http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=7943
Sabtu, 30 Des 2006, Berkunjung ke Kantong-Kantong Para TKW di Hongkong (1) Ganti Nama Benny, Ibu Dua Anak Pilih Jadi Lesbian Selain menyumbang devisa yang cukup besar bagi negara, banyak tenaga kerja wanita asal Indonesia yang bekerja di Hongkong depresi karena perbedaan budaya. Berikut laporan SHOLIHUDDIN yang baru pulang dari Hongkong. VICTORIA Park masih menjadi tempat favorit bagi ribuan tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia saat libur. Karena itu, saat berada di sana Minggu (24/12), suasana taman tersebut terasa seperti di tanah air. Banyak wajah khas Jawa. Komunikasi di antara mereka pun tidak menggunakan bahasa Canton (bahasa keseharian warga Hongkong), tapi bahasa Indonesia. Bahkan, tidak sedikit yang berbahasa Jawa khas Jawa Timur-an. Mereka tampak menggelar tikar di lapangan. Ada yang sedang makan, mengobrol, bernyanyi, dan berjoget. Sebagian lagi membaca dan sibuk berbelanja aneka barang. Di Victoria Park memang ada pasar mendadak. "Monggo Mas, nderek cangkrukan sareng-sareng dedaharan (mari Mas ikut duduk makan bersama)," kata Tuminah, TKW asal Malang, sambil menawarkan lontong balap kepada Jawa Pos. Victoria Park terletak di Causeway Bay. Victoria merupakan bagian dari distrik Eastern, berbatasan dengan distrik Wan Chai. Pelabuhan Victoria berada di sebelah utara taman. Perpustakaan kota berada di sebelah selatan. Taman tersebut dilengkapi fasilitas olahraga, kolam renang, serta arena permainan dan fasilitas umum lain. Lokasi taman itu mudah dijangkau menggunakan angkutan umum seperti bus, trem, dan kereta bawah tanah. Karena itu, Victoria Park menjadi tempat asyik untuk berkongko-kongko. Bulan ini, Hongkong yang memiliki sekitar 100 ribu TKW asal Indonesia tersebut memasuki musim dingin. Suhu di negeri bekas koloni Inggris itu mencapai 14 derajat celsius. Saat malam lebih dingin. Meski mereka datang dari pelosok kampung, pakaian para TKW yang berkumpul di Victoria Park tersebut terlihat modis. Tak sedikit yang mengenakan rok mini berbahan denim dipadu stocking dan aksesori lain. Make-up wajah mereka pun tampak menor. Saat Hongkong memasuki musim panas, kata Tuminah, dandanan mereka lebih "wah". Rata-rata mereka mengenakan pakaian terbuka seperti tank top. "Maklum, sumuk (panas)," ujar wanita yang akrab dipanggil Ina itu. Kalaupun ada yang agak berbeda di Victoria Park kini, itu adalah makin banyaknya pemandangan hubungan sesama jenis alias lesbian di antara para TKW. Di taman seluas sekitar tiga kali lapangan sepak bola itu sekarang sangat mudah dijumpai fenomena lesbian. Banyak pasangan sejenis terlihat sangat cuek bermesraan di pojok-pojok taman. Mereka bahkan tidak malu (maaf) berciuman. Dandanan salah satu pasangan lesbian itu pun bak laki-laki. Rambut cepak disemir merah hingga melepas anting-anting. Bahkan, ketika diajak berkenalan, tidak sedikit yang mengganti nama panggilan mereka menjadi nama laki-laki. "Nama saya, Benny. Saya asal Blitar, Mas," ujarnya memperkenalkan diri dengan suara cempreng. Saat diminta memperlihatkan identitas aslinya, ternyata dia bernama Supeni. Supeni alias Benny yang meninggalkan seorang suami dan dua anak itu mengaku sudah 10 tahun bekerja di Hongkong menjadi pembantu rumah tangga. Dia tidak mau menjawab banyak pertanyaan mengapa dirinya sampai memilih menjadi lesbian. "Sudahlah, tak usah tanya macam-macam. Pokoknya, aku ingin bebas dan bersenang-senang," tegasnya. Sebelum bekerja di Hongkong, Supeni menjalani hidup normal sebagai wanita. Karena faktor ekonomi, dia harus mencari penghidupan ke Hongkong. Namun, kehidupan di Hongkong yang glamor ternyata mengubah sebagian gaya hidupnya. Entah mengapa kini dirinya larut dalam pergaulan lesbian tersebut. "Embuh, Mas. Nggak tahu kok jadi begini," katanya dengan tatapan kosong. Tidak hanya di Victoria Park. Maraknya pemandangan pasangan lesbian itu banyak ditemukan di tempat-tempat lain. Ketika Jawa Pos menyusuri sejumlah lokasi perbelanjaan, jalanan, dan warung-warung penjual makanan Indonesia, banyak ditemui pasangan lesbian. Padahal, beberapa tahun sebelumnya, fenomena tersebut memang sudah ada, tetapi tidak semarak belakangan ini. Meski begitu, banyak pula TKW yang tidak ikut larut dalam gaya hidup Hongkong. Mereka, antara lain, terlihat mengenakan busana muslimah. Pada hari libur, mereka memilih mengikuti pengajian serta kegiatan-kegiatan sosial keagamaan. Di Hongkong saat ini muncul puluhan organisasi yang banyak melakukan dakwah dan kegiatan sosial. Perkumpulan itu dibentuk oleh para TKW. Dalam kurun waktu tertentu, mereka rutin "mengimpor" dai dari Indonesia. Misalnya, yang dilakukan Lembaga Dakwah (LD) Azzahrah. Saat saya dan rombongan berada di Hongkong, mereka menyebarkan selebaran di sejumlah tempat. Salah satunya di Warung Malang yang hanya beberapa meter dari KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) di Hongkong. Isinya berupa pemberitahuan bahwa menyambut Idul Adha kali ini, mereka mendatangkan Ustad Abu Aqila. Acara pengajian diadakan di Masjid Jami' Tsim Sha Tsui, Nathan Road. Menurut Supriyatin, salah seorang aktivis LD Azzahra, lembaga tersebut pernah mengundang Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), Sulis, Agus Mustofa, Gus Nur, dan banyak lagi. Kegiatan tersebut setidaknya dilakukan untuk membentengi teman-teman. Sebab, kondisi saat ini sudah sangat memprihatinkan. "Coba saja kalau nanti Sampeyan berjalan-jalan, dandanan mereka bagaimana," ujarnya. Meski mayoritas penduduknya tidak beragama Islam, kegiatan-kegiatan di sejumlah masjid di Hongkong juga semarak. Misalnya, di Masjid Al Ammar di kawasan Wan Chai. Ketika Jawa Pos bertandang ke tempat ibadah itu, sedang diselenggarakan training mubalig oleh Lembaga Dompet Dhuafa. Kegiatan tersebut diikuti puluhan TKW. Mereka adalah utusan perkumpulan-perkumpulan dakwah tersebut. "Jumlah mubalig di sini kan terbatas, sehingga harus ada upaya mencetak mubalighoh. Merekalah yang akan meneruskan syiar agama kepada saudara-saudaranya," ujar Ustad Masyhud saat ditemui setelah memberikan training di Masjid Al Ammar. Menurut ustad asal Sidoarjo tersebut, keberadaan TKW di Hongkong perlu diperhatikan serius. Terutama oleh pemerintah RI maupun anggota DPR. Salah satu di antaranya mengenai makin maraknya fenomena lesbian dan pergaulan bebas. Masyhud mengungkapkan, fenomena itu disebabkan, antara lain, beban berat yang dirasakan para TKW. Saat berangkat mengadu nasib di Hongkong, rata-rata mereka meninggalkan suami, anak-anak, dan anggota keluarga. "Jadi, beban mereka sudah ada sebelum berangkat," jelasnya. Saat berada di Hongkong pun, kata dia, mereka mendapatkan tekanan jiwa karena kultur. "Misalnya, tinggal di rumah seperti ini (gedung-gedung tinggi, Red) kan seperti tinggal di penjara. Berbeda dari di kampung halaman mereka yang terbuka," ungkapnya. Selain itu, kata dia, ada persoalan psikologis hubungan dengan majikan maupun anggota keluarga di rumah yang ditinggalkan. Dari rumah, mereka ingin mengubah nasib. Tapi, mereka merasa seolah dieksploitasi keluarganya di kampung. Ada pula yang dikhianati suaminya. "Nah, karena beban-beban itu, mereka cenderung ingin melepaskan diri. Persoalan-persoalan semacam itu harus dilawan dengan pendekatan persuasif seperti memberikan pendidikan agama," katanya. Menurut dia, salah satu bentuk perhatian pemerintah RI yang harus segera dilakukan adalah mengirimkan tenaga pendidik atau ustad secara rutin. Selama ini, kegiatan itu menjadi beban perkumpulan para tenaga kerja. "Kontribusi mereka terhadap tanah air luar biasa. Bayangkan, jumlahnya lebih dari 100 ribu. Kalau setiap bulan rata-rata kiriman mereka Rp 1 juta saja, sebulan aliran uang ke Indonesia mencapai Rp 100 miliar. Dalam setahun lebih dari Rp 1 triliun," ujarnya. (*) [Non-text portions of this message have been removed]
