kiriman ti babaturan, H. Tanzil. artikel ieu ditulis pikeun majalah intern
kantorna,pabrik kertas di Jl. Moh. Toha Bansel.


-------------

Menengok Situs Sejarah Batukarut

Tahukah Anda kalau sekitar kurang lebih satu kilometer dari pabrik tempat
kita bekerja terdapat sebuah situs sejarah ?

Memang tak banyak yang tahu kalau di Desa Batukarut, Kecamatan Arjasari,
Kabupaten Bandung terdapat peninggalan leluhur yang memiliki nilai
sejarah. Namanya Situs Kabuyutan.

Situs Batukarut yang dikenal oleh penduduk setempat dengan Situs Kabuyutan
merupakan tempat keramat. Kini Situs yang telah berusia ratusan tahun ini,
dijadikan cagar budaya oleh pemerintah setempat.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai situs yang dikenal sebagai
peninggalan kerajaan Pajajaran beberapa ratus tahun yang lalu tersebut,
tim INFO menemui salah satu tokoh masyarakat yang bertugas sebagai kuncen
alias juru kunci Situs Lebakwangi Batukarut.

Ia adalah H. S. Enggin Wasya Sasmita, yang akrab disapa Abah Enggin, yang
telah berusia 83 tahun. Abah Enggin adalah generasi ke 14 yang bertugas
sebagai kuncen Situs Kabuyutan. Dari keterangannyalah Tim INFO memperoleh
penjelasan mengenai keberadaan situs Batukarut ini.

Situs Kabuyutan ini terletak di pinggir jalan menuju kecamatan Arjasari,
tempatnya dipagari oleh benteng dan gapura masuk yang disebelahnya
terdapat papan pengumuman bahwa situs ini dilindungi oleh undang-undang
sebagai kawasan cagar budaya. Pintu masuk bagian depan dihiasi oleh pagar
bambu dan dengan menyusuri jalan setapak yang dialasi oleh batu-batu kecil
kita akan bisa langsung melihat sebuah rumah adat yang kembali dibatasi
oleh pagar bambu. Karena rumah adat ini tak bisa dimasuki oleh
sembarang orang, maka tim INFO tak dapat memasukinya. Rumah Adat itu tetap
dipertahankan seperti keadaan aslinya, rumah panggung tersebut berdinding
bilik bambu dan atapnya terbuat dari belahan bambu yang dibalut ijuk. Di
rumah ini menurut penuturan Abah Enggin tersimpan beberapa jenis benda
pusaka, diantaranya, pedang, keris, wangkingan, tumbak, badik dan alat
musik gamelan atau gong renteng yang hanya dimainkan pada bulan Maulud
setiap tahunnya.

Disamping rumah adat ini terdapat suatu lahan asri yang memiliki luas
lahan sekitar seribu meter persegi. Pohon-pohon di sana dibiarkan tumbuh
besar dan rimbun, beberapa akar dari pohon tersebut menyembul hingga
keluar. Usianya mungkin hampir sama dengan keberadaan situs tersebut yang
telah berusia ratusan tahun. Suasana disekitar situs terlihat sangat
kental dengan perkampungan adat Sunda tempo dulu.

Menurut penuturan Abah Enggin, situs Kabuyutan ini tidak setiap hari dapat
dikunjungi warga atau orang yang berziarah. Situs hanya boleh dikunjungi
pada waktu tertentu, yakni Senin dan Kamis. Sedangkan pada malam hari
hanya bisa berziarah pada Minggu malam dan Rabu malam. Situs ini menjadi
pusat perhatian pada saat bulan Maulud, karena di lokasi ini digelar
berbagai macam ritual adat, yang diawali oleh pencucian benda-benda pusaka
yang disimpan di rumah adat hingga hiburan pertunjukan gamelan dan gong
renteng.

Untuk menyambut ritual pencucian benda pusaka tersebut, ratusan tumpeng
dibawa oleh warga sekitar situs, semua itu dilakukan warga tanpa instruksi
dari tokoh adat atau siapapun, semua dilakukan dengan sukarela dan telah
menjadi kebiasaan turun temurun..

Ritual penyucian benda-benda pusaka hanya dapat dilakukan oleh para
sesepuh situs Kabuyutan. Barang yang pertama kali dikeluarkan dari rumah
dat adalah sumbul, barang berbentuk bulat seperti tong air yang dibungkus
kain berlapis-lapis kain putih.

Uniknya tak seorangpun mengetahui isi sumbul tersebut. Setelah sumbul
dikeluarkan, Abah Enggin menjelaskan , kemudian barang-barang pusaka lain
seperti keris, pedang, wangkingan, tumbak dan badik dikeluarkan untuk
dicuci dengan menggunakan tujuh tempat air yang biasa disebut Jajambaran.
Setelah ritual pencucian selesai dilakukan, barang-barang pusaka dibungkus
kembali dengan kain kaci sebanyak lima lapis. Lima helai itu melambangkan
agar umat Islam selalu mendirikan shalat lima waktu setiap harinya. Usai
ritual pencucian, warga dihibur dengan pertunjukan alat musik kramat
gamelan dan gong renteng pada malam harinya.

Demikian sekilas mengenai keberadaan Situs Batukarut / Situs Kabuyutan
yang hampir telupakan oleh generasi muda sekarang. Tentunya keberadaan
situs ini harus dipertahankan agar nilai-nilai luhur budaya sunda yang
tercakup didalamnya ikut terlestarikan dan dapat tetap menjadi 'tuntunan'
bagi norma-norma kehidupan
bermasyarakat.

Red.


mj

http://geocities.com/mangjamal






Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke