Kudu ati ati ngukur kamajuan nagara teh, sabab nagara batur ge sarua maju.
Siga balap mobil, mobil urang  karasana tarik,  lamun mobil batur leuwih tarik 
deui,  angger  we posisi  urang mah ditukang. Naon dasarna eta kamjuan nu 
dipedar ku Pa Satrio teh, naha tos dibandingkeun jeung kamajuan nagara batur 
teu?
 Sanes kalima atuh upami nomer opatna Eropah, teu kaci.
 Nu penting mah lain laporan ABS, pupujieun, tapi nyieun rancangan sing bener, 
prak jalankeun dibarengan ku pilitical will jeung social will ti kabeh 
pamingpin.
Atuh eta saur Kang Surtiwa persyaratanana hese pisan. Memang hese tapi nya wios 
hese ge jalankeun we ari arahna leres mah.
 
 Kang Trias


MRachmat Rawyani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
Kenging ti rerencangan,teu disundakeun, supados
 langkung paos perkara Visi Indonesia 2030, anu engke
 ku kuring bade dilajengkeun kana seratan Kasundaan.
 
 baktos,
 
 mrachmatrawyani
 
 Kerangka dasar Visi Indonesia 2030 
 itu, pada 22 Maret 2007, telah disampaikan secara
 resmi di Istana Negara 
 oleh Ketua Yayasan Indonesia Forum, Chairul Tanjung,
 di depan Presiden 
 Susilo Bambang Yudhoyono. Yayasan Indonesia Forum
 merupakan organisasi 
 yang dimotori Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI)
 dan kajiannya 
 dilakukan sejumlah lembaga penelitian universitas di
 Indonesia dan Lembaga 
 Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
 
 Visi Indonesia 2030 itu menyatakan, pada abad ke-21,
 Indonesia akan 
 mampu menjadi negara maju dan sejahtera. Indonesia
 menjadi bangsa yang 
 mandiri, produktif, memiliki daya saing, serta mampu
 mengelola seluruh 
 kekayaan alam dan sumber daya lainnya untuk mencapai
 pertumbuhan ekonomi 
 jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.
 
 Visi Indonesia 2030 itu mempunyai empat pencapaian.
 Pertama, Indonesia 
 akan masuk dalam lima besar kekuatan ekonomi dunia
 dengan tingkat 
 pendapatan per kapita sebesar 18.000 dollar Amerika
 Serikat (AS) per tahun. 
 Ini berarti Indonesia berada di posisi kelima setelah
 China, India, AS, 
 dan Uni Eropa.
 
 "Kedua, tahun 2030, sedikitnya 30 perusahaan Indonesia
 masuk daftar 500 
 perusahaan besar dunia. Ketiga, adanya pengelolaan
 alam yang 
 berkelanjutan, dan keempat, terwujudnya kualitas hidup
 modern yang merata," ujar 
 Chairul.
 
 Menurut Chairul, saat ini Indonesia berada pada
 kelompok negara 
 berpendapatan menengah ke bawah. Posisi ini akan
 bertahan hingga tahun 2015. 
 Setelah itu, Indonesia masuk sebagai negara
 berpendapatan menengah ke 
 atas. "Industrialisasi menjadi katalisator akumulasi
 modal menuju negara 
 maju dengan kontribusi terbesar dari sektor jasa,"
 paparnya.
 
 Visi Indonesia 2030 mengasumsikan pencapaian itu
 terealisasi jika 
 pertumbuhan ekonomi riil rata-rata 7,62 persen, laju
 inflasi 4,95 persen, 
 dan pertumbuhan penduduk rata-rata 1,12 persen per
 tahun. Pada 2030, 
 dengan jumlah penduduk sebesar 285 juta jiwa, produk
 domestik bruto (PDB) 
 Indonesia mencapai 5,1 triliun dollar AS.
 
 Persyaratan, Sinergi dan Kontrak Sosial Baru
 
 Namun, untuk mewujudkan visi itu, Yayasan Indonesia
 Forum mensyaratkan 
 utama tercapainya tiga keharusan. Pertama, ekonomi
 berbasis 
 keseimbangan pasar terbuka
 dengan dukungan birokrasi yang efektif. Kedua, adanya
 pembangunan 
 berbasis sumber daya alam, manusia, modal, serta
 teknologi yang berkualitas 
 dan berkelanjutan.
 Ketiga, perekonomian yang terintegrasi dengan kawasan
 sekitar dan 
 global.
 
 Untuk mencapai visi itu, menurut Chairul, harus ada
 sinergi tiga 
 kelompok, yaitu wirausaha, birokrasi, dan pekerja
 pula. "Sinergi ini mengarah 
 pada peningkatan daya saing global perekonomian
 Indonesia," ujarnya.
 
 Sinergi itu, tambah Chairul, membutuhkan kontrak
 sosial baru sebagai 
 perwujudan komitmen bersama untuk maju. "Satu dimensi
 penting kontrak 
 sosial baru adalah kepastian hukum dan kepastian
 usaha. Untuk itu, 
 pemberantasan korupsi serta pembenahan sistem dan
 aparat penegak hukum perlu 
 dilanjutkan," tuturnya.
 
 Visi Indonesia 2030, menurut Chairul, hanyalah
 kerangka dasar yang 
 perlu ditanggapi dan diberi masukan oleh berbagai
 elemen bangsa lainnya. 
 
 Menanggapi kerangka dasar Visi Indonesia 2030 itu,
 Presiden SBY 
 menyatakan, "Saya punya keyakinan, 100 tahun ke depan
 kita bisa mewujudkan 
 cita-cita dan tujuan dalam Pembukaan UUD 1945. Mengapa
 kita perlu yakin? 
 Kalau lihat lintasan perjalanan sejarah kita, itu
 memungkinkan. Jika 
 kita ingin merekonstruksikan masa depan kita 100 tahun
 ke depan, mari kita 
 lihat perjalanan bangsa 100 tahun ke belakang. Dengan
 demikian, kita 
 paham perjalanan panjang sejarah untuk memiliki
 kemampuan dan ketangguhan 
 dalam mewujudkan cita-cita.”
 
 Menurut Presiden, Visi Indonesia 2030 itu bisa saja
 dianggap sebuah 
 mimpi, tetapi jangan malu dengan mimpi itu. "Sebab,
 bangsa yang besar 
 adalah bangsa yang mampu menciptakan mimpi dan
 mewujudkannya dalam 
 realitas," ujarnya. Ia menambahkan, Visi Indonesia
 2030 merupakan wujud 
 kesadaran dan kepedulian anak bangsa, untuk lebih
 memajukan dan 
 menyejahterakan seluruh rakyat. ***
 
 Satrio Arismunandar 
 Producer - News Division, Trans TV, Floor 3
 Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
 Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026, Fax: 79184627
 
 __________________________________________________
 Do You Yahoo!?
 Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
 http://mail.yahoo.com 
 
     
                       

       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

Kirim email ke