Jimmy Okberto
mailcare | 021 8823068
It is never too late to be what you might have been.-by George Eliot
http://okberto.multiply.com/
KESEMPATAN
KEDUA
Sejak pulang kerja kulihat suamiku, Johan sangat gelisah. Selama makan
malam, ia tidak banyak berbicara. Aku tak banyak bertanya, jika ia perlu
menceritakannya kepadaku, maka ia akan bercerita tanpa perlu aku minta atau
bertanya. Kegelisahan itu semakin aku rasakan, karena ia mondar-mandir dari
teras ke ruang tamu lalu ke depan tv. Dan itu sudah setengah jam lebih. Aku
sangat paham pada sifatnya. Maka aku bertahan untuk tidak bertanya. Aku sangat
menghormatinya. Ia selalu mendukung karirku.
Sejak berpacaran
memang kami sepakat menjalani pernikahan sebagai dua sahabat. Kedudukan kami
setara. Ia selalu menjadi partner
dalam kehidupan berumah tangga. Maksudku, ia tidak pernah menempatkan diri
sebagai suami dan kepala rumah tangga yang kedudukannya lebih tinggi dari aku,
istrinya. Dan kami juga selalu menghormati kesepakatan yang kami buat. Jika
sesekali melanggar kesepakatan itu, kami membahasnya dan saling memaafkan. Kami
berusaha untuk saling mengerti, mengapa aku atau dia melakukan itu. Sehingga
sama-sama bisa menerima sebab dan akibat dari suatu peristiwa.
Salah satu
kesepakaatan itu adalah tidak mengucapkan kata “Cerai”. Kami meyakinkan setiap
persoalan seberat apapun pasti ada solusinya. Dan itu bukan cerai. Tinggal
bagaimana memikirkan atau menjalankan solusi yang bukan cerai itu. Dan kami
berdua selalu yakin, jika saling menerima dan mau menjalaninya, pasti akan
berhasil. Karenanya aku makin mencintainya. Aku tahu ia pun mencintaiku.
Sikapnya yang penuh perhatian tidak pernah berubah.
“Tih, aku mau
bicara”.
“Yap…aku siap
mendengarkan”. Aku tersenyum memandangnya dan langsung mematikan tv lalu
menatapnya. Ia duduk di depanku di seberang meja.
Ada perasaan yang
aneh mengusikku. Biasanya kami
berbicara duduk berdampingan, kadang tangannya merangkul pundakku. Ini
pasti serius. Beberapa saat ia diam dan balik menatapku.
“Aku minta maaf. Aku
sekarang pacaran lagi!” Byar…jika ada bom
yang meledak disampingku aku yakin tidak sekaget mendengar pengakuan Johan. Tapi
aku juga orang yang mampu menahan diri. Walaupun jantungku berpacu secepat
kereta monorel di Jepang, aku tidak ingin Johan tahu. Sesaat ada kemarahan yang
terkepsresikan diwajahku terutama di bola mataku. Aku tahu setiap reaksi
tubuhku. Aku mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas panjang dan
menghembuskannya perlahan. Tuhan, tolong
kuatkan aku! Doaku dalam hati.
“Kenapa?
Ada apa dengan
pernikahan kita” Tanyaku tenang. Kalau mau jujur aku ingin berteriak,
menonjoknya, bahkan menendangnya. Ini tidak sama seperti ia minta maaf karena
terlambat menjemput aku.
“Tidak ada
apa-apa dengan pernikahan kita”.
“Jadi apa
rencanamu?”
“Justru itu yang
aku ingin bicarakan denganmu”.
“Maksudmu?”
‘Aku ingin
menikahinya”.
“Lalu menceraikan
aku?”
“Kita sepakat
tidak mengucapkan kata itu”.
“Lalu kamu ingin
aku menerima dan mengizinkan mu menikah lagi?”
“Yang kuminta
hanya kerelaanmu, Tih”.
“Kerelaan? Cuma
orang gila yang akan rela!”
“Aku
mencintainya!”
“Dan kau mau
mengatakan, sudah tidak mencintaiku?”
“Aku juga
mencintaimu”.
“Lalu bagaimana,
kamu bisa mencintai perempuan itu juga?”
“Aku tidak tahu.
Aku sendiri berperang dengan nuraniku”.
“Tak perlu
berperang dengan nurani, jika akan berbuat nista!”
“Ratih, setajam
itukah lidahmu?”
“Aku bisa lebih
tajam dan jahat untuk mempertahankan suamiku”.
“Bukankah kita
memulainya dengan saling percaya dan menghormati
kejujuran?”
“Apa
maksudmu?”
“Aku mencoba
untuk jujur, Tih”.
“ Ingin menikah
lagi, dan kamu mau bilang, dengan membicarakan ini, kamu jujur
padaku?”
“Bukankah kamu
selalu mengatakan, jujurlah walau itu menyakitkan!”
“Dan itu yang
kamu lakukan? Apa kamu jujur ketika kamu menghianati cintaku dengan membiarkan
perasaanmu berkembang untuk mencintai perempuan lain? Kenapa…..kenapa kau
biarkan perasaan itu berkembang?” Aku mengucapkan dengan penekanan rasa sakt di
dada.
“Itu juga yang
aku tanyakan pada diriku sendiri. Aku menjadi bodoh”.
“Mencintai
seseorang bukanlah kebodohan. Kemampuan mencintai adalah berkat Tuhan. Dan aku
tidak bisa mencegah kau mencintai perempuan lain.
“lalu…?”
“Yang bodoh dan
nista menurutku, bahkan sangat hina adalah keinginanmu untuk memiliki atau
menikahinya”.
“Aku harus
bagaimana?”
“Hentikan
hubungan itu dan mari kita mulai dari awal”. Kalimat itu keluar begitu mudah
dari mulutku. Padahal aku tahu, aku berdiri di jurang keputus asaan. Aku tak
yakin bisa membangun kembali hubunganku dengannya. Aku tidak tahu dapatkah
pernikahan ini kupertahankan. Aku hanya mencoba apa yang aku yakini. Dan sebagai
manusia berpengharapan aku tidak mau menyerah!
Bukan
sekali dua kali aku mendengar perselingkuhan. Aku tidak peduli
pada perbuatan perselingkuham. Karena aku tidak pernah menyetujui apapun
alasannya. Ada kemarahan, ada
rasa sakit hati, rasa dihianati, atau penolakan karena tidak diinginkan.
Haruskah berakhir dengan perceraian? Benarkah setiap pernikahan tidak ada
gangguan? Benarkah Rumah Tangga orang tuaku mulus? Benarkah mereka yang sampai
pada ulang tahun ke dua puluh lima atau ke
lima puluh tahun,
tidak pernah ada permasalahan yang menyangkut pihak
ketiga?
Satu ketika kami menghadiri pesta pernikahan
seorang sahabat yang sangat luar biasa mewahnya, aku sempat mengatakan pada
Johan.
“Edan,
pasti pengantinnya senang luar biasa!:”
“
Pesta itu tidak ada artinya jika mereka tidak saling mencintai”. Jawab
Johan
“Jadi
karena kita saling mencintai, tidak perlu pesta?” tanyaku mencoba memahami arah
pembicaraannya.
“Apa
orang lain perlu tahu kalau kita saling mencinta?”
“Tentu
saja! Karena itu pernikahan harus diumumkan. Supaya masyarakat juga bisa ikut
menjaga. Artinya kalau kamu melirik perempuan lain dan ada orang yang
mengenalmu, jika orang itu tidak menyampaikan langsung kepadaku, minimal orang
itu akan menegur dan mengingatkanmu!”
“Ya, kalau orang
lain saja ikut menjaga, apa lagi kita yang memiliki cinta itu. Kita memang harus
menjaga. Tolong ingatkan aku jika aku lalai”. Johan menggenggam erat tanganku.
Percakapan itu terjadi lima tahun lalu.
Dan
kini aku harus mengingatkannya. Mampukah aku?
Kalau mau mengikuti egoku, sulit bagiku memaafkan Johan. Sakit rasanya! Aku
harus berbicara dengan Johan.
Sudah dua minggu
aku melakukan aksi tutup mulut. Benci benar rasanya melihat Johan. Setiap kali
melihat kedua buah hatiku, batinku teriris. Haruskah mereka kehilangan salah
satu dari kami? Haruskah mereka memilih akan ikut siapa? Bagaimana hak mereka
untuk dicintai ayah bundanya?
Malam
ini aku sudah merencanakan untuk menuntaskan persoalanku dengan Johan.
Karena ini
persoalan kami maka kami yang harus menyelesaikan. Untunglah kakakku dengan
senang hati menampung kedua buah hatiku. Pukul setengah enam, keduanya di jemput
kakakku. Aku
dan Johan mengantar keduanya sampai di pintu mobil. Dalam mobil sudah ada 3 anak
kakakku.
“Jangan nakal,
jangan berkelahi. Dengar apa kata Tante Ci!” Pesanku pada
keduanya.
Aku dan Johan
bergantian memeluk dan mencium mereka sampai kakaku berseru:
:”Ok. Semua
siap?” Lima anak yang sudah duduk didalam kijang serentak berteriak,
“Siiaaapp!”
“Berangkat?”
tanya kakakku.
“Berangkat!” Dan
meluncurlah kijang silver itu membawa
buah hatiku mengungsi.
Johan berusaha
menggandeng tanganku, aku menepisnya. Aku benci pada diriku sendiri, karena
tiba-tiba aku ingin menangis. Aku langsung kekamar mandi. Aku menatap wajahku
dicermin. Sesosok wajah menyeramkan memantul disitu. Ku ekpresikan kebencianku
dengan menyumpah dan berkata-kata kasar dalam hati. Puas memaki, aku membasuh
wajahku. Agak lumayan, air dingin mengingatkanku untuk berpikir
tenang.
Kulihat
Johan sudah duduk di ruang tv tapi tv tidak hidup. Aku berjalan
menghampirinya dan duduk di seberang meja. Posisi ini persis ketika ia
menyampaikan berita yang menyakitkanku.
“Masih marah,
Tih?” Sapanya pelan
“Iya”.
“Maafkan aku.
Sungguh aku mencintaimu. Melihatmu seperti ini aku sangat sedih”. Ia memperbaiki
posisi duduknya hingga lebih maju lalu menarik tanganku tapi aku menarik
kembali.
“Sudah berpikir,
kira-kira kita akan kemana?”
“Aku memutuskan
hubunganku dengannya”.
“:Kenapa?”
“Aku ingin tetap
hidup bersamamu dan anak-anak. Aku mencintai
keluargaku”.
“Ketika kamu
dengan perempuan itu apa kamu lupa kalau ada aku dan
anak-anak?”
“Tidak, Cuma pada
waktu itu aku berpikir just
intermezzo
“Just
intermezzo?”
“Ya, aku merasa
lebih semangat. Di rumah ada kamu dan anak-anak. Di tempat kerja ada dia.
Hidupku jadi lebih menyenangkan. Tapi semua menjadi masalaha karena ia minta aku
menikahinya”.
“Kamu mau
menikahinya?”
“Kalau kamu
mengizinkan’.
“Kamu tahu, aku
tidak akan pernah mau berbagi”.
“Tidak ada
salahnya di coba..
“Kamu
brengsek!”
“Aku
terima”.
“Kalau aku minta
cerai?”
“Kita punya
komitmen untuk tidak mengucapkan kata itu!” Tegas Johan.
“Tapi
tidak dalam konteks kamu menghianati pernikahan kita”.
“Aku tidak pernah
mengianati pernikahan kita, aku tergelincir dengan perasaanku dan aku tahu itu
menghianati perasaanmu tapi bukan pernikahan kita”.
“Tergelincir?”
“Yah. Aku
membiarkan perasaan itu tumbuh dan berkembang. Pada saat itu aku tidak berpikir
rasional. Aku pikir sah-sah saja membiarkan perasaan itu. Walau aku tahu aku
bermain api”.
“Dan kira-kira,
apakah kamu tahu yang aku rasa?”
“Ya…Sakit, marah,
kesal bahkan mungkin membenciku”.
Ini benar-benar
sudah gila, Johan membicarakan semua itu seakan tidak dengan rasa. Tapi aku
melihat sekilas kecemasan di bola matanya. Benarkah ia masih
mencintaiku?
“Kalau aku
bersikeras minta cerai?”
“Tih. Cobalah
jangan mengucapkan kata itu. Aku salah…aku minta maaf. Aku siap menerima semua
resikonya asal jangan minta cerai”.
Tahu
apa Johan dengan perasaanku. Tapi aku juga
tidak mau pernikahanku berakhir dengan perceraian. Terlebih lagi, aku
mencintainya. Biarpun ia sudah menghianati cintaku.
Johan sudah
pindah disampingku dan kini memelukku. Aku rindu pelukannya, debar jantungnya
terdengar merdu ditelingaku. Aku balas memeluknya dan akhirnya tangisku pecah
didadanya.
“Menangislah…kalau
itu meringankan himpitan bebanmu tapi biarlah aku tetap memelukmu. Aku menyesal
menyakiti hatimu. Aku masih dan akan selalu mencintaimu. Maafkan aku. Beri aku
kesempatan memperbaiki semua ini, Tih”. Pelukannya semakin erat.
Ucapannya terdengar merdu walau aku belum
dapat mempercayai. Aku tahu nyerinya bila mengingat penghianatannya, bagaikan
luka teriris senbilu. Tidak mudah memulainya kembali. Tapi dengan memaafkan
kupikir ini akan menjadi langkah awal untuk menyelamatkan pernikahanku. Memang
tidak mudah tapi aku tahu masih ada masa depan pernikahanku. Bukankah ketika
kita saling memiliki maka kita harus saling menjaga. Suamiku berhak mendapatkan
kesempatan kedua. Dan aku akan memberi kesempatan itu. (Icha
Koraag)
“4 Mei
2005
Terinspirasi
dari saudara
sedarahku!
Di ambil
dari Kumpulan Cerpen Icha
Aku
ngeblog maka aku terhibur:
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
SPONSORED LINKS
| Culture change | Corporate culture | Cell culture |
| Organization culture | Tissue culture |
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___

