> >  setiap saat bisa ada tindakan medis yang memerlukan persetujuan, dan
> > cermati
> >  semua pekerjaan perawatannya, jika ada yang habis/kurang jangan sungkan
> >  melaporkan ke tenaga medis yang ada segera.
> >
> >  8. Terus berdoa, karena segala sesuatunya telah ditetapkan oleh
> > "Yang Maha
> >  Kuasa", manusia hanya bisa ikhtiar dan berusaha.
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >  [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>



Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke