RIAU POS
Jumat 15 Desember 2006
Setujukah Wanita Diduakan?
Setelah membaca opini yang ditulis Amad S Udi yang berjudul Antara Aa Gym
dan YZ (Yahya Zaini) dan juga membaca tulisan Ir Muhammadun dengan judul
Syariat Dikutuk, Zina Dianggap Angin Lalu di Riau Pos Jumat (8/12) lalu, hati
saya tergelitik untuk menanggapinya dari sisi seorang perempuan. Karena kedua
opini tersebut ditulis oleh laki-laki yang tentu saja penulisannya tidak
menyentuh permasalahan perempuan yang terkena dampak akibat poligami yang
dilakukan laki-laki. Tidak dapat dipungkiri, kita memang tidak bisa
membandingkan antara Aa Gym dengan YZ. Apa yang dilakukan oleh Aa Gym
dibenarkan oleh agama Islam. Malah Islam membenarkan seorang laki laki beristri
sampai empat. Sementara yang dilakukan oleh YZ dan Maria Eva adalah perbuatan
maksiat.
Di sini, saya tidak akan mengupas dari sisi agama. Karena saya bukanlah
seorang yang ahli agama, dan juga agama bukanlah suatu hal yang boleh dijadikan
sebagai suatu polemik. Mengapa ribuan SMS yang datang kepada SBY dan Ibu
negara? Yang berkemungkinan mayoritas berasal dari perempuan? Saya yakin
perempuan-perempuan yang SMS Pak SBY dan Ibu negara tersebut bukannya tidak
tahu tentang surat Annisa ayat 3 yang memperbolehkan laki-laki menikahi
perempuan sampai empat. Tetapi, letak permasalahan adalah hati, yakni perasaan.
Dari kedua opini yang saya baca tidak ada satupun yang menyentuh masalah ini.
Yang diungkapkan hanya syariat agama. Perempuan itu bukan hanya seonggok
daging, tulang dan darah. Ada suatu hal yang sering diabaikan oleh laki-laki,
yaitu hati dan perasaannya.
Hal ini sesuai apa yang diungkapkan Drs Inu Kencana Syafire dalam bukunya
Filsafat Kehidupan, yaitu sedemikian sempurnanya manusia diciptakan oleh
Alkhalik sehingga selain jasmani dilengkapi pula dengan jiwa. Jiwa inilah yang
memiliki emosi yang terwujud dalam berbagai rasa seperti senang, duka, sedih,
kecewa, frustasi, cinta, kesal, sayang, dan sebagainya. Atau sesuai dengan yang
dikemukakan Prof Dr Sarlito Wirawan dalam bukunya Berkenalan dengan
Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, menyebutkan jiwa sebagai soul, mind,
atau spirit. Alangkah tercabik-cabiknya perasaan seorang istri apabila suami
yang sangat dicintai, membagi cintanya dengan perempuan lain. Saya teringat
dengan bekas tetangga saya yang suaminya kawin lagi. Hampir setiap hari
berkunjung ke rumah saya dan kadang kadang menelepon, dia selalu menangis
sambil menceritakan hagaimana perasaannya karena di duakan oleh suami. Betapa
jijiknya dia, waktu melayani suaminya karena dia tau itu adalah bekas wanita
lain. Tapi dia tidak bisa berbuat apa apa, karena merasa hidupnya dan hidup
anak anaknya hanya tergantung kepada suami. Hati saya ikut ''berdarah''
mendengarnya. Saya tidak bisa membayangkan kalau hal tersebut terjadi kepada
saya. Apakah saya sanggup menerimanya? Kejadian tersebut bukan hanya menimpa
bekas tetangga saya. Ada ribuan perempuan perempuan malang yang hatinya terus
terluka dan berdarah karena poligami yang dilakukan suami.
Sekarang timbul pertanyaan dalam benak kita, mengapa sang istri yang
dimadu merasa hatinya terkoyak, tak berharga, martabatnya diinjak injak kaum
lelaki? Tentu ada indikator yang jelas yang dilakukan kaum lelaki tersebut.
Kita dapat menyebutkan beberapa indikator tersebut, yaitu perempuan istri kedua
atau ketiga tersebut tentu lebih muda, lebih cantik, lebih tinggi
pendidikannya, dan sebagainya dengan kata lebih tersebut. Saya yakin kalau sang
suami menikahi perempuan yang terlantar, lebih tua, lebih jelek dari istri
pertama, itulah baru kita mengucapakan salut kepada lelaki tersebut yang telah
menyelamatkan sebagian perempuan yang lemah dan dalam keadaan yang sulit untuk
menemukan jodoh. Jangan berlindung dengan perbuatan Rasululah yang mempunyai
beberapa istri. Lihatlah betapa Aisyah sangat cemburu dengan Khadijah walaupun
beliau sudah wafat. Siapakah kebanyakan dari istri Rasullah? Adalah para janda
yang tua yang suaminya gugur dalam berperang bersama Rasulullah.
Wah, saya rasa tentu kita mengetahui siapa istri istri kedua, ketiga,
keempat dari publik figur kita seperti Aa Gym. Hamzah Haz. Komar, Bung Karno?
Tentu menunjukkan indikator lebih yang saya ungkapkan di atas. Atau seorang
perempuan sudah memanfaatkan peluang tersebut. Daripada menikah dengan seorang
perjaka dan mengantarkan suami dengan susah payah menggapai kesuksesan. Eee..
tahu tahu mereka juga berselingkuh atau kawin lagi. Lebih baik langsung menjadi
istri kedua orang kaya terpandang dan menompang tenar?
Saya mengacungkan jempol terhadapap keputusan penyanyi senior Dewi Yul.
Dia dengan perempuan lain. Waktu dia berkunjung ke daerah saya, saya pernah
menanyakan hal tersebut. Mbak Dewi, kenapa harus mengalah? Kenapa tidak
berusaha mempertahankan suami untuk tetap menjadi milik Mbak? Dia menjawab,
bahwa suami itu adalah titipan Allah, dia bisa diambil oleh Allah lewat jalan
tsunami, gempa bumi, sakit atau dengan jalan memindahkan hatinya ke hati wanita
lain. Kata kata Mbak Dewi Yul itu terus terpatri di hati saya.
Selanjutnya kenapa perhatian SBY dan Ibu negara lebih tersedot ke hal
poligaminya Aa Gym dan bukannya kasus tak senonohnya YZ dengan ME? Saya tidak
akan mengupas dari sisi politik, meskipun saya adalah orang politisi. Mungkin
SMS yang masuk lebih banyak seputar itu. Fenomena yang saya lihat selama ini,
sosok Aa Gym ini diidolakan ibu-ibu, kaum perempuan. Bisa kita saksikan di
layar kaca, pengajian pengajian Aa Gym umumnya dihadiri kaum ini. Benar juga
seperti yang diungkapkan oleh Ir Muhammadun bahwa Aa Gym selama ini lebih
banyak menyentuh aspek qolbu (hati) daripada masalah syariat (hukum). Menurut
saya aspek yang digeluti oleh Aa Gym tersebut merupakan aspek yang diminati
oleh perempuan. Jadi perempuan perempuan sangat mengidolakan Aa Gym. Maka,
begitu tersiarnya berita bahwa Aa Gym menikah lagi, meskipun diizinkan oleh
istri pertamanya, banyak perempuan perempuan kecewa. Karena umumnya perempuan
kalau menyikapi sesuatu selalu membawakan kepada dirinya. Mereka sedih, mereka
kecewa, kalau kasih sayang, cinta suaminya terbagi dengan perempuan lain.
Mereka selama ini sudah menempatkan Aa Gym di tempat yang istimewa di hatinya.
Mungkin tak pernah terbersit di hati mereka bahwa Aa Gym akan melakukan hal itu.
Sekarang, mengenai kasus YZ dengan ME, saya sependapat dengan saudara
Ahmad S Udi. Saya juga menilai Maria Eva itu ''sakit''. Kelihatanya dia
menikmati ketenarannya saat ini. Akibat perbuatan dosa yang dilakukannya, di
setiap penampilannya, dia sering ketawa ketiwi, tanpa ada rasa malu sedikitpun.
Padahal. dia melakukan perbuatan dosa yang dikutuk agama apapun di dunia ini.
Hari harinya sekarang ini sangat padat dengan mengikuti talk show dari bermacam
macam stasion TV. Dia tampil bak selebritis papan atas. Siapakah Maria Eva
selama ini? Tidak banyak yang kenal siapa dia. Saya pikir dia memanfaatkan
situasi ini untuk menjadi populer. Mungkin, dia berharap, sebentar lagi dia
akan menjadi pemain sinetron dan dunianya semakin gemerlap. Tapi, kenapa kasus
seperti yang dilakukan oleh YZ dan Maria Eva ini seolah olah terabaikan? Itu
bukan berarti para kaum perempuan membenarkan suaminya berselingkuh dengan
perempuan lain. Bukan berarti bahwa perempuan lebih rela suaminya berselingkuh
daripada kawin secara sah sesuai dengan hukum agama, umumnya seorang perempuan
adalah seorang mahkluk yang egois. Mereka tidak akan mau berbagi suaminya
dengan perempuan manapun. Dengan perempuan yang sekaliber dengan istri muda Aa
Gym ataupun dengan perempuan seperti Maria Eva. Itu terjadi karena ketokohan Aa
Gym dan menempatkan Aa Gym di tempat tempat terhormat di hati para kaum
perempuan. Sementara itu siapa YZ? Saya selama ini belum pernah mendengar
gaungnya sebelum dia diekspos dengan kasus perzinahan. Di sini saya mengimbau
kepada pemerintahan SBY-JK, kami kaum perempuan mengharapkan yang diatur oleh
undang undang bukan hanya UU perkawinan tapi juga dibuatkan undang undang yang
bisa memberikan sangksi kepada seseorang yang ketahuan melakukan tindakan
perzinahan.
Permasalahan ini membuat saya teringat dengan kutipan sajak Khairil Anwar
yang menggambarkan seorang lelaki tidak mau cintanya terbagi. ''Aku tahu kau
bukan yang dulu lagi/Kalau kau mau kuterima kembali/untuk ku pasti/ sedangkan
dengan cermin aku enggan berbagi''. Saya yakin perempuan pun begitu.***
Elna Murti SPd, anggota Komisi A DPRD Kabupaten Siak.
[Non-text portions of this message have been removed]