Syafrudin Prawira Negara
  Sumber: Tempo
  ==================
  Dua kali menjadi menteri keuangan, satu kali menteri kemakmuran, dan satu
kali
  wakil perdana menteri, Syafrudin Prawira Negara akhirnya memilih
  lapangan dakwah sebagai kesibukan masa tuanya. Dan, ternyata, tidak
  mudah. Berkali-kali bekas tokoh Partai Masyumi ini dilarang naik
  mimbar. Juni 1985, ia diperiksa lagi sehubungan dengan isi khotbahnya
  pada hari raya Idulfitri 1404 H. di masjid Al-A'raf, Tanjung Priok,
  Jakarta.

   ''Saya ingin mati di dalam Islam. Dan ingin menyadarkan, bahwa kita
  tidak perlu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada Allah,'' ujar
  ketua Korp Mubalig Indonesia (KMI) itu tentang aktivitasnya sekarang.

   Namanya, yang juga acap ditulis dengan Sjafruddin Prawiranegara,
  sangat populer pada 1950-an. Maret 1950, misalnya selaku menteri
  keuangan dalam Kabinet Hatta, ia melaksanakan pengguntingan uang dari
  nilai Rp 5 ke atas, sehingga nilainya tinggal separuh. Kebijaksanaan
  moneter yang banyak dikritik itu dikenal dengan julukan ''Gunting
  Syafruddin''.Namun, Syafruddin juga yang membentuk pemerintahan
  darurat RI, ketika Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohamad Hatta
  ditangkap dan diasingkan oleh Belanda ke Pulau Bangka, 1948. ''Atas
  usaha Pemerintah Darurat, Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia.
  Akhirnya, Soekarno dan kawan-kawan dibebaskan dan kembali ke
  Yogyakarta,'' tuturnya.

   Di masa kecilnya akrab dengan panggilan Kuding, dalam tubuh
  Syafruddin mengalir darah campuran Banten dan Minang. Buyutnya, Sutan
  Alam Intan, masih keturunan Raja Pagaruyung di Sumatera Barat, yang
  dibuang ke Banten karena terlibat Perang Padri. Menikah dengan putri
  bangsawan Banten, lahirlah kakeknya yang kemudian memiliki anak
  bernama R. Arsyad Prawiraatmadja. Itulah ayah Kuding yang, walaupun
  bekerja sebagai jaksa, cukup dekat dengan rakyat, dan karenanya
  dibuang Belanda ke Jawa Timur.

   Kuding, yang gemar membaca kisah petualangan sejenis Robinson Crusoe,
  memiliki cita-cita tinggi -- ''Ingin menjadi orang besar,'' katanya.
  Itulah sebabnya ia masuk Sekolah Tinggi Hukum (sekarang FH UI) di
  Jakarta. Di tengah kesibukannya sebagai mubalig, bekas gubernur Bank
  Sentral, 1951, ini masih sempat menyusun buku Sejarah Moneter, dengan
  bantuan Oei Beng To, direktur utama Lembaga Keuangan Indonesia.

   Dari delapan anaknya, Syafruddin mempunyai sekitar 15 cucu. (Cucunya
  ke-13 lahir di Australia sebagai bayi tabung pertama keluarga
  Indonesia, 1981. Istrinya, Nyonya T. Halimah Syahabudin Prawira
  Negara, wanita kelahiran Aceh.


On 1/20/07, mj <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


Syafruddin Prawiranagara teh, memang ibuna urang minang-melayu, saurna mah
aya keneh trah Aceh oge, kang. lahir di Serang 28 Februari 1911. Tapi da
Ramana,  R. Arsyad Prawiraatmaja, jaksa di Serang jaman harita.

lengkepna mah aya dina buku Apa siapa urang sunda.

mj

http://geocities.com/mangjamal


> Tah, asa diingetan ari nguping ngaran "Sayfrudin Prawiranagara" teh, eta
> heran ku ngaranna. Ceuk sakaol cenah anjeunna teh urang Padang (Sumatera
> Barat), mana diaranan Syafrudin oge. Tapi, ceuk sakaol deui, aya getih
> Sundana, matak ngaran anu tukangna "Prawiranagara" oge. Boa2 enya SyP
teh
> urang Sunda? Upama kitu, heuheu, nyaan inyana wanian jeung kungsi aya US
> anu
> jadi Presiden.
>
> manAR
>



Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id

Yahoo! Groups Links




Kirim email ke