Nu teu diajar ekonomi mah saena ulah maca pasti lieur. Ceuk sisindiran,  para 
ekonom mah seueur teuing asumsi, mun hese lumpatna kana ceteris paribus. 
Iraha sampurna? Ke mun B saluyu jeung P , hartina Hutang Tos Lunassss. 
salam
Jalak Pakwan
 
Makarya Mawa Raharja



----- Original Message ----
From: H Surtiwa <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, May 14, 2008 1:18:50 AM
Subject: [Urang Sunda] RAPBN, rek iraha sampurna na ???


Ieu aya sertan Muhamad maruf...anu teu asal nyos..alias borohol..tapi aya elmu 
finansial moneterna... .........
 
18 April 2008
Defisit Ganda Mengintai Kita 
Penggunaan pembiayaan defisit anggaran yang tidak produktif atau langsung 
mendorong kemampuan ekonomi berpotensi menimbulkan defisit ganda atau twin 
deficits. Yaitu, defisit APBN dan neraca pembayaran (balance of payment) yang 
terjadi dalam waktu bersamaan.

Situasi itu mencerminkan posisi suatu negara yang amat tergantung dari bantuan 
luar negeri. Sebab, status ini membuat siapapaun status negaranya membuatnya 
menjadi negara gali lobang tutup lobang dengan utang. Keluar dari kemelut 
defisit ganda mudah, tapi sangat pahit.

Menko Perekonomian Boediono pernah mengatakan, obat jangka pendek keluar dari 
situasi itu hanya satu, yakni memotong anggaran subsidi, dan itu pasti tidak 
disukai oleh rezim yang berkuasa. Dalam konteks ini, menurutnya ada tiga 
potensi pemicu defisit ganda bisa terjadi di Indonesia.

Ketiganya kesalahan arah kebijakan defisit APBN, nilai tukar rupiah dan neraca 
modal dalam neraca pembayaran. "Kalau tidak pas, ya ahirnya bisa ke sana. Tapi, 
khususnya kebijakan kurs dan capital account kita sekarang oke," katanya, 
baru-baru ini di Jakarta.

Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Prijambodo menuturkan, arah defisit 
yang salah seperti dipakai untuk belanja barang pemerintah, dan bukan untuk 
infrastruktur pendorong ekonomi, khususnya ekspor. Kemudian, arah kurs yang 
salah bila justru melemahkan nilai ekspor, dan pengelolaan neraca modal salah 
bila rentan terjadi pembalikan cepat dana asing atau redemption.

Defisit ganda yang dipicu defisit anggaran karena belanja mubazir dicontohkan 
Meksiko dan Argentina pada tahun 1990-an. Mereka menggelembungkan defisit 
dengan utang, untuk kegiatan tidak produktif ekonomi. Negara-negara ini, 
terjerembab karena salah besar arah kebijakan ekonomi politiknya.

Sementara Amerika Serikat yang mengalaminya sejak 2000 hingga sekarang 
menjadikannya contoh negara yang terkena defisit ganda akibat beban subsidi 
atau pembiayaan social security. Terlepas dari anggaran militer yang melonjak 
akibat invasi ke Irak, masalah mereka juga dipicu defisit neraca perdagangan 
serius, khususnya dengan China.

Membawa masalah ini ke dalam negeri, pada situasi pembengkakan defisit RAPBN 
Perubahan 2008--yang tanpa langkah pengamanan mencapai 4,2%-- akibat harga 
minyak dan pangan meroket, tampak risiko defisit ganda tengah mengintai 
Indonesia. Ini ditambah anomali, minyak mahal ditengah perekonomian dunia yang 
memang sedang melambat.

Singkatnya, ancaman itu bisa dimulai dari tujuan defisit RAPBN P 2008 sendiri. 
Menyimak alasan pemotongan 15% anggaran kementerian/ lembaga, dengan 
mengorbankan ongkos pejabat, dan kegiatan tidak produktif birokrasi tampak kita 
seperti AS. Apalagi, pemerintah sudah menegaskan bila harga minyak sekitar 
USD110 per barel, subsidi bisa melonjak hingga Rp300 triliun.

Posisi subdidi seperti dikemukakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati 
adalah beban dalam APBN. "Subsidi tidak produktif," katanya dalam rapat kerja 
dengan DPD, di Jakarta baru-baru ini. Menggelembungnya anggaran subsidi energi 
akibat harga minyak dunia, benar-benar telah menggerus ruang fiskal untuk 
mendorong perekonomian nasional.

Dengan pendapat ini, sangat beralasan kebijakan anggaran telah menjurus ke arah 
tidak produktif, karena tidak ada kaitan langsung dengan peningkatan membayar 
utang. Ini adalah, pemicu defisit ganda sebab menggerus peluang memperbesar 
dana anggaran produktif infrastruktur investasi dan belanja modal pemerintah 
lainnya.

Subsidi BBM juga beban karena sulit mengukur korelasi perbaikan daya beli 
masyarakat dengan besar anggaran yang digelontorkan. Ia memiliki hubungan 
dengan neraca modal, karena posisi Indonesia adalah net importir, bukan 
pengekspor BBM. Artinya, semakin besar volume subsidi, jumlah devisa tergerus, 
sehingga neraca pembayaran semakin tertekan.

Diambang Defisit
Selanjutnya, situasi perlambatan ekonomi dunia menghantui neraca pembayaran 
Indonesia dengan defisit. Seperti dipaparkan pemerintah dalam dokumen amanat 
presiden RAPBN 
Perubahan 2008, situasi dunia semakin tidak bersahabat.

"Pergerakan harga minyak... melambatnya pertumbuhan ekonomi dan volume 
perdagangan dunia, membawa pengaruh yang signifikan terhadap kinerja 
perdagangan luar negeri Indonesia".

Melesunya permintaan dunia berdampak serius terhadap neraca ekspor nonmigas, 
sehingga mengurangi perolehan cadangan devisa. Sebenarnya, nilai transaksi 
berjalan oleh ekspor bisa surplus devisa hingga USD31,4 miliar, tetapi defisit 
besar pada neraca jasa membuatnya hanya surplus USD8,7 miliar.

Ketergantungan terhadap forwarder asing mengangkut barang ekspor dan impor, 
serta maskapai domestik yang tidak laku dalam mengangkut para turis merupakan 
ancaman besar bagi defisit neraca pembayaran. Nilai defisit yang terus 
membengkak, tahun ini diperkirakan minus USD22,7 miliar perlu disikapi secara 
serius.

Memang, dalam estimasinya, neraca pembayaran tahun ini masih bisa surplus 
USD13,3 miliar. Selain sumbangan transaksi berjalan, diperkirakan karena neraca 
modal dan finansial yang surplus USD4,6 miliar. Kalkulasi pemerintah, itu dari 
penarikan utang luar negeri menjadi USD9,9 miliar dan melonjaknya arus uang 
panas di pasar uang sebesar USD3,5 miliar dari estimasi semula USD1 miliar.

Tetapi membanggakan diri dari surplus neraca pembayaran dengan kalkulasi itu 
jelas kurang bijak. Alasannya, sebab surplus neraca perdagangan hanya bertumpu 
pada ekspor nonmigas berbasis sumber daya alam, sehingga hanya kenikmatan 
sesaat.

Demikian pula, surplus neraca finansial yang mengandalkan aliran modal jangka 
pendek lewat lantai bursa berisiko tinggi. Seperti akhir-akhir ini diberitakan, 
pengumuman suku bunga acuan oleh The Fed , pada hari libur saja telah 
mengoreksi aliran modal asing di bursa. Apalagi, ada berita yang lebih 
mengejutkan di luar sana.

Selebihnya, penarikan utang luar negeri sebesar itu tidak bisa menyembunyikan 
membengkaknya cicilan utang luar negeri, yang menggerus devisa USD6,7 miliar 
tahun ini. Alhasil, ini adalah tutup lobang gali lobang, terlebih surplus utang 
jadinya sekitar USD2,3 miliar, itupun bukan untuk pembiayaan produktif, atau 
guna membayar subsidi. 

Pada akhirnya, tidak relevan lagi mempertanyakan apakah defisit APBN 2008 yang 
terus meroket membuat neraca pembayaran juga defisit. Sebab, tanpa itupun 
neraca kita sudah mengarah ke defisit, akibat komposisi yang tidak sehat.

Yaitu belum bisa menjadikan arus modal jangka panjang, ekspor produk industri 
sebagai penopang utama surplus neraca pembayaran. Yang terjadi, justru lonjakan 
dari tahun ke tahun defisit neraca jasa, dan menggelembungnya arus modal jangka 
pendek yang berpotensi menimbulkan bubble economy.

Apalagi, telah jelas bahwa kebijakan defisit saat ini bukan untuk ekspansi 
ekonomi, melainkan membiayai kegiatan tidak produktif. 
Defisit atau subsidi adalah ongkos politik menuju kursi RI-1 tahun 2009 yang 
berharga sangat mahal, dan semakin mempercapat defisit neraca pembayaran 
Indonesia... Selamat datang twin deficits!. (muhammad ma'ruf) 


      

Kirim email ke