---------- Forwarded message ----------

SIARAN PERS 12 September 2007
Untuk disiarkan segera

Jawa Barat Akan Menambah Tempat Layanan Metadon

Berita KPA Jabar (12/9) – Untuk menekan tingkat penularan HIV/AIDS di
kalangan pengguna napza suntik, Provinsi Jawa Barat segera menambah tempat
layanan metadon. Diharapkan, hingga akhir tahun ini layanan metadon dibuka
di 5 kab/ kota di Jawa Barat, yaitu di Bekasi, Bogor, Cirebon, Tasikmalaya,
dan Sukabumi. Selain Kota Bandung, kelima daerah itu tercatat sebagai daerah
yang memiliki pengguna napza suntik tertinggi di Jabar. Demikian terungkap
dalam rapat kerja Pokja Harm Reduction Komisi penanggulangan AIDS (KPA)
Provinsi Jawa Barat di Ruang Rapat Basement Gedung Sate hari ini (12/9).

Kebutuhan untuk menambah layanan metadon di Jawa Barat cukup tinggi
mengingat sampai saat ini Jawa Barat baru memiliki satu tempat layanan
metadon, yakni di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dengan jumlah klien
mencapai 134 orang. Sementara estimasi jumlah pengguna napza suntik di Jabar
mencapai 27.000 orang.

Inang Winarso, Asisten Deputi Sekretaris KPA Nasional mengatakan bahwa KPA
Nasional mendukung sepenuhnya upaya KPA dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat
dalam memperluas layanan metadon ini.

"KPA Nasional menjamin sepenuhnya ketersediaan metadon. KPA Nasional sudah
membantu untuk pengadaan metadon. Sampai tahun 2008, total anggaran
sedikitnya Rp. 1 Milyar. Selain itu, KPA Nasional juga siap membantu
berbagai pelatihan dalam merealisasikan program ini," ujarnya menegaskan.

Inang Winarso juga menerangkan, dari kelima daerah yang akan membuka layanan
metadon itu, 3 kab/ kota sudah menyatakan kesiapannya. Yaitu Kota Bogor,
Sukabumi dan Cirebon. Sementara, untuk di Kota Bekasi dan Tasikmalaya masih
harus menentukan tempat yang tepat bagi pendirian layanan metadon ini.

Menurut Inang, di Bogor layanan metadon rencananya akan dibuka di 2
puskesmas yaitu di Bogor Tengah dan Bogor Timur. Untuk di Sukabumi, di RSUD
Syamsudin. Di Cirebon, layanan dibuka di RSUD Gunung Djati dan Puskesmas
Larangan.

Lebih jauh Inang Winarso juga berharap perluasan layanan metadon ini dapat
secara resmi dibuka pada saat peringatan Hari AIDS Sedunia yang setiap tahun
diperingati tanggal 1 Desember. "Sehingga, peringatan Hari AIDS tidak melulu
berupa perayaan yang seremonial sifatnya. Melainkan ada bukti nyata tanggung
jawab pemerintah dalam mengatasi HIV/AIDS," tandasnya.

Sementara itu, drs. H. Tio Indra Setiadi, sekretaris KPA Provinsi Jabar
beberapa waktu lalu pernah mengungkapkan bahwa pelayanan terapi rumatan
metadon perlu dikembangkan dengan membentuk satelit-satelit di kab/ kota
lainnya, di luar Kota Bandung. Menurut Tio, program metadon perlu
dikembangkan mengingat estimasi pengguna jarum suntik yang tinggi, mencapai
sekitar 27.000 di Jawa Barat. Jika harus menjangkau 10% saja dari jumlah
itu, maka ada 2700 orang yang perlu dijangkau.

Seperti diketahui, data Dinas Kesehatan Provinsi Jabar hingga Juni lalu
menunjukkan, dari 2.789 kasus HIV/AIDS di Jabar, sekitar 66 persennya
terjadi pada kalangan pengguna napza suntik. Hal ini terjadi akibat cukup
tingginya pertukaran jarum suntik di kalangan pengguna napza. Dengan
demikian program terapi rumatan metadon menjadi salah satu program yang
dijalankan untuk mengurangi tingkat penularan HIV di kalangan pecandu dan
pasangannya yang biasa menggunakan napza suntik, karena digunakan dengan
cara diminum di bawah supervisi medis.

----------------------------------------------------------
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi :

Tri Irwanda M, Media Relations Officer Komisi Penanggulangan AIDS (KPA)
Provinsi Jawa Barat
Jl. Diponegoro No. 20 Bandung
Telp. 08122038393
Email : [EMAIL PROTECTED] <irwanda_tri%40cbn.net.id>

----------------------------------------------------------
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jabar adalah lembaga yang bertugas
merumuskan kebijakan dan melakukan koordinasi dalam penanggulangan HIV&AIDS
di Jawa Barat.


HIV & AIDS bisa di cegah. HIV hanya MENULAR melalui hubungan seks tanpa
kondom, penggunaan jarum/ alat suntik yang tercemar virus HIV, dan dari ibu
ke anak. HIV&AIDS TIDAK MENULAR melalui jabat tangan, berciuman, menggunakan
peralatan makan/kerja bersama, berbagi ruangan, dan kontak sosial biasa.
----------------------------------------------------------
















































































-- 
~:ngadék sacékna, nilas saplasna:~
:.nu dipalar lain pamuji, panyepét nu dipénta!.:
datiparang.blog.com . deha.wordpress.com

Kirim email ke