---------- Forwarded message ----------
From: Rahman <[email protected]>
Date: 2009/7/2
Subject: [Baraya_Sunda] Re: Udud surudud deui bae?
To: [email protected]



Rokok
70 Persen Perokok Menengah Bawah
Rabu, 1 Juli 2009 | 03:48 WIB

Jakarta, Kompas - Saat ini lebih dari 70 persen dari 60 juta perokok
di Indonesia adalah mereka yang berasal dari golongan ekonomi menengah
ke bawah.

"Ada lingkaran setan antara merokok, kemiskinan, malanutrisi, dan
kebodohan. Anak-anak juga menjadi korban. Rokok itu pintu gerbang
kehancuran bangsa," kata mantan Menteri Kesehatan Prof Farid Anfasa
Moeloek saat peluncuran buku berjudul Tembakau: Ancaman Global di
Jakarta, Selasa (30/6).

Buku yang diterjemahkan dari karya John Crofton dan David Simpson ini
disunting oleh Muherman Hasan, dokter ahli paru- paru. John Crofton
adalah tutor dari Muherman Hasan selama 20 tahun untuk upaya
pemberantasan tuberkulosis (TB).

Kini konsumsi rokok di Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia
setelah China dan India. Semula Indonesia nomor lima. Tidak heran jika
lebih dari 60 juta orang membelanjakan uangnya untuk membeli rokok.
Mereka rata-rata menghabiskan 11 batang rokok per hari.

Secara nasional belanja bulanan untuk rokok pada keluarga perokok
menempati urutan terbesar kedua (9 persen) setelah beras (12 persen).

Yang lebih memprihatinkan, dari Survei Sosial Ekonomi Nasional
(Susenas) 2006, kelompok keluarga miskin terbukti mempunyai proporsi
belanja rokok yang lebih besar (12 persen) daripada kelompok terkaya
yang hanya 7 persen.

"Belanja bulanan rokok pada keluarga miskin tahun 2006 setara dengan
15 kali biaya pendidikan dan sembilan kali biaya kesehatan. Jumlah
tersebut setara dengan 17 kali pengeluaran untuk daging, dua kali
lipat untuk membeli ikan, serta lima kali lipat untuk beli susu dan
telur," kata Tulus Abadi, anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga
Konsumen Indonesia (YLKI).

Survei tahun 1999-2003 pada lebih dari 175.000 keluarga miskin di
perkotaan menunjukkan, tiga dari empat kepala keluarga (78,8 persen)
adalah perokok aktif. Belanja mingguan membeli rokok menempati
peringkat tertinggi (22 persen), jauh lebih besar daripada pengeluaran
makanan pokok beras (19 persen). Sementara itu, pengeluaran untuk
telur hanya 3 persen dan ikan hanya 4 persen.

Perilaku merokok kepala rumah tangga berhubungan erat dengan gizi
buruk, yaitu prevalensi anak sangat kurus, berat badan rendah, dan
anak sangat pendek.

"Studi sejenis pada 2000-2003 pada lebih dari 360.000 rumah tangga
miskin di perkotaan dan pedesaan membuktikan kematian bayi dan anak
balita lebih tinggi pada keluarga yang orangtuanya merokok daripada
yang tak merokok," ujar Tulus. (LOK)


Share on Facebook



------------------------------------

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]Yahoo! Groups Links



Kirim email ke