http://www.indomedia.com/bpost/122006/14/opini/opini1.htm

      Kasih Ibu Menuai Berkah, Kesetaraan Gender Menebar Lara

      Perempuan di Kalsel sebenarnya sejak dulu aktif sebagai pekerja baik 
petani, pedagang, perajin rumahan (home industry) dan lainnya.

      Oleh: Mia Endriza Yunita SP



      Satu tahun lalu, New York Times terbit dengan artikel yang lumayan 
mengejutkan pembacanya. "Many Women at Elite Colleges Set Career Path to 
Motherhood," terpampang jelas sebagai judul artikel tersebut. Walaupun Betty 
Friedan dalam bukunya The Feminine Mystique justru dengan 'jahatnya' menulis, 
"[V]acuuming the living room floor - with or without makeup - is not work that 
takes enough thought or energy to challenge any woman's full capacity.( 
menyedot debu pada lantai rumah --dengan atau tanpa make up-- tidaklah berarti 
apa-apa bahkan tidak memberikan tantangan pada keberdayaan perempuan).

      Pendek kata, ibu rumah tangga adalah sebuah aktivitas bagi perempuan yang 
tidak produktif, tidak mandiri dan tidak berdaya. Namun, Maureen Dowd, penulis 
'Are Men Necessary: When Sexes Collide' pada Sunday's Times Magazine begitu 
pula Judith Warner yang dikenal dengan tulisan perfect madness-nya 
memproklamasikan telah terjadi 'keruntuhan feminisme'. Sebenarnya simple saja 
mengapa hal ini terjadi. Linda Hirshman dari The American Prospect menyimpulkan 
dari penelitiannya bahwa pada agenda pemberdayaan perempuan, pejuang jender 
mengalami kegagalan yang amat telak (http://www.alternet.org/story/28621). Has 
feminism failed? Wallahu'alam.

      Di Indonesia, kasih ibu tengah bertarung dengan gencarnya arus 
liberalisasi yang digaungkan dengan nama mentereng: kesetaraan gender. Kini, 
sisi perempuan sebagai ibu rumah tangga tidak lagi membuat bangga mereka. 
"Kerjaannya apa bu?" "Ah, cuma ibu rumah tangga biasa, mengasuh anak, 
bersih-bersih rumah, masak, sambil ai menggani'i abahnya bahuma. Biasalah."

      Aktivitas pemberdayaan perempuan membuat ibu rumah tangga terperangah dan 
terkagum-kagum. Melalui slogan ketertindasan dan bangkit melalui pemberdayaan 
perempuan, ibu rumah tangga ini seakan tersadar bahwa yang mereka lakukan di 
rumah bukanlah aktivitas yang berharga. Justru mereka baru sadar tengah 
tertindas oleh budaya dan tradisi yang mengultuskan patriarkis dan agama yang 
bias gender. Akhirnya slogan kemandirian perempuan membuat ibu rumah tangga 
berlomba menjadi perempuan pekerja dan karir, dengan memasuki lapangan kerja 
yang memang telah disetting sedemikian rupa yaitu memberi kesempatan yang sama 
kepada pria dan perempuan.

      Kini, seorang perempuan tidak saja berprofesi sebagai pembantu rumah 
tangga, namun menjadi tenaga kerja wanita (TKW), buruh tani dan pabrik, pegawai 
swasta hingga pegawai negeri sipil (PNS). Selanjutnya bisa ditebak, dengan 
slogan kemandirian perempuan plus terjepit dalam masalah keuangan, perempuan 
pun terjun ke dunia kerja berkompetisi dengan pria. Hingga akhirnya masalah 
rumah tangga menjadi tanggung jawab suami yang tidak bekerja, atau pembantu 
yang digaji karena baik suami maupun istri sama-sama fight (berjuang) mencari 
nafkah.

      Perempuan di Kalsel sebenarnya sejak dulu aktif sebagai pekerja baik 
petani, pedagang, perajin rumahan (home industry) dan lainnya. Jadi, agenda 
pemberdayaan perempuan sebenarnya telah terlaksana. Namun sebagai perempuan 
yang memiliki the women sense, mereka tetap mengurusi rumah tangganya. Sayang, 
kepedulian mereka terhadap rumah tangga dianggap sebagai sebuah ketertindasan 
bagi pejuang jender. Bisa ditebak, agenda pejuang jender berikutnya adalah 
membebaskan perempuan pekerja dari tanggung jawab rumah tangganya.

      Sebenarnya, kesetaraan antara perempuan dan pria tidak dapat diwujudkan 
dengan mulus. Karena, pada dasarnya pria dan wanita telah diciptakan 'berbeda' 
sesuai kodrat. Budaya serta tradisi bukanlah pembentuk perempuan menjadi 
keibuan, namun memang dari hormonal sendiri perempuan telah memiliki peran 
keibuan. Ia bisa haid, hamil, melahirkan, menyusui juga mengasuh anak-anaknya. 
Begitu pula pria, dengan sistim hormonnya menjadikan ia kebapakan. Allah 
sedemikian rupa memberikan perbedaan ini agar antara pria dan perempuan saling 
melengkapi dengan fungsi masing-masing. Bukan untuk mencapai sebuah persamaan 
fungsi, hingga menafikan kodrat sebagai pria dan perempuan.

      Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, seorang perempuan berkata 
kepada Rasulullah SAW: "Ya Rasulullah, sesungguhnya bagi anak laki-lakiku ini, 
perutkulah yang menjadi bejananya, lambungku menjadi pelindungnya dan tetekku 
yang menjadi minumannya. Kemudian bapaknya menceraikan aku dan bermaksud 
memisahkannya denganku." Rasulullah menjawab: "Engkau lebih berhak terhadapnya, 
selama engkau belum kawin dengan orang lain." (HR Ahmad, Abu Dawud, Baihaqi, 
Hakim).

      Hadist ini mengisyaratkan, perempuan memiliki tanggung jawab dalam 
ahkamuul wiladah (hukum melahirkan), ahkamuul radhaa'ah (hukum persusuan), 
ahkaamul hadhaanah (hukum pengasuhan anak). Semua hukum tersebut khusus 
diperuntukkan bagi perempuan. Tidakkah Anda lihat Allah begitu menyayangi dan 
memuliakan perempuan yang Ia ciptakan. Sayangnya, pejuang gender menudingnya 
sebagai agama yang bias gender.

      Sistem hidup yang bias gender dan patriarkis serta tampilnya perempuan 
tertindas, membuat ide kesetaraan jender menyeruak dalam kehidupan. Ide ini 
memberikan kesempatan kepada pria dan perempuan untuk terjun ke sektor publik 
dan domestik, tanpa pengecualian sesuai kodrat. Bahaya dari ide kesetaraan 
gender ini justru lambat laun menyeret pria dan perempuan yang notabene muslim, 
ikut serta kepada aturan hidup yang tidak islami. Atas nama kesetaraaan gender, 
perempuan tidak taat lagi pada sang suami, banyak perempuan berani mengajukan 
cerai karena hal sepele, perempuan pun berkarir dengan melalaikan tanggung 
jawabnya sebagai ibu, merebaknya fenomena unweeding and no married serta 
aborsi. Indonesia menjadi pembebek dari liberalisasi !

      Kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut, maka keluarga muslim akan hancur 
lebur karena tidak lagi memiliki ibu yang care kepada keluarganya. Perempuan 
pun akhirnya emoh dan enggan akibat termakan arus utama gender yang memaknai 
aktivitas ibu rumah tangga bukan lagi sebuah aktivitas mulia, namun pertanda 
kemunduran dan ketidakberdayaan bagi perempuan. Inikah yang Anda inginkan?

      Wallahu'alam bish shawab.

      e-mail: [EMAIL PROTECTED]
     
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke