Pak Chodjim ini selalu membuat saya tersenyum-senyum. Sekarang saya tersenyum 
mikir mana yang duluan: telor dulu baru ayam, ato ayam dulu baru telor? meski 
hal ini gak bisa dihubungkan dengan hal yg lg diobrolin.

Saya pan terserah lah mana duluan yang perlu muncul. Meski menurut logika saya 
sih kudu pemimpin dulu yang muncul baru bisa menyadarkan umat. Begitu juga 
dengan contoh2 yang Bapak berikan. Dari seseorang yg bangkit "secara per 
orangan bangkit" inilah yang kemudian menjadi pemimpin. Termasuk contoh 
Rasulullah di jamannya. Kalo gak ada Rasulullah, jazirah arab gak bakal sadar 
dan gak bakal bangkit...:-)

Sekali lagi bangkitlah yang personal dan bangkitlah kesadaran umat.

Terimakasih buat wawasan pemikiran yang berbeda.

wassalam,



--- In [email protected], "Achmad Chodjim" <chod...@...> wrote:
>
> Anda jangan salah paham, Teh Lina.
> 
> Kita harus bertanya, apa yang disebut pemimpin itu? Kalau hanya mendasarkan 
> pemimpin dalam pengertian tradisional, maka Eropa atau Barat secara 
> keseluruhan tidak akan menjadi seperti sekarang.
> 
> Bangsa Eropa secara per orangan bangkit dulu kesadarannya, lalu 
> mengorganisasikan diri untuk membentuk pimpinan. Ingat, pemimpin 
> negara-negara Eropa itu sudah ada sejak era Yunani dan Romawi Kuna. Namun, 
> zaman pencerahan baru tumbuh pada abad ke-17. Jadi, kesadaran umat bangkit 
> terlebih dahulu, barulah mereka membangkitkan pimpinan yang dapat memenuhi 
> masyarakat sadar di Eropa.
> 
> Bangsa Jepang juga demikian. Semula selalu adu jotos para jendral atau para 
> shogun. Tetapi, setelah bangkit kesadaran secara per orangan dengan munculnya 
> aksi seni, aksi spiritual (seperti Zen), dan aksi-aksi lain yang bisa 
> diapresiasi, maka barulah muncul kepemimpinan yang mengarahkan Jepang ke era 
> kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Kalau pemimpinnya (kaisar) ya sudah ada 
> sejak 600 tahun sebelum masehi.
> 
> Lha, kalau kesadaran umat belum bangkit, yang terjadi adalah manipulasi 
> kepemimpinan. Dan, bila ini yang terjadi, ya isinya adalah perebutan 
> kekuasaan terus-menerus. Lihat pertumbuhan Islam di era Kanjeng Nabi Muhammad 
> saw, 13 tahun Nabi hanya berusaha membangkitkan kesadaran umat, dan baru di 
> Madinah beliau diakui sebagai pemimpin.
> 
> Hatur nuhun, Teh Lina.
> 
> Wassalam,
> 
> chodjim 
> 
>

Kirim email ke