Kang Jamal, Pak Darwa teh guru biologi abdi keur di SMP. Lamun, nginget-nginget jaman keur sakola, di laboratorium abdi teh memang balatak fosil di tiap juru. Abdi harita can ngarasa naon fungsina. Padahal, ka laboratorium sakola abdi teh sok loba urang bule anu moto tulang jeng huntu nu garede pisan.
 
Abdi reueus pisan daerah abdi nu di sisilak anu jauh ti kota bisa diliput. Kang Jamal terang alamat sareng imel Kang Her Suganda. Abdi hoyong dialog sareng anjenna. Kang Her Suganda oge kapungkur nulis Kampung Kuta anu masih keneh di Tambaksari.
 
 
Salam
 
Yayat R Cipasang

mj <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0511/18/Sosok/2184217.htm


Darwa, Perintis Situs Desa Tambaksari


HER SUGANDA

Di dunia arkeologi nasional, arkeolog mana yang tidak mengenal situs
Tambaksari. Walau tak seterkenal Sangiran di Jawa Tengah dan Trinil di
Jawa Timur yang kesohor karena fosil manusia purba Pithecantropus, situs
Tambaksari telah ikut menyumbang kekayaan koleksi arkeologi nasional.
Kandungan kekayaannya berupa fosil yang melimpah telah mengundang minat
para peneliti.

Tambaksari adalah desa kecil di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kisah
tentang temuan fosil-fosil yang sudah tak terhitung jumlahnya di daerah
itu diawali secara kebetulan. Bukan oleh arkeolog atau peneliti lainnya,
tetapi justru ditemukan oleh sekelompok murid Sekolah Menengah Pertama
Negeri (SMPN) Tambaksari. Adalah Darwa Hardiya Ruhyana, guru Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA), yang mengawali temuan benda-benda yang kemudian
diketahui bernama fosil itu.

Darwa, ayah tiga anak yang mengawali kariernya sebagai guru sekolah dasar
(SD), pada awalnya hanya bertujuan menghindarkan kejenuhan anak didiknya
belajar di ruang kelas. Pada mulanya saya hanya menganjurkan mereka
mengumpulkan tumbuhan atau benda-benda yang dianggap aneh di sekitar
tempat tinggalnya, ia mengenang peristiwa sekitar seperempat abad lalu.

Tetapi siapa menduga, usaha tersebut di kemudian hari mampu mengangkat
nama sekolahnya menjadi satu-satunya SMP yang memiliki koleksi fosil
terbanyak? Selain fosil pertama yang ditemukan siswa bernama Yayat Suryati
berupa potongan gigi besar binatang purba yang hidup satu-dua juta tahun
lalu, sekolah tersebut menyimpan ratusan atau mungkin ribuan fosil
vertebrata, mamalia, dan moluska.

Ada fosil Proximal tibia (pangkal tulang kering gajah purba), Astragalus
(tulang tumir I), Molat (M) atau geraham, Distal humerus (ujung tulang
lengan), Stegodon Sp (gajah purba), dan banyak lagi. Bahkan saking
banyaknya, fosil-fosil tersebut pernah berserakan di lantai, meja
laboratorium, dan sebagian lagi disimpan dalam karung.

Beruntung, benda-benda yang semula dianggap aneh itu akhirnya memperoleh
tempat penyimpanan ketika Museum Geologi Bandung pada tahun 1996
menyumbang lemari kaca berukuran 2 x 0,5 meter. Seusai penelitian, sebuah
lemari kaca lainnya diterima dari Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTN)
Yogyakarta, Balai Arkeologi Bandung, Pusat Pengembangan Geologi, yang saat
itu bekerja sama dengan Universitas Tennessee dan Universitas Alabama,
Amerika Serikat.

Menumbuhkan kesadaran

Apa yang dilakukan Darwa terhadap anak didiknya itu bukan hanya merintis
penelitian arkeologi secara ilmiah yang menjadi kekayaan tersembunyi perut
bumi Desa Tambaksari. Sebagai seorang pendidik, ia telah menumbuhkan
kesadaran semangat meneliti di lingkungan anak didiknya, karena setiap
kali mereka menemukan fosil, ia memberi nilai tambah untuk mata pelajaran
IPA, sesuai dengan bobot ilmiah fosil tersebut. Sehingga menurut para wali
kelas, IPA yang selama ini sering kali merupakan pelajaran yang banyak
dihindari para siswa, saat itu menjadi mata pelajaran paling populer.

Dalam melakukan aktivitasnya itu, para siswa dibagi dalam
kelompok-kelompok sehingga tumbuh rasa kebersamaan untuk bersaing secara
sehat dengan kelompok lainnya. Seusai pelajaran di sekolah, mereka
berbondong-bondong mencari fosil. Tentu saja karena pengetahuannya yang
sangat minim, mereka bekerja tanpa mengindahkan kaidah-kaidah penelitian
ilmiah dalam melakukan penggalian benda yang dicari. Tanah digali dengan
linggis, cangkul, atau peralatan lainnya yang bisa membantu usahanya.

Jika salah satu kelompok tersebut menemukan fosil yang dianggap berbobot,
mereka berjingkrak-jingkrak kegirangan sehingga membangkitkan semangat
pencarian bagi kelompok lainnya, kata Darwa.

Wiraswasta

Guru kelahiran Desa Tambaksari, 9 Juli 1941 itu, setelah 16 tahun
membimbing anak didiknya dalam dunia arkeologi, memilih pensiun pada tahun
1996 dan kemudian terjun ke dunia wiraswasta. Tetapi apa yang sudah
dirintisnya tidak terhenti sampai di situ saja. Buktinya, penelitian
secara ilmiah dan mendalam pada situs Tambaksari masih terus dilanjutkan
secara intensif oleh para arkeolog dan geolog.

Situs Tambaksari selama ini dianggap sangat potensial, mengingat di tempat
tersebut bukan hanya ditemukan fosil-fosil binatang purba dalam jumlah
cukup besar, terutama di daerah yang terletak di Urugkasang. Situs
Tambaksari menyimpan benda-benda prasejarah.

Untuk menyelamatkan temuan fosil-fosil di sana, pada tahun 2002 dibangun
museum yang dinamakan Gedung Penyelamatan Benda Cagar Budaya Tambaksari.
Tetapi dibanding temuan yang disimpan di Laboratorium IPA SMPN Tambaksari,
koleksi fosil yang dirintis Darwa Hardiya Ruhyana bersama anak didiknya
jauh lebih lengkap dan lebih banyak, baik jumlah maupun jenisnya.

Her Suganda Anggota Forum Wartawan dan Penulis Jawa Barat (FWP-JB)

mj

http://geocities.com/mangjamal






Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




SPONSORED LINKS
Corporate culture Business culture of china Organizational culture
Organizational culture change Organizational culture assessment Jewish culture


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke