--- In [email protected], "Agus Wirabudiman"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sajarah Syi'ahna kirang leres alias Dho'if...kang Firman....,
ngenaan > IBNU TAIMIYAH, kanggo kang Firman punten teu disundakeun 

Another point of view ....

==============================================


Ana mau bertanya...

Peristiwa Perpecahan Umat Islam yang dimulai pada masa kekhalifahan
Ali Bin Abi Thallib Ra. Dan masa kekhalifahan setelahnya merupakan
sesuatu yang sangat disayangkan...
Ana paham bahwa kita sebagai muslim tidak sepatutnya mencap buruk
kepada para salafus sholeh tersebut... Karena mereka (para sahabat
terutama) sudah dijamin Alloh dengan ridho-Nya.

Namun, bukan untuk mencari siapa yang benar dan menyalahkan yang lain,
ana ingin diberi penjelasan tentang hal apa yang membuat "mereka"
samapai seperti itu (terutama saat perang jamal" antara Sahabat Ali
Ra. Dengan Ibunda Aisyah rah dan Sahabat Muawiyah Ra.

Apa saja pertimbangan dari masing-masing pihak sehingga mereka sampai
memutuskan untuk perang melawan sesama muslim.

Di luar mana yang benar dan yang salah, ana ingin ustadz menjelaskan
mengapa mereka sampai memutuskan begitu, dari kedua sisi... Mengapa
ada peristiwa yang menimpa husein Ra. Dan serentetan peristiwa lainnya
yang sangat banyak.

Apakah semua itu ada kaitannya dengan kemunculan Syi'ah

Harap Ustadz mau menjawabnya dan ana juga ingin tau di mana ana bisa
mencari jawaban lebih rincinya...

Jazakalloh... Assalamualaikum

[Harap jawaban juga dikirimkan ke e-mail saya]

Yadi
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Barangkali kami tidak akan menjelaskan duduk persoalan yang anda
tanyakan, karena ada hal yang justru lebih penting lagi untuk kita
ketahui bersama, terkait dengan masalah ini. Yaitu tentang keshahihan
sejarah yang kita anggap sebagai sejarah Islam. Benarkah memang ada
cerita seperti itu? Sejauhmana kedudukan sejarah itu dibandingkan
dengan standar keshahihan suatu hadits?

Jawabannya memang masih belum jelas, sama tidak jelasnya dengan
kerumitan sejarah Islam itu sendiri. Tetapi yang perlu kita ketahui
adalah bahwa para shahabat nabi itu adalah orang-orang yang telah
diridhai Allah SWT, bahkan hal itu ditegaskan secara eksplisit di
dalam Al-Quran.

Juga perlu dipahami bahwa para shahabat nabi adalah orang-orang yang
langsung dibinalewat tangan Rasulullah SAW, sehingga melecehkan para
shahabat sama saja artinya dengan melecehkan Rasulullah SAW.

Dan yang paling penting, kalau kita sampai menyatakan bahwa para
shahabat itu jelek karena saling berbunuhan antar sesama mereka, maka
kita sebenarnya sudah membunuh agama Islam itu sendiri. Mengapa?
Karena kita tidak kenal Islam kecuali lewat tangan para shahabat nabi.
Kalau kita sudah mendeskreditkan satu di antara para shahahabat, lalu
akan ada saudara kita yang akan membalas mendiskreditkan shahabat yang
lainnya. Dan akhirnya semua shahabat pun akan kebagian penilaian
negatif dari kita. Dan selesailah agama Islam.

Keshahihan Sejarah Islam: sebuah pe-er besar

Dibandingkan dengan periwayatan hadits, apa yang kita pahami sebagai
'sejarah Islam' sebenarnya sangat dhaif dari segi keshahihannya. Kalau
dalam dunia hadits, para ulama telah berhasil mengukir sejarah dengan
tinta emas dalam hal keberhasilan mereka membuat sistem kritik hadits,
maka dalam dunia sejarah, kritik itu tidak pernah terjadi.

Dalam dunia hadits kita mengenal Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam
At-Tirmizy dan lainnya yang terkenal dengan ketekunan mereka dalam
menyeleksi keshahihan suatu hadits, hingga ilmu naqd (kritik) hadits
menjadi sebuah fenomena satu-satunya di dunia Islam, bahkan di dunia
ilmu pengetahuan.

Misalnya Al-Bukhari, beliau telah menghabiskan umurnya untuk
menelusuri satu persatu tiap riwayat hadits yang didapatnya. Konon
dari 50 ribuan hadits yang ditelitinya, hanya 5 ribuan saja yang masuk
ke dalam kitab Shahihnya. Itu pun dengan pengulangan-pengulangan.
Kalau tidak diulang-ulang, ada yang menghitung bahwa jumlahnya hanya
sekitar 2000-an saja.

Padahal jumlah hadits ada jutaan riwayat. Setelah diperas dan diperas
dengan sejumlah kriteria yang 'teramat' ketat, tingga 2000-an saja.

Ini menunjukkan bahwa tidak semua riwayat yang kita dapat dari nabi
SAW bisa kita terima begitu saja. Harus ada sistem yang baku dan
standar untuk menyeleksinya. Itu pun baru sebatas kritik pada
sanadnya, belum pada matan (teks)-nya.

Bagaimana dengan sejarah Islam?

Adakah sistem kritik sanad periwayatan sebagaimana hadits nabi SAW?
Jawabnya, unfortunetly, kita belum punya.

Di dalam ilmu sejarah Islam, boleh dibilang nyaris sama sekali kita
tidak punya sistem yang baku untuk mengkritisi riwayat-riwayat sejarah
umat Islam. Semua riwayat sejarah itu datang begitu saja, ditulis oleh
siapa saja, dikarang dan direkayasa oleh kalangan mana saja, termasuk
oleh orang-orang kafir yang memusuhi Islam. Yang terakhir ini justru
lebih mendominasi, sayangnya.

Kalau kita baca 'sejarah umat Islam' hari ini, terutama yang diajarkan
di sekolah dan kampus Islam, boleh dibilang nyaris semuanya ditulis
oleh orang kafir. Kalau pun penulisnya muslim, tapi rujukannya tetap
dari penulis sejarah yang kafir. Kalau pun ada buku sejarah karya umat
Islam, maka sejarawan muslim itu tetap tidak bisa lepas dari
penelitian dan kabar orang kafir.

Kita Membaca Sejarah Diri Sendiri Lewat Tulisan Musuh-musuh kita

Bayangkan, kita membaca sejarah diri sendiri lewat tulisan musuh-musuh
kita. Seolah antara kita dan sejarah kita sendiri ada dinding tebal
yang tak tembus apapun. Sehingga hanya lewat tulisan musuh-musuh kita
saja lah kita baru kenal sejarah kita sendiri.

Contoh Pertama: Masuknya Islam ke Nusantara

Bukankah sejarah masuknya agama Islam di Indonesia yang katanya baru
terjadi pada abad ke-13, hanyalah karangan Dr. Snouck Hurgronje?
Padahal kalau dikritisi lebih jauh, ternyata Hurgonje sangat jauh
meleset dari asumsinya itu.

Dan hari ini terbukti, seorang putera umat Islam, telah berhasil
merontokkan sejarah versi orang kafir yang terlanjur resmi jadi
kurukulum nasional itu. Adalah Prof. Dr. Buya Hamka yang dengan sangat
valid berhasil menegaskan bahwa agama Islam tiba di negeri ini bukan
di abad ke-13, melainkan di abad ke-7. Yakni masih di zaman para
shahabat nabi SAW. Bahkan beliau memastikan bahwa salah seorang
shahabat nabi, yaitu Yazid bin Mu'awiyah telah menginjakkan kaki di
Nusantara ini.

Tetapi versi sejarah Islam yang resmi di kurikulum formal tetap saja
versi orang kafir yang telah menjajah negeri ini. Rupanya para pembuat
kurikulum sejarah lebih percaya pada hadits riwayat Hurgronje dari
pada riwayat Hamka.

Contoh Kedua: Sejarah Umat Islam Bagaikan Cerita Silat

Lebih jauh lagi, buku-buku sejarah Islam itu tidak lebih dari cerita
silat yang isinya hanya darah, pembunuhan, air mata, dendam kesumat
dan turun temurun, perebutan tahta kekuasaan. Tidak lebih kotor dari
cerita tentang pembantaian biadab model Hitler, Musolini, Lenin dan
Stalin.

Kalau ada seorang non muslim yang baca versi sejarah yang sekarang
dianggap sebagai sejarah Islam, 99% mereka akan punya gambaran bahwa
umat Islam tidak lebih dari cerita silat. Dari stu dinasti ke dinasti
yang lain. Para pendekar saling berbunuhan, saling dendam antar
keturunan, saling tikam, saling mengkhianati, saling tebas leher,
teman jadi lawan dan lawan jadi teman.

Semua isi cerita dari awal sampai akhir, sangat berbeda dengan isi
Quran dan sunnah. Bagaimana mungkin sebuah umat yang dibina langsung
oleh nabi, hidup di bawah naungan Quran dan sunnah, punya warisan
intelektual yang sedemikan kaya, kok tidak beda dengan cerita Shaolin?

Sekarang pertanyaannya adalah: siapakah yang telah menulis semua itu?
Dari mana cerita-cerita tentang pertumpahan darah itu berasal? Siapa
yang meriwayatkannya? Sejauh mana validitas dan keshahihannya?

Jawabnya adalah semua itu datang dari para ahli sejarah. Tentang
validitasnya? Kebanyakn orang tidak peduli, fasik atau tidak, tsiqah
atau tidak, dha'if atau tidak. Jangankan hal itu, bahwa agamanya pun
ternyata bukan Islam.

Apa agama mereka? Non muslim, yahudi atau nasrani. Kalau pun ada orang
Islam yang jadi ahli sejarah, guru mereka adalah non muslim yang
kerjanya memang memusuhi Islam.

Inilah kenyataan pahit yang harus kita telan, setiap kita bicara
tentang sejarah umat Islam. Wajar kalau Dr. Muhammad Qutub, adik
kandung Sayyid Qutub, pernah menyatakan bahwa kita harus menulis ulang
sejarah Islam. Sebab yang diklaim sebagai sejarah Islam pada hari ini
sebenarnya bukan sejarah Islam, melainkan sekedar cara pandang
musuh-musuh Islam terhadap sejarah Islam.

Sedangkan sejarah Islam sendiri sebagai sebuah realitas, tidak pernah
terbukti validitasnya. Kalau disandingkan dengan keshahihan hadits
Bukhari, maka semua sejarah itu tidak lebih dari sekedar hadits-hadits
dha'if, bahkan maudhu' (palsu).

Karena tidak pernah ada serangkaian tes, juga tanpa sistem kritik yang
baku dan ketat, tanpa proses penelitian atas kepribadian para pembawa
riawayatnya.

Sejarah Islam Versi Non Muslim = Israiliyat

Maka yang sering disebut dengan 'sejarah Islam' sekarang ini, secara
hukum tidak jauh kedudukannya dari cerita israiliyat belaka. Di mana
kita bisa saja menerima hal itu tapi bisa saja menolaknya
mentah-mentah.

Mengapa demikian?

Karena yang menyampaikan kepada kita tidak lain adalah sama-sama Bani
Israil juga. Cerita-cerita bohong tentang nabi-nabi terdahulu
disampaikan oleh bani Israil tanpa kepastian kebenarannya. Maka
cerita-cerita tentang 'sejarah umat Islam' yang sekarang ini kita
baca, tidak lebih baik shahih dari kisah Israiliyat juga. Karena
diriwayatkan oleh mereka, yaitu non muslim dari Bani Israil (Yahudi
dan Nasrani).

Sudah Adakah Rintisan Ke Arah Sana?

Mengingat musuh-musuh Islam sangat memanfaatkan kelemahan di bidang
ini. Dan ribuan judul buku dan makalah telah mereka keluarkan untuk
menohok umat Islam, maka sudah ada sebagian dari ulama yang mulai
menulis kajian ini secara lebih kritis.
Meskipun belum sampai menjadi sebuah sistem kritik yang baku seperti
dalam ilmu kritik hadits.
Kita mengenal kitab Al-'Awashim minal Qawashim, karya Al-Qadhi Abu
Bakar Al-Arabi yang lumayan bisa dijadikan rujukan untuk meluruskan
sejarah Islam. Versi arabnya bisa anda download di sini.
http://www.saaid.net/book/16.zip

Juga ada beberapa kitab lainnya yang berupaya mengkritisi dengan versi
umat Islam, misalnya kitab Dimaa' 'alaa qamishi Utsman bin Affan
(darah di kemeja Utsman bin Affan), karya Dr. Ibrahim Abdul Fattah
Al-Mutanawi. Beliau juga menulis kitab Tha'natun fii Qalbi Ali bin
Thalib (Tikaman di jantung Ali bin Abi Thalib).

Buku lainnya yang menarik untuk anda baca adalah Shubuhat wa abathil
'an Mu'awiyah (Isu dan tuduhan seputar Muawiyah) karya Abu Abdullah
Az-Zahabi. Beliau juga menulis kitab lain yang tidak kalah hebatnya,
yaitu Abathil allati tumha minat-tarikh (kekeliruan yang harus dihapus
dari sejarah). Juga ada kitab lain yang jangan sampai ditinggalkan,
misalnya kitab Istisyhadu Al-Husain: Dirasat Naqdiyah Tahliliyah
(Syahidnya Al-Husein: Studi kritis dan pemecahan).

Yang sudah dalam terjemahan adalah karya Prof DR. Muhammad Amhazun.
Beliau menulis berdasarkan riwayat dari Imam At-Thabari dan para
muhaditsin yang lainnya. Buku tersebut telah diterjemahkan oleh Dr.
Daud Rasyid MA dengan judul â€Å"FITNAH KUBRO (Tragedi Pada Masa
Sahabat) Klarifikasi Sikap serta Analisa Historis Dalam Perspektif
Ahli Hadits dan Imam Al-Thabary”. Penerbitnya adalah LP2SI
Al-Haramain, Jakarta.

Semoga Allah melahirkan dari umat muslimin di abad ini orang-orang
yang akan memperbaharui penulisan sejarahnya, agar kelemahan umat yang
satu ini bisa ditambal. Amien

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

--
Wasalam,

Kirim email ke