Dimuat Kompas Jawa Barat rubrik Forum Rabu 11 Juni 2008, (poe ieu)

 

 

Museum "Kampung Sunda"

 

Oleh: Jamaludin Wiartakusumah

 

Selain museum berupa bangunan yang di dalamnya disimpan berbagai artefak
sesuai dengan tema atau nama museum, terdapat jenis museum yang disebut
"open air museum" atau museum terbuka. Disebut demikian karena bentuk museum
tersebut tidak hanya berupa suatu unit bangunan yang didalamnya disimpan dan
dipamerkan artefak budaya, tetapi sebagian besar museum jenis ini mengoleksi
berbagai bangunan tua.Biasanya dengan setting yang mengikuti lanskap masa
lalu tempat bangunan tersebut berada. Dengan begitu, museum terbuka ini
dapat juga disebut sebagai "museum bangunan".


Museum terbuka umumya menempatkan bangunan sebagaimana aslinya di lokasi
museum dengan cara memindahkan dari lokasi aslinya dengan membangunnya
kembali dengan utuh dan sedapat mungkin sesuai dengan keadaan di lokasi
asli. Keunikan lain dari museum jenis ini adalah adanya upaya untuk
menghidupkan koleksi museum dengan cara mempraktekkan kehidupan yang pernah
dijalani pada masa ketika masyarakat menghuni rumah model yang dikoleksi
museum tersebut.   

Berbagai kegiatan digelar menurut agenda yang sebagian besar melibatkan
pengunjung untuk serta berpartisipasi dalam setiap kegiatan di museum
terbuka tersebut. Pada beberapa museum terbuka, setiap bangunan dihuni oleh
satu unit keluarga atau lebih yang masing-masing melakukan model kehidupan
sesuai dengan konteks jaman ketika hunian tersebut dipakai. Mereka juga
bertindak sebagai pemandu bagi pengunjung baik dalam bentuk informasi maupun
dalam melakukan suatu kegiatan yang khas.

Museum jenis open air museum pertama kali muncul di kawasan Skandinavia pada
akhir abad 19 yaitu di dekat Olso Norwegia yang dibangun pada tahun 1881.
Museum ini merupakan koleksi Raja Oscar II dengan koleksi berupa 8 hingga 10
bangunan yang diambil dari berbagai wilayah di Norwegia. Masing-masing
bangunan menunjukkan evolusi bangunan tradisional Norwegia sejak Abad
Pertengahan. Dengan menggunakan model museum terbuka di Oslo diatas, pada
1891, Artur Hazelius membangun museum terbuka Skansen di Stockholm Swedia
yang kemudian menjadi sangat terkenal. Musem Skansen ini kemudian menjadi
model museum terbuka yang dibangun berikutnya di seluruh Eropa Utara dan
Timur dan juga di bagian lain dunia. Nama "Skansen" kemudian juga menjadi
istilah yang mengacu pada open air museum dan koleksi arsitektur historis,
terutama di Eropa tengah dan timur.

Pada tahun 1997, saya berkesempatan mengunjungi Frilandmuseet, yaitu museum
terbuka di Denmark. Museum terbuka ini adalah yang  terbesar dan salah satu
yang tertua di dunia berada di Kongens Lyngby (baca: Lungbu), di utara
Kopenhagen dengan luas sekitar 40 hektar. Museum ini pertama kali dibangun
pada 1897 dan pada 1901 dipindahkan ke tempatnya sekarang. Museum tersebut
menampung 50 lahan pertanian, kincir angin dan sekitar 100 berbagai bentuk
rumah pada periode 1650 hingga 1950. Model rumah yang dikoleksi berasal dari
berbagai tempat di Denmark termasuk bekas wilayah Denmark yang sekarang
masuk wilayah Swedia dan Jerman.

 

Museum terbuka ini umumnya dilengkapi oleh pemandu yang berpakaian
tradisional yang pada waktu-waktu tertentu mendemonstrasikan pekerjaan zaman
dulu seperti menenun, menyulam dan pembuatan peralatan memancing kepada
pengunjung yang juga diajak ikut serta melakukan berbagai kegiatan tersebut.
Dewasa ini museum terbuka tersebar di hampir setiap negara di seluruh dunia.
Menurut Wikipedia, di Eropa sendiri terdapat sekitar 250 museum terbuka
dalam skala nasional dan regional atau wilayah yang lebih kecil.  Di Amerika
sekitar 27 museum terbuka, di Kanada 16, di Afrika terdapat di Kairo Mesir
yang menggambarkan perkampungan zaman Fir'aun.

 

"Kampung Sunda" 

Dari keberagaman model hunian tradisonal Sunda yang sebagian berada di
berbagai kampung adat yang tersebar mulai dari Kampung Kuta Ciamis Jawa
Barat hingga Kanekes (Baduy) di Lebak Banten, budaya hunian masyarakat Sunda
tradisional memiliki potensi untuk dikumpulkan dalam suatu kawasan dalam
bentuk museum terbuka. Dalam konteks lokal Indonesia, istilah open air
museum sangat mungkin diadopsi ke dalam bahasa lokal, misalnya museum
terbuka "Kampung Sunda" dengan nama populer "Kampung Sunda". 

 

Koleksinya terdiri dari berbagai rumah asli atau bangunan khas diambil dari
seluruh wilayah budaya Sunda, baik yang berada di kampung adat atau wilayah
lain di luar kampung adat dengan kriteria rumah tradisional yaitu dengan
ciri utamanya berupa desain vernakular yang merepresentasikan suatu
komunitas Sunda di suatu wilayah.  Dengan begitu, Museum "Kampung Sunda"
adalah kompleks atau kawasan yang mengoleksi dan memamerkan serta
'menghidupkan' berbagai bentuk hunian tradisional (arsitektur vernakular)
asli masyarakat Sunda. 

 

Unsur yang tidak kalah penting dari Museum "Kampung Sunda" tersebut adalah
kondisi lingkungan tempat asal setiap model hunian harus dapat diwujudkan di
sekitar rumah tersebut. Kondisi aslinya ini akan memberi atmosfer yang
memberi gambaran sesungguhnya tentang keberadaan rumah tradisional tersebut.
Sarana seperti jalan setapak, sawah, huma, kolam, leuit dan sarana lain yang
umumnya terdapat di suatu kampung tradisional Sunda. Hal ini menyangkut pada
mata pencaharian utama suatu komunitas tradisional termasuk keberadaan pohon
kawung mengingat sebagian mata pencaharian masyarakat tradisional adalah
penyadap pohon kawung untuk dibuat gula aren (gula merah dari pohon kawung).


 

Lokasi

Lokasi Museum "Kampung Sunda" ini sebaiknya di sekitar Kota Bandung sebagai
ibukota Provinsi Jawa Barat yang juga dianggap sebagai puseur budaya
Sunda.Untuk merepresentasikan kawasan asli rumah-rumah adat atau rumah
tradisional Sunda, lokasi Museum "Kampung Sunda" harus disesuaikan dengan
karakteristik khas lingkungan umumnya rumah tradisional sebagaimana di
habitat aslinya yaitu di dataran tinggi atau pegunungan. 

 

Jatinangor atau Ujung Berung barangkali lokasi yang potensial. Tentu dengan
juga mengakomodasi habitat asli rumah tradisional dari kawasan pantai utara
dan selatan.

            

Selain rumah-rumah tradisional dari berbagai lokasi di dalam habitat budaya
Sunda, Museum "Kampung Sunda" dilengkapi dengan hotel berjenis resor dengan
arsitektur persis seperti rumah antik yang dikoleksi. Pengunjung
dimungkinkan dapat mengikuti dan menjalani berbagai kegiatan yang ada dan
dilakukan sebagaimana di kampung adat termasuk menjalani kehidupan
berdasarkan tradisi di masing-masing kampung adat. 

 

Sarana pendukung lain adalah tempat pertunjukkan kesenian tradisional yang
dibuat dalam konteks aslinya dan tentu saja toko suvenir yang menjual produk
budaya khas dari rumah antik Sunda tersebut berasal. 

            

Jamaludin Wiartakusumah

Dosen Desain Itenas

 

 

 

 

 

Kirim email ke