Putra Pandai Besi yang Menginspirasi



Keteguhan sikap dan kerasnya pendirian Presiden Iran,
Mahmoud Ahmadinejad, saat ini, boleh jadi tak terpisah
dari pekerjaan yang digeluti keluarganya dulu. Sang
ayah, seorang pandai besi, ternyata tak hanya memiliki
tangan yang kokoh untuk menggodam logam. Ia juga
sanggup menempa hati putranya hingga sekeras baja
Damaskus.

Bila tidak, bagaimana mungkin negara berkembang
seperti Iran sanggup berkata tidak kepada adikuasa
Amerika? Apalagi, ketika sang adikuasa itu sudah mulai
main ancam. Tidak terhitung negara yang lebih besar,
Inggris misalnya, lebih banyak menganggukkan kepala
saat berhadapan dengan dikte Amerika.

''Hanya pemimpin yang padat dengan keyakinan saja yang
mampu menyatakan 'tidak' seperti itu,'' kata Yuddy
Chrisnandi, anggota Komisi I DPR. Tanpa sungkan, Yuddy
mengakui kekagumannya pada Presiden Republik Islam
Iran tersebut.

Dilahirkan di desa pertanian Aradan, dekat kota kecil
Garmsar, sekitar 100 kilometer dari Teheran, pada
1956, Ahmadinejad dibesarkan dalam suasana keluarga
yang sederhana. Kesederhanaan itu membekas hingga saat
ini. Meski telah memegang jabatan gubernur Provinsi
Ardabil sejak 1993, gaya hidup yang dijalani pemegang
gelar PhD dalam teknik dan manajemen transportasi dari
Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) itu tetap
simpel. Acara-acara dalam jadwal kunjungannya ke
Indonesia yang bermula Rabu (10/5) kemarin, selalu
dihadiri Presiden Iran itu dengan hanya berbalutkan
kemeja. Sikap itu meresonansi sekelilingnya. Tak
sepotong pun dasi mengikat leher anggota delegasinya.

Usia muda, diisi pemuda Ahmadinejad dengan aktivisme.
Pada 1980, ia tercatat sebagai ketua perwakilan IUST
untuk persatuan mahasiswa Iran. Ahmadinejad juga
terlibat aktif dalam pendirian Daftar-e Tahkim-e
Vahdat, organisasi mahasiswa yang berada di balik
penyitaan Kedubes Amerika Serikat di Teheran. Gerakan
itulah yang mengakibatkan terjadinya krisis sandera
Amerika di Iran, yang dampaknya belum lagi hilang
hingga hari ini: Amerika memutuskan hubungan dengan
negara Teluk Persia itu.

Patriotisme juga menjiwai pemuda Ahmadinejad. Saat
perang Irak-Iran pecah pada awal 1980-an, Ahmadinejad
bergabung dalam Korps Pengawal Revolusi Islam
(Pasdaran). Tampaknya, keahliannya memegang senjata
juga perlu diperhitungkan. Paling tidak, ia tercatat
terlibat aktif dalam berbagai operasi yang dilakukan
di Kirkuk, Irak.

''Karier'' militernya kemudian menanjak pesat.
Berturut-turut Ahmadinejad diangkat menjadi kepala
Pasukan Keenam, lalu kepala staf korps tersebut, yang
ditempatkan di wilayah Iran barat.

Dengan saham yang besar dalam perang tersebut, usai
perseteruan antartetangga itu, Ahmadinejad diangkat
sebagai wakil gubernur, kemudian gubernur Maku dan
Khoy. Tak lama, posisinya melesat menjadi penasihat
menteri Kebudayaan dan Ajaran Islam, hingga terpilih
menjadi gubernur Provinsi Ardabil, dari 1993 hingga
Oktober 1997.

Namun, semua itu belum menjadikan pengagum Ayatullah
Khomeini ini diperhitungkan dalam percaturan politik
Iran. Secara nasional, bintang Ahmadinejad baru
bersinar mulai Mei 2003. Saat itu, ia terpilih menjadi
wali kota Teheran.

Dari sinilah figurnya yang tegas, kepemimpinannya yang
cermat, jitu, dan terarah, apalagi kesederhanaan cara
hidupnya, mulai dibicarakan masyarakat Iran. Bukan
apa-apa, sudah menjadi tradisi bahwa wali kota Teheran
memiliki hak untuk ikut dalam rapat kabinet. Dengan
begitu, sebagai tokoh politik, nama Ahmadinejad pun
dengan gampang menjadi lebih mencorong.

Rapat kabinet pula yang membuat namanya melejit,
gara-gara terlibat pertengkaran hebat dengan Presiden
Mohammad Khatami. Di depan umum, Ahmadinejad
mengkritik presiden, seraya menuduhnya tak peka dengan
persoalan sehari-hari warga Iran. Tak terima, Presiden
Khatami langsung melarangnya hadir dalam rapat-rapat
Dewan Menteri. Dengan itu, ia mungkin gagal dikenal
anggota kabinet secara pribadi. Sebaliknya, insiden
itu makin mencuatkan namanya.

Tetapi, popularitas itu bukan balon kosong melompong.
Sebagai wali kota, Ahmadinejad juga sarat dengan
prestasi publik yang mengagumkan. Tidak hanya
mereformasi banyak aturan yang merugikan warga,
Ahmadinejad juga membawa berkah bagi warga Teheran
dengan berbagai programnya yang menyentuh keperluan
warga kota.

Tidak mengherankan, saat menjabat wali kota Teheran
itu, namanya tercatat dalam daftar "65 Wali Kota
Terpilih Dunia" tahun 2005. Daftar tersebut merupakan
hasil seleksi dari 550 nama wali kota yang
dinominasikan warganya mendapatkan penghargaan
tersebut.

Cara yang sama, yakni mengimplementasikan kebijakan
hingga menyentuh masyarakat bawah, juga dilakukannya
untuk meraih kursi presiden. Metode itulah yang
membuatnya nyaris tak mengeluarkan sepeser pun dana
guna meraih jabatan eksekutif tertinggi di Iran itu.
''Dia tercatat tak mengeluarkan sepeser pun dana dalam
kampanye presidennya,'' tulis BBC. ''Yang digunakannya
hanya hubungan antarpribadi dan jaringan masjid yang
ada.''

Saat itu, isu kampanye yang diusung Ahmadinejad
terfokus pada pemusnahan kemiskinan, keadilan sosial,
dan distribusi pendapatan. Selain itu, berlawanan
dengan citra yang dilekatkan padanya selama ini, dalam
soal persamaan hak antargender, Ahmadinejad cenderung
terbuka. Ia membebaskan wanita Iran terlibat aktif
dalam pemerintahan, olahraga, dan berbagai jenis
pekerjaan. Jabatan presiden tampaknya secara maksimal
dijadikan jembatan Ahmadinejad mengejar cita-cita
populisnya. Wajar, bila untuk itu ia terkesan tak
mempertakutkan apa pun, termasuk murka Amerika. Sikap
yang --pelan tapi pasti-- membuatnya seolah
menginspirasi dunia.

''Saya bangga dilahirkan dari ibu bidan,'' kata filsuf
terkenal, Socrates. ''Saya mewarisi pekerjaannya,
membantu proses kelahiran seorang manusia.'' Boleh
jadi, tanpa pernah tercetus, Presiden Ahmadinejad juga
memiliki kebanggaan yang sama. ''Saya bangga, ikut
menempa tekad bangsa-bangsa di dunia.@


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




SPONSORED LINKS
Corporate culture Business culture of china Organizational culture
Organizational culture change Organizational culture assessment Jewish culture


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke