Saya sudah pernah baca cerita ini tapi saya tetap berterimakasih 
karena diingatkan kembali.

Walaupun saya ini bukan orang tua teladan tapi kalau anak saya minta 
dimandikan, selalu saya usahakan walaupun lelah. Bagi saya, itu 
suatu kemewahan. Anak saya laki-laki umur 6 tahun kadang saya 
mandikan atas permintaan saya sendiri. Saya bayangkan sebentar lagi 
ketika badannya mulai berotot, mulai berkumis tipis, maka hilanglah 
kesempatan saya untuk membelai-belainya.

Repotnya, anak saya perempuan yang 9 tahun kadang juga minta 
dimandikan karena iri. Wah, kalau yang ini terpaksa saya tolak tapi 
permintaan untuk digendong di pundak masih bisa saya penuhi :-)).

Yas



--- In [email protected], satriyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Tulisan ini sempat beredar di berbagai milis. Sampai ada seorang 
bapak
> anggota pengajian di tempat saya, yang nangis membaca tulisan ini.
> Sumber aslinya dari milis Imsa-Sister.
> 
> Ummu Ghozie or teh Ema kalau menulis bukan hanya sekedar 
curhat...tapi penuh
> hikmah dan ajaran Islam
> 
> Assalamu'alaikum wr.wb.
> 
> Bincang-bincang soal pembagian tugas suami-isteri, selalu saja 
menarik.
> Sepanjang masa berbagai argumen dikemukan, tidak sedikit para 
ustadz dan
> ulama urun rembug memberikan arahan dan fatwa. Selama itu pula, 
sepertinya
> ada saja fenomena yang pantas untuk diungkap.
> Sebagian akhwat menganggap tugas wanita lebih sebagai manajer di 
rumahnya
> tanpa perlu dipusingkan urusan dapur dan  merawat anak yang lebih 
pantas
> dilakukan oleh para bawahan, alias pembantu ataupun baby-sitter.
> Peran sosial dan aktualisasi diri menjadi lebih utama. Di sisi 
lain, tidak
> sedikit akhwat yang tetap "teguh" dan bangga dengan kesibukan 
seputar urusan
> dapur dan diaper ini. Mereka cukup puas dengan imbalan surga untuk 
jerih
> payahnya membenamkan muka di asap "sauna" mazola (minyak goreng) 
dan
> berparfumkan aroma popok bayi.
> Saya tidak hendak membahas kekurangan dan kelebihan kedua sisi 
ini. Seperti
> saya tulis di muka, sudah banyak para ulama dan ustadz yang 
memberikan
> arahan.
> Saya hanya ingin bertutur tentang seorang sahabat saya. Sebut saja 
Rani
> namanya. Semasa kuliah ia tergolong  berotak cemerlang dan memiliki
> idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah 
jelas :
> meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang 
profesi
> yang akan digelutinya. Ketika Universitas mengirim kami
> untuk mempelajari Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, di 
negerinya
> bunga tulip, beruntung Rani terus melangkah. Sementara saya, lebih 
memilih
> menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk 
hukum dan
> perundangan.  Beruntung pula, Rani mendapat pendamping 
yang "setara " dengan
> dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
> Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru  saja diangkat 
sebagai
> staf  Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. 
Konon nama
> putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah "alif" dan 
huruf
> terakhir "ya", jadilah nama yang enak didengar : Alifya.  Tentunya 
filosofi
> yang mendasari pemilihan nama ini seindah namanya pula.
> Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, 
kesibukan Rani
> semakin menggila saja. Frekuensi terbang  dari satu kota ke kota 
lain dan
> dari satu negara ke negara lain makin meninggi.
> Saya pernah bertanya , " Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk 
ditinggal ?"
> Dengan sigap Rani menjawab : " Saya sudah mempersiapkan segala 
sesuatunya.
> Everything is ok."
> Dan itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya 
walaupun
> lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan. 
Alif tumbuh
> menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian. Kakek neneknya 
selalu
> memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang  ibu-
bapaknya.
> " Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti." Begitu selalu 
nenek
> Alif, ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. 
Tidak
> salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang 
berhasil
> dalam bidang  akademis dan pekerjaannya.
> Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. 
Waktu itu
> Ia dan suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa 
kesibukan mereka
> belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif.  
Lagi-lagi
> bocah kecil ini "dapat memahami" orang tuanya.
> Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau 
kedua
> orang tuanya  pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Kisah Rani, 
Alif
> selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan.
> Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang 
bahagia, pikir
> saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. 
Diam-diam
> hati kecil saya menginginkan anak seperti Alif.
> 
> Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif 
menolak
> dimandikan baby-sitternya. " Alif ingin bunda mandikan." Ujarnya.  
Karuan
> saja Rani yang  dari detik ke detik waktunya sangat 
diperhitungkan, menjadi
> gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi 
dengan tante
> Mien, baby-sitternya. Persitiwa ini berulang sampai hampir 
sepekan," Bunda,
> mandikan Alif?" begitu setiap pagi. Rani dan suaminya berpikir, 
mungkin
> karena Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya 
agak minta
> perhatian.
> 
> Suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. " Bu 
dokter,
> Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency".  Setengah 
terbang,
> saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya 
rencana lain.
> Alif, si Malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya. Rani, bundanya
> tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan  kantor 
barunya,shock
> berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah 
memandikan
> anaknya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil 
terbaring
> kaku.
> " Ini bunda, Lif. Bunda mandikan Alif." Ucapnya lirih, namun 
teramat pedih.
> Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih 
berdiri
> mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, " 
Ini sudah
> takdir, iya kan ? Aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, 
kalau sudah
> saatnya, dia pergi juga kan ? ". Saya diam saja mendengarkan. " Ini
> konsekuensi dari sebuah pilihan." lanjutnya lagi, tetap tegar dan 
kuat.
> Hening sejenak.  Angin senja berbaur aroma kamboja. Tiba-tiba Rani
> tertunduk. " Aku ibunya !" serunya  kemudian, "Bangunlah Lif. 
Bunda mau
> mandikan Alif. Beri kesempatan bunda sekali lagi saja, Lif". 
Rintihan itu
> begitu menyayat.  Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-
kais tanah
> merah ?..
> 
>              ***
> Sekali lagi, saya tidak ingin membahas  perbedaan sudut pandang 
pembagian
> tugas suami isteri.
> Hanya saja, sekiranya si kecil kita juga bergelayut :
> " Mandikan aku, Bunda ." Akankah kita menolak ? Ataukah menunggu 
sampai
> terlambat ?
> Wassalam,
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/aYWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:[email protected]
Berhenti mailto:[EMAIL PROTECTED]
Milis Keluarga Sejahtera mailto:[email protected]
Milis Anak Muda Islam mailto:[email protected]

This mailing list has a special spell casted to reject any attachment .... 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke